Arkeologi Hunian Arsitektur Ruang Semesta

September 5, 2009

arkeologiAnutan nilai dan budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat kiranya dapat ditelusuri dari pola permukiman yang mereka bangun. Karena itu, mudah dipahami jika suatu pendekatan antropologi budaya, misalnya, bisa dikembangkan dari temuan-temuan arkeologi pada suatu masyarakat tertentu yang barangkali hidup beratus-ratus tahun sebelum sisa-sisa peradaban fisik tersebut ditemukan.

Permukiman–atau yang lebih luas lagi, arsitektur– secara sadar direncanakan untuk menopang penghidupan dan kehidupan manusia sehingga yang akan tecermin di dalamnya adalah suatu interaksi antara manusia dan lingkungan yang menjadi penopang kehidupan dan penghidupannya.

Jika kebudayaan kemudian bisa diartikan sebagai design for living (Bierstedt, 1970) atau rancangan guna menata kehidupan, arsitektur sebagai hasil interaksi antara manusia dan lingkungan kiranya dapat dipahami sebagai buah kebudayaan itu sendiri.

Dari pengantar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bermukim atau berarsitektur merupakan kegiatan khas manusia yang berkaitan erat dengan orientasi nilai dan budaya.

Oleh karena itu, tidak sulit untuk dipahami jika dalam masyarakat yang sangat menghargai ada keserasian hidup bersama. Misalnya dalam masyarakat tradisional Jawa, pola-pola permukiman yang dianut akan sedemikian terbuka dan mengundang. Karena itu, dalam rumah kaum bangsawan pun–yang konon cenderung teralianasi dari lingkungannya–masih bisa ditemukan adanya ruang-ruang terbuka berupa pendopo-pendopo dan pringgitan yang mengundang dan menunjang komunikasi dengan lingkungan semestanya.

Pola-pola demikian, meskipun terasa ideal bagi sebuah permukiman idaman, cenderung kurang disukai untuk diterapkan dalam masyarakat modern, terutama karena dianggap kurang menjanjikan privasi bagi penghuninya.

Karena itu, ketika Walter Gropius–arsitek dan tokoh pendidikan arsitektur modern–mengusulkan gagasan tentang ruang semesta, dengan ruang-ruang hunian diharapkan demikian terbuka, transparan, tanpa terdapat dinding, dalam lapangan praktik gagas itu kurang mendapat sambutan yang memadai. Alasannya, konsep ruang semesta Gropius dianggap tidak memerhatikan perilaku manusia yang cenderung memilih tempatnya sendiri di dalam bangunan yang akan memberikan perisai dan menjanjikan suasana yang berbeda dengan tempat yang lain. Itu berarti menghendaki dinding pembatas. Karena, dindinglah yang dipersepsikan manusia untuk menyatakan kehadiran dirinya dalam suatu tempat yang tetap.

Anutan-anutan demikian yang sungguh sangat berbeda dengan yang ada dalam masyarakat tradisional agaknya memperlihatkan bergesernya orientasi nilai dan budaya dalam masyarakat. Itu menarik untuk disimak.

Substansial masyarakat modern

Jika dalam masyarakat tradisional keberadaan individu dalam kelompoknya baru akan diakui bila individu tersebut mampu menyesuaikan dirinya terhadap kesepakatan-kesepakatan kelompok, proses yang terjadi dalam masyarakat modern justru sebaliknya.
Dalam masyarakat modern, sebuah individu baru akan diakui keberadaannya jika individu tersebut mampu memberikan peranan yang nyata bagi kelompoknya. Proses demikian akan mengakibatkan anggota masyarakat terbagi-bagi dalam berbagai peranan dan fungsi tertentu sehingga menghasilkan berubahnya sistem nilai yang lebih berorientasi pada pribadi-pribadi.

Berkembangnya dominasi peranan pribadi-pribadi secara terus-menerus akan membentuk landasan sendiri dan menganggap tidak perlu bersandar pada sesuatu di luar dirinya. Gejala demikian akan melahirkan budaya substansialisme yang cenderung mengadakan isolasi dan pemisahan. Manusia, dunia materi, dan nilai-nilai dipandang sebagai substansi-substansi yang bisa lepas satu sama lain (CA van Peursen).

Manusia berpendirian seolah dengan akal budinya ia dapat merangkum dan mengerti segala-galanya sehingga segala sesuatu dapat dimasukkan ke kotak-kotak tertentu dan manusia mengambil jarak terhadapnya.

Jika anutan nilai demikian hendak digali dari cara-cara kelompok masyarakat modern bermukim, itu jelas terlihat dari masih dominannya tuntutan persyaratan privasi mewarnai pola pemukimannya sehingga tanpa sadar menggeser kebutuhan komunikasi optimal dengan lingkungannya. Akibatnya, bentuk-bentuk arsitektur yang dianut cenderung hanya memberikan kesenangan pada pribadi–selera penghuni–, namun kehilangan konteks dalam lingkungannya yang lebih luas.

Meskipun kemajuan teknik perancangan telah mampu memanfaatkan sumber daya dan potensi lingkungan dalam arsitektur secara optimal, yang terjadi akhirnya justru sedikit sekali sumbangan yang diberikan karya arsitektur modern bagi kelayakan tata ruang semesta dan lingkungan.

Arsitektur modern menjadi semakin molek, namun kehilangan harmoni lingkungan. Ia mengucilkan penghuninya dalam batas-batas yang ketat dan lebih berorientasi pada kepentingan pribadi-pribadi.

Kekuatan

Atas adanya gejala di atas, agaknya diperlukan suatu pendekatan yang lebih berwawasan lingkungan. Pendekatan demikian lebih memberikan arti bagi arsitektur sebagai lingkungan binaan yang merupakan bagian dari lingkungan semesta yang luas.

Pendekatan baru itu hendak melihat interaksi arsitektur dan lingkungan tidak hanya sebagai usaha pemanfaatan sumber daya lingkungan bagi arsitektur belaka, namun lebih memerhatikan bagaimana karya arsitektur secara luas dapat memberikan sumbangan bagi terbentuknya tata ruang makro yang layak.

Dalam praktik perancangan, kesulitan yang terjadi adalah apa batas-batas pengendalian yang hendak dipakai agar pendekatan di atas terjamin kelangsungannya, mengingat keputusan akhir praktik perancangan dan sosial yang berlaku.

Jika dalam masyarakat tradisional batas-batas pengendalian demikian berada di tangan kesepakatan masyarakat itu sendiri, dalam masyarakat modern fungsi demikian tentu tidak bergeser dalam kewenangan lembaga tertentu. Itu berarti menjamah masalah-masalah hukum dan kesadaran hukum dalam masyarakat sendiri.

Pada akhirnya, masalah-masalah arsitektur menjadi melebar sedemikian luasnya dan menuntut kemampuan untuk mengatasi berbagai konflik yang terjadi. Perhatian terbesar adalah justru masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang memerlukan sumbangan dari berbagai disiplin ilmu.

Agaknya hal itu akan mengundang pembicaraan yang lebih luas. Hal demikian membuktikan arsitektur bukan karya dari pribadi-pribadi, melainkan lebih mencerminkan anutan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Orang bijak telah berkata, “Dari tahu rumahnya, kita kenal adatnya!”

Sumber : Media Indonesia

Silahkan download artikel diatas dalam bentuk format pdf [klik disini]


Temuan Ilmiah Modern: Amal Baik Membahagiakan

Juli 13, 2009

Mimpi Amerika terbukti membawa sengsara. Kini sebagian warga Amerika ogah bermimpi ala Amerika

Oleh: Syaefudin

Hidayatullah.com–Para ilmuwan dari Universitas Rochester, Amerika Serikat, telah meneliti 147 orang alumni dari dua perguruan tinggi. Para mantan mahasiswa itu dinilai segi kepuasan hidup mereka, harga diri, perasaan khawatir, tanda-tanda adanya perasaan terkekan (stres) pada raga, serta pengalaman kejiwaan yang baik dan buruk. Penelitian dilakukan dua kali, yakni tahun pertama dan kedua setelah kelulusan.

Penelitian yang dilakukan Christopher Niemic, Richard Ryan, dan Edward Deci ini mengelompokan pertanyaan menjadi dua bagian. Pertama, yang berhubungan dengan persahabatan yang erat dan langgeng, serta sikap menolong memperbaiki hidup orang lain. Bagian ini disebut aspirasi intrinsik, atau cita-cita yang bersumber dari dalam diri. Pengelompokan kedua berkaitan dengan keinginan menjadi seorang yang kaya dan mendapatkan pujian. Bagian terakhir ini digolongkan ke dalam aspirasi ekstrinsik, yakni cita-cita yang bersumber dari luar. Para peserta diminta menilai kedua jenis cita-cita tersebut. Mereka juga melaporkan sejauh mana mereka telah meraih tujuan itu.

Baca entri selengkapnya »


Mukjizat Bulan Terbelah Memang Pernah Terjadi

Juli 5, 2009

Belt of rocks observed in the moon surface, by Apollo mission

“Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan. (Q.S. Al-Qomar: 1)

Ayat di atas menjelaskan kejadian terbelahnya bulan (satelit bumi) sekitar tahun ke-5 Hijrah. Terbelah berati terpisah menjadi dua bagian. Peristiwa ini merupakn mukjizat Nabi Muhammad dalam memenuhi permintaan orang-orang Quraisy. Peristiwa ini dimuat dalam berbagai kitab hadis dan sirah nabawi dari penuturan sejumlah sahabat, di antaranya adalah Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas.

Peristiwa ini dibantah oleh orang-orang Barat karena dianggap sesuatau yang mustahil dan tidak logis; “Bagaimana mungkin benda-benda angkasa terbelah menjadi dua dan kemudian menyatu kembali sebagaimana yang kita lihat sekarang.”

Baca entri selengkapnya »


Gur-i-Amir Mausoleum, Samarkand Uzbekistan

Juni 26, 2009

 —  
Translate ke Bahasa Indonesia [ind_flag

gbr2

Timur built this celebrated monument as the resting place of his grandson and heir-presumptive Muhammad Sultan, who died in battle in 1403 at the age of 29. In 1405 Timur himself was interred here, and later so too were his sons Miranshah and Shah Rukh and grandson, Pir Muhammad. Timur’s spiritual advisor, Sayyid Barakah, also lies within. Ulugh Beg, who had established the tomb as the Timurid dynastic mausoleum and commissioned additions, was the last of the family to be placed within the crypt.

gbr1

The mausoleum was constructed on the southern side of a walled square courtyard already defined on two sides by a madrasa and khanaqah, no longer extant. Minarets marked each corner of the courtyard, two of which remain in part. The plan of the mausoleum forms a modified octagon on the exterior: a projecting entrance portal extends the northern side of the octagon, decreasing in length the two flanking sides. A bulbous ribbed dome on a tight high drum presents a monumental profile visible across the city.

gbr3

gbr4

The interior comprises a square chamber, a bay on each wall, a stairway in the southeast corner that leads to the cruciform crypt, an octagonal zone of transition and an unusually steep hemispheric dome. Vertical flanges linked with timber are concealed between the two shells of the dome, supported by the inner dome and providing structure for the outer dome; an invisible ‘column’ built on top of the center point of the inner dome terminates in angled timber prongs that also support the outer dome.

In 1424 Ulugh Beg added a corridor known as his ‘gallery’, entered through the eastern bay of the mausoleum. Four vaulted bays form the corridor, leading to a small vestibule accessed from the courtyard. In the seventeenth century construction of an iwan on the western side of the mausoleum commenced, but remained unfinished.

The exceptional interior decorative scheme employs luxurious materials and a wealth of techniques. Onyx hexagons form a dado, capped by a shallow cornice of marble muqarnas. Above this, a gold inscription band painted onto jasper encircles the mausoleum. Constituting one of the earliest examples of this technique, papier mache was employed extensively; the interior dome, the zone of transition and the muqarnas vaults of the four bays were all decorated with painted molded paper. Other areas were plastered and painted, or covered with a revetment of various materials.

The exterior decoration employs extensive hazarbaf brickwork. The dome is tiled in two tones of blue. Bands of tile inscriptions encircle the drum; a monumental kufic inscription of white and black tiles repeats “God is eternal”.

Sources:

Blair, S. and J. M. Bloom. 1994. The Art and Architecture of Islam. New Haven and London: Yale University Press, 41.

Brandenburg, D. 1972. Samarkand: Studien zur islamischen Baukunst in Uzbekistan (Zentralasien). Berlin: Bruno Hessling Verlag, 102-141.

Golombek, L. and D. Wilber, eds. 1988. The Timurid Architecture of Iran and Turan. Princeton: Princeton University Press, 260-263.

Michell, G. 1995. Architecture of the Islamic World. London: Thames and Hudson, 262.

“Guri Amir Mausoleum”. World Monuments Fund Panographies. http://www.world-heritage-tour.org/asia/uz/samarkand/guriAmirMausoleum_out.html  [Accessed February 2, 2006]

“Islamic Architectur” : http://www.islamic-architecture.info/WA-UZ/WA-UZ-001.htm

Translate ke Bahasa Indonesia [ind_flag]


Konstruksi Jembatan Utama Suramadu

Juni 13, 2009

 
Konstruksinya terdiri dari pondasi bored pile 2,4 meter dengan panjang sekitar 80 meter, 2 Pylon kembar dengan ketinggian 140 meter dan lantai komposit double plane yang ditopang oleh cable stayed dengan bentang 192 m + 434 m + 192 m. Ketinggian vertical bebas untuk navigasi bentang utama adalah 35 meter.

 Detail Segmen Main Bridge

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembagian Lajur Jalan

Lebar Jembatan = 2 x 15.0 m
Lajur kendaraan = 2 x 2 x 3.50 m
Lajur lambat (darurat) = 2 x 2.75 m
Kelandaian maksimum = 3%

Lajur kendaraan

  • Kendaraan roda 4 terdiri dari 4 lajur cepat dan 2 lajur darurat
  • Kendaraan roda 2 terdiri dari 2 lajur
        

Detail Pylon

Konstruksi Pylon bentang utama setinggi 146 meter, dengan menggunakan borepile berdiameter 2,4 meter dengan kedalaman 71 meter, Ketinggian vertikal bebas (untuk navigasi) bentang utama adalah 35 meter dari permukaan laut. 

Baca uraian disain dan perencanaan Konstruksi Jembatan Suramadu lebih detail [klik disini]