Gambaran Tsunami Gempa Kep. Mentawai

GDACS (Global Disaster Alert and Coordination System) Lambaga yang berada di bawah naungan PBB, menginformasikan kalkulasi  ketianggian tsunami akibat gempa pada malam hari taggal 25 Oktober 2010 yang baru lalu yang berkekuatan 7,2 SR adalah berkisar dengan ketinggian 2 hingga 7 meter, perhatikan gambar animiminasi gelombang tsunami dibawah ini :

Pulau-pulau lainnya di sekitar Bengkulu, dari perkiraan GDACS saat itu juga telah terjadi tsunami dengan ketinggian 1 sampai 2 meter seperti Muko-muko, Lubuksahang, Airrami, dan lainnya. Sedangkan pantai Kota Padang, Pesisir Selatan, Pariaman, Padangpariaman dan Pasaman dalam kalkulasi itu, tidak ada yang terkena dampaknya, tapi menurut laporan hanya terjadi setinggi 0,3 meter.

Apakah benar menurut analisa bahwa pusat gempa yang terjadi terdapat di laut lepas sebelah barat kepulauan Mentawai yang berpotensi tsunami itu tidak akan menembus ke pantai Padang karena terlindungi oleh Kepulauan Mentawai ? [lihat peta Googlemaps, klik disini ] atau [peta Google Earth, klik disini]

Dan apabila pusat gempa terdapat di laut antara Kepulauan Mentawai dengan pulau Sumatera tidak berpotensi tsunami karena kedalaman air laut tidak terlalu dalam seperti di laut luar Kepulauan Mentawai, dan dengan memperhatikan gempa yang telah terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September2009. yang berpusat di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang, lihat peta diatas [atau klik disini] dan [disini] memang tidak terjadi tsunami, wallahu aklamu bisshawab.

Sumber : GDACS (Global Disaster Alert and Coordination System)

Catatan:

  • Silahkan download gambar animasi tsb diatas agar dapat dijalankan dengan baik (offline) bagi koneksi internetnya lambat [klik disini]
  • Baca juga artikel “Pedoman Praktis Pembangunan Gedung Tahan Gempa” [klik disini]
  • Baca juga jurnal dengan judul  “Sourceparameters of the great Sumatran megathrust earthquakes of 1797 and 1833 inferred from coral microatolls” (By: Danny Hilman Natawidjaja, Kerry Sieh, Mohamed Chlieh, John Galetzka, Bambang W. Suwargadi, Hai Cheng, R.Lawrence Edwards, Jean-Philippe Avouac, and Steven N.Ward [baca online klik disini] [download versi pdf klik disini] [download versi zip klik disini]
  • Baca juga jurnal “Kaitan antara karakteristik pantai Provinsi Sumatera Barat dengan potensi kerawanan tsunami (Oleh:
    Yudhicara – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Jl. Diponegoro 57 Bandung)” [baca online klik disini] [download versi pdf klik disini]

12 Balasan ke Gambaran Tsunami Gempa Kep. Mentawai

  1. xmoensen mengatakan:

    thanks infonya, sangat berguna sekali

  2. zulfikri mengatakan:

    Thanks juga atas kunjungannya, please share..!

  3. M U S I B A H

    Drs. H. Athor Subroto, M. Si

    Lazimnya, manusia tidak suka tertimpa musibah. Karena, ini adalah sesuatu yang menyedihkan, menyusahkan, menyempitkan dada, menyesakkan nafas, susah tidur dan membuat isak tangis berkepanjangan. Bisa sebab kecelakaan, kehilangan, tidak lulus, ditinggal kekasih yang pernah berjanji setia, anak nakal dan masih banyak lagi. Manusia tak ada yang bebas dari itu.

    Musibah, bisa menimpa siapa saja. Bisa menimpa rakyat ataupun pejabat. Orang miskin ataupun kaya. Orang sakit maupun sehat. Orang salah maupun benar. Orang baik maupun jahat. Orang melanggar maupun konsis. Orang sedang diam maupun berusaha. Orang malas maupun giat. Bisa Lawan maupun kawan. Orang sedang terancam maupun sekarang aman – lalu berkata “aku ini lho yang tidak pernah kena musibah”. Bisa terjadi besuk dan bisa sekarang. Bisa terjadi di sana maupun di sini.

    Singkatnya, musibah itu bisa menimpa kepada siapa saja, kapan saja, dan di manapun saja berada. Di benteng yang kuat sekalipun – musibah yang paling ditakuti bisa pula terjadi. Mari kita perhatian peringatan Allah di dalam al Qur’an: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. An-Nisaa’[4]: 78).

    Memang, tidak ada manusia yang menginginkan dirinya kena musibah. Namun, bila Allah menghendaki, maka semuanya akan bisa terjadi. Sebab, apa saja yang ada di muka bumi dan di kolong langit – terjadi atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Firman Allah Swt : “…kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah[5]:17).

    Kita perlu pengetahuan yang cukup tentang konsepsi musibah. Dengan pengetahuan yang baik secara Qur’ani – akan sangat membantu di saat menghadapi musibah yang menimpa. Kita tidak mudah kagetan. Tidak mudah gumunan. Dan, tidak mudah putus asa bin frustrasi.
    Kalau hidup tidak memiliki pengetahuan extra tentang musibah, bisa menderita berkepanjangan. Mengapa ini terjadi pada diri saya? Mengapa saya mengalami penderitaan seperti ini? Mengapa ini terjadi bertubi-tubi? Mengapa ini tidak henti-henti ? Sederet pertanyaan seperti ini – dirasakan setiap hari. Lalu susah makan dan tidur. Kemana saja pergi- tak pernah bisa konsentrasi. Timbul rasa kuwatir, ragu dan takut di dalam diri. Kehilangan nyali. Wajah menjadi ciut. Karena kehilangan sesuatu yang pernah menjadi andalan dan kebanggaan dalam hidupnya. Kasihan.

    Musibah menurut Al Qur’an dan Hadits paling sedikit mempunyai 3 dimensi:

    Pertama, sebagai peringatan dari Allah. Ini terjadi akibat pelanggaran yang dilakukan umat manusia pada aturan Allah SWT. Fikiran dan tangannya jahil. Suka mengganggu dan merusak lingkungan hidup. Tidak adil dikala berkuasa. Tidak menaruh kasih kasih sayang diantara sesama, dan masih banyak lagi. Hal ini disebut sebagai hukum sebab akibat. Firman Allah Swt: “ …musibah apa saja yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatanmu sendiri…” (QS. Assyuura [42]:30).

    Kerusakan apa saja yang terjadi di muka bumi adalah akibat perbuatan manusia. Bisa karena tidak mau mengikuti aturan yang ada. Baik itu aturan Allah Swt maupun aturan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Padahal dua aturan itu dibuat – tidak lain kecuali untuk kemaslahatan umat, baik di dunia maupun di akhirat.

    Apabila ketentuan-ketentuan itu dipatuhi dengan baik, maka kehidupannya akan mendapatkan kebaikan pula. Hidup akan lebih teratur. Hubungan manusia dengan sesama dan makhluk lainnya akan terasa lebih indah. Air turun dari langit menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan. Gunung-gunung terasa lebih mengokohkan existensi bumi. Gelombang lautan, memberikan berbagai tawaran kehidupan yang menjanjikan. Langit biru, memberikan keteduhan bagi setiap insan. Angin sepoi-poi basah, menebarkan udara segar bagi yang memerlukan.

    Tidak malah sebaliknya. Gunung-gunung memuntahkan isi perutnya yang mematikan. Lautan, meluapkan air dahsyatnya yang menghancurkan. Angin, menjadi puting beliung, datang tiba-tiba sekencang-kencangnya mengakibatkan kehancuran. Hujan, turun deras – menimbulkan banjir bandang yang menghayutkan. Bumi, mengeluarkan lumpur-panas dari perutnya – yang menyingkirkan permukiman. Kereta api, sebagai sarana transportasi – malah sering anjlok dan bertabrakan. Pesawat udara yang bebas hambatan, juga tak jarang terjadi kecelakaan. Kapal laut yang dirancang sedemikian rupa, juga masih sering terbakar dan tenggelam. Semua itu – sebagai musibah yang menelan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit jumlahnya. Dan, itu merupakan hukuman Allah Yang Maha keras siksanya bagi umat yang ingkar.

    Datangnya musibah bisa tiba-tiba, tidak dapat diprediksi sebelumnya. Termasuk Gunung Merapi. Allah Swt berfirman: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (QS. Al-An’aam [6]:44).

    Di saat umat manusia sudah melupakan peringatan Allah Swt, saat itu justeru dibukakan berbagai pintu untuk mendapatkan kesenangan lahiriyah yang diinginkan. Mereka berfoya-foya – memuaskan hawa nafsunya. Ada yang pergi ke diskotik, tempat hiburan dan taman-taman wisata yang beraroma maksiat. Mereka menuruti dorongan hawa nafsu, dan lalu melupakan Tuhannya. Di saat demikian itu – tiba-tiba diturunkan musibah melalui angin puting beliung, gunung-gunung meletus, hujan amat deras, banjir bandang, kebakaran hutan dan fasilitas lain, tsunami dan gempa yang tak terkendalikan.

    Kini Indonesia menangis. Sayup-sayup terdengar suara tangis di malam hari – membuat bulu kuduk merinding dan berdiri…”Kulihat Ibu Pertiwi, sedang menangis bersedih hati. Tua muda terbirit berlari-lari, takut dahsyatnya gunung Merapi dan Mentawai”.

    Jawa Pos, 6 November 2010 menulis, “Letusan Merapi terdahsyat dalam seabad. Awan Panas Merapi menghanguskan tiga desa, 80 orang tewas. Wedhus Gembel datang penuh kejutan. Letusan vertical setinggi 9 kilometer dari puncak Merapi, letusan terbesar dalam 140 tahun. Hujan abu dan pasir terdapat di kawasan Jogjakarta serta Magelang. Abu Merapi bahkan terasa hingga Bandung dan Bogor. Luncuran wedhus gembel kearah selatan sejauh 20 kilometer. Tiga dusun di Desa Argomulyo, Cangkringan dan Sleman hangus karena diterjang awan panas. Puluhan warga tewas”.

    Dalam koran yang sama terbitan 7 November 2010 halaman pertama ditulis: “Jateng – Jogja Jadi Kota Pengungsi. Merapi masih mencekam. 64 Desa di Sleman mati. Sejumlah maskapai sudah kalang kabut menghadapi abu vulkanis letusan Gunung Merapi yang mulai masuk Kota Jakarta”.

    Begitu digambarkan dahsyatnya letusan Gunung Merapi. Saat itu, suami terpisah dengan isterinya. Saat itu, isteri terlepas dari suaminya. Saat itu, bapak dan ibu lupa pada anak cucunya. Saat itu, harta benda ditinggalkan dengan berlari kencang. Saat itu, masing-masing mencari keselamatan diri sendiri. Saat itu, hanya ingat yang satu. Ya Allah … Tuhan-ku…di mana Engkau…selamatkanlah aku dan keluargaku.

    Sebuah TV swasta memberitakan pada 8 November, enam orang relawan gugur dalam menjalankan tugasnya diterjang oleh lahar panas Merapi yang mencapai 800 derajat Celsius. Tragisnya, salah seorang dari mereka – baru saja menikah dan meninggalkan isteri yang sedang mengandung tiga bulan.

    Dahsyatnya Merapi, bagaikan kiamat shughra (kecil) yang mencekam dan menakutkan. Sekaligus, mematikan. Dan, nanti pada saatnya – akan disusul kiamat kubra (besar, sesungguhnya). Entah kapan itu terjadi. Apakah tahun 2012, 2025 atau besuk. Tak ada yang bisa tahu, kecuali Sang Khaliq. Tapi, kedatangannya adalah sebuah kepastian. Lebih dahsyat lagi daripada dahsyatnya Merapi. Lebih ganas lagi daripada ganasnya tsunami Mentawai. Lebih menghancurkan lagi daripada banjir bandang Wasior yang tak ada bangunan berdiri. Bumi digulung. Langit dilipat. Itulah kiamat.

    Pertanyaannya, apakah musibah Merapi dan kawan-kawannya itu termasuk dimensi adzab dan hukuman Allah ? Wallahu a’lam. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Manusia tidak berhak menjustisi hal itu.
    Menurut catatan, berbagai musibah di tanah air itu tanggalnya hampir bersamaan, yaitu 26. Gunung Krakatau meletus 26 Agustus 1883, diperkirakan 36.000 orang tewas. Tsunami di Aceh 26 Desember 2004, kurang lebih 350.000 orang meninggal. Gempa Jogja 26 Mei 2006. Gempa Tasik 26 Juni 2010. Tsunami dan gempa Mentawai 26 Oktober 2010. Merapi meletus 26 Oktober 2010. Lalu, ada sementara yang mengait-ngaitkan tanggal 26 itu dengan surat ke 26 dalam Al- Qur’anul Karim. Yaitu Surat Asyu’araa’.

    Surat ini terdiri dari 227 ayat. Assyu’araa’ artinya para penyair. Sifat mereka jauh dengan sifat-sifat para rasul. Mereka diikuti oleh orang-orang sesat. Mereka pembual. Suka memutarbalikkan fakta demi kepentingan sesaat. Tidak mempunyai pendirian. Suka memutar lidah. Perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.
    Isi pokok surat ini, jaminan Allah akan kemenangan para rasul-rasul-Nya. Keharusan menegakkan keadilan (walau kepada koleganya sendiri). Kisah-kisah diadzabnya kaum yang menentang Allah. Seperti Fir’aun dan bala tentaranya di telan laut Merah. Umat Nabi Nuh as ludes – dilanda banjir bandang yang dahsyat. Juga kaumnya Nabi Shaleh as, yaitu Tsamud. Kaum Nabi Hud as, kaum Aad. Kaumnya Nabi Luth as yang diadzab dengan hujan batu, kerikil dan debu.

    Dalam sejarah juga disebutkan, perisitiwa-peristiwa besar yang bermuatan adzab itu terjadi pada tanggal 10 Muharram. Dalam bahasa Arab, tanggal 10 itu disebut “Asyura”. Artinya, hari kesepuluh. Orang Jawa bilang, “Sura”. Bahkan ada juga yang mengait-ngaitkan bulan Sura dengan datangnya beglebuk. Sebutan wabah penyakit bagi orang Jawa. Lalu sebagian kaum pada bulan Sura itu berusaha membersihkan diri secara fisik maupun non fisik.

    Jadi, ya sah-sah saja andaikata ada yang mengait-ngaitkan berbagai musibah besar yang terjadi akhir-akhir ini dengan adzab dari Allah kepada kaum yang menentang dan melanggar aturan-Nya.
    Kapasitas kita sebagai manusia yang menyandang predikat lemah dan khilaf serta ilmu terbatas. Memandang musibah Merapi dan kawan-kawannya itu sebagai peringatan untuk segera kembali kepada Tuhan. Membersihkan diri, beristighfar dan Taubatan Nasional. Tak perlu saling menyalahkan. Tak perlu saling menuding. Kita semua adalah makhluk yang lemah, salah dan kurang. Lalu taubat bersama-sama. Saling membantu sesuai kapasitas kita masing-masing.

    Kedua, sebagai penghapus dosa. Siapa di antara manusia yang berani bersumpah bahwa dirinya tidak pernah berbuat salah. Tidak punya dosa. Tidak pernah menfitnah. Tidak pernah ghibah, membicarakan perihal orang lain. Sebagai catatan saja, menurut Nabi Saw, ghibah, tidak diampuni oleh Allah – sebelum dimaafkan oleh orang yang dibicarakan itu. Jadi, bisa terbawa mati dan mesti dipertanggungjawabkan di sana nanti.

    Siapa di antara kita yang berani bersumpah bahwa dirinya akan selamat dari siksa api neraka. Jawabnya, tentu tidak ada. Tidak ada yang berani bersumpah. Mengapa? Selama kita ini masih berpredikat manusia, selama itu pula kita memiliki khilaf yang mendatangkan dosa. Mari kita ingat sabda Rasulullah Saw:

    كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ (رواه الترمذى)

    “…Semua anak Adam bersalah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

    Hadits Nabi Saw ini, memberikan motifasi kepada kita, untuk memiliki kesadaran yang tinggi bahwa diri kita adalah hamba-hamba yang memikul dosa. Dan kita didorong untuk segera menyelesaikan semua urusan yang belum terselesaikan – baik kepada Allah Swt maupun kepada sesama manusia. Jangan sampai dibawa mati. Selesaikan sekarang ini juga. Amat panjang urusannya nanti, kalau dosa-dosa itu sampai terbawa di alam sana nanti. Bisa jadi, mengakibatkan diri kita tergolong orang yang musflis. Yaitu, orang yang pahalanya sama sekali habis. Bahkan, mungkin bisa berubah memikul dosa-dosa orang yang pernah didlalimi di dunia dulu. Lalu, muflis itu – dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. Siksa yang amat pedih, dan tak tertolong lagi oleh siapapun. Sungguh menakutkan. Na’udzu billahi min dzalaki.

    Namun, musibah yang berdimensi kedua ini, mendatangkan makna yang sungguh luar biasa. Ia dapat menghapus atau setidaknya mengurangi dosa-dosa yang pernah dilakukan selama ini. Tentu, harus dengan hati yang ikhlas menerima musibah yang menimpanya itu. Sehingga dengan demikian di akhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungkan lagi karena hukumannya sudah ditunaikan Allah di dunia. Posisi musibah dimensi ini – sebagai penebus dosa. Sabda Rasulullah SAW:

    إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذى)

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka didahulukan baginya hukuman di dunia (berupa musibah dan kesusahan agar terhapus dosa-dosanya) dan apabila Dia menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Dia akan menahan darinya (membiarkannya) dengan dosa-dosanya sehingga (dosa-dosa tersebut) dibalas pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi).

    Ketiga, sebagai ujian. Musibah dimensi ketiga ini bertujuan untuk kenaikan derajat di mata Allah SWT. Para nabi dan utusan Nya, semuanya mendapat musibah model ini. Nabi Ibrahim as dibakar oleh raja Namruj yang egois itu. Juga Nabi Ibrahim as diperintah menyembelih anak kesayangannya. Nabi Yusuf as, dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri. Nabi Yusuf as juga dijebloskan dalam penjara oleh penguasa Mesir yang lalim itu. Nabi Musa as dikejar-kejar Fir’aun dan bala tentaranya untuk dibunuh. Nabi Isa as diburu kaumnya untuk disalib. Nabi Muhammad Saw diancam dan diperangi kaum kafir dan Jahiliyah untuk dihabisi. Begitu juga orang-orang sholih yang hidup di belakang para utusan Allah itu. Musibah yang mereka terima – di samping penghapus dosa juga meningkatkan derajat mereka. Sehingga posisinya di hadapan Allah Swt dan di pandangan manusia lebih tinggi dibanding lainnya.

    Sabda Rasulullah Saw yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya orang-orang shalih akan diperberat (musibah) atas mereka. Dan tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah, seperti tertusuk duri atau lebih ringan dari itu, kecuali akan dihapuskan dosa-dosanya dan akan ditingkatkan derajatnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, al Hakim dan Baihaqi).

    Pada hahikatnya, semua ketentuan yang ditetapkan Allah kepada kita, termasuk musibah, tidak ada yang buruk. Masalahnya adalah – mampu atau tidak kita menangkap hikmah di balik musibah itu. Orang yang mampu menangkap ketentuan yang ditetapkan Allah baginya, akan beruntung; sedangkan sebaliknya, akan merugi. Hal ini dapat diibaratkan dengan permisalan berikut: ”Apalah artinya pena dari emas bagi orang yang tidak bisa menulis; atau apalah gunanya buku bermutu diberikan kepada orang yang tidak membaca. Pena dari emas dan buku bermutu itu, niscaya baginya hanyalah merupakan beban saja, karena ia harus menyimpan dan merawatnya.

    Seorang ahli hikmah berkata, “Ketika Allah memberi nikmat, maka akan terasa olehmu kebaikan-kebaikan-Nya. Dan ketika Allah memberimu musibah, sebenarnya Ia ingin memberimu hikmah.” Menurutnya, demikian cara Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada manusia, yaitu makhluq yang diciptakan-Nya paling sempurna dibandingkan dengan makhluq-makhluq ciptaan-Nya yang lain.

    Albert Einstein, seorang ilmuan jenius terkemuka, setelah bergelut dengan penelitian-penelitian ilmiah tentang alam raya ini menyampaikan kesimpulannya,”…Tuhan menetapkan, tapi Dia tidak kejam !” Maksudnya, Tuhan bisa menurunkan musibah apa saja. Namun, tidak akan menghabisi. Kasih sayang-Nya masih lebih besar daripada murka-Nya.

    Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sebaik-baik sikap dalam menghadapi musibah itu memang tidak ada cara lain selain dari istighfar, sabar dan berserah diri. Jangan dilupakan janji-janji Allah berikut ini: “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”. (QS. Fusshilat [41]:46)

    Ditegaskan lagi oleh Allah Swt di dalam Al Qur’an artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Alam Nasyrah [94]:5-6).
    Apabila musibah menimpa diri kita, seyogyanya kita ucapkan kata-kata yang baik dan memanjatkan doa keselamatan. Rasulullah Saw telah memberikan tuntunan kepada umatnya sebagai berikut:

    قَالَ إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيبَةٌ فَلْيَقُلْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ عِنْدَكَ احْتَسَبْتُ مُصِيبَتِي فَأْجُرْنِي فِيهَا وَأَبْدِلْنِي مِنْهَا خَيْرًا (رواه الترمذى)

    “Apabila musibah menimpa kepada salah seorang di antara kamu, maka katakan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Allahumma ‘indaka ihtasabtu mushiibatii fa’jurnii fiihaa wa abdilnii minhaa khairan”. (Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, di tangan-Mu perhitungan musibah yang Engkau berikan kepadaku. Maka, selamatkanlah aku di dalamnya. Dan berilah ganti untuk-ku dari padanya sesuatu yang lebih baik). (HR. Tirmidzi)

    Nabi Ya’qub as disaat tertimpa musibah, hilangnya Yusuf as – beliau menyatakan dengan kalimat yang indah. Menunjukkan kepasrahan kepada Allah Swt. Disebutkan di dalam Al-Qur’anul Karim: “(Ya’qub berkata): Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”(QS. Yusuf [12]:86).

    Makna dari tuntunan tadi adalah – suatu bentuk pernyataan kepasrahan secara total kepada Sang Khaliq atas musibah yang ditimpakan kepada mereka. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah pula. Tidak ada dari sepotong anggota tubuh kita – yang perlu dipertahankan – apabila dikehendaki Sang Pemiliknya. Jangankan hanya sepotong anggota tubuh, seluruh tubuh dan nyawa serta semua harta bendapun – jika dikehendaki – kita serahkan kepada-Nya dengan suka rela.

    Dengan totalitas kepasrahan seperti ini, secara psikis menjadi tenang. Tidak ada beban sama sekali. Itulah namanya sikap tawakkal secara total. Allah Swt yang akan mengatur segalanya. Dan, aturan Allah adalah pilihan yang terbaik untuk kita. Tawakkal dan keyakinan seperti ini perlu kita miliki – sekarang juga.

    Seorang ahli hikmah berkata: Banyak kenikmatan yang dilipat di antara taring-taring bencana. Banyak kegembiraan yang menghadap arah di mana di sana beberapa musibah telah menanti. Maka bersabarlah atas beberapa ujian yang terjadi pada masa-masamu, karena segala sesuatu ada akibatnya. Setiap kesusahan itu ada kegembiraannya.

    Dari berbagai musibah yang terjadi bertubi-tibi di negeri ini, kita sikapi sebagai suatu peringatan keras dari Allah Penguasa alam semesta – untuk taubatan nasional, segera kembali kepada petunjuk-Nya, menanggalkan ego masing-masing, saling menolong, saling mencintai, mendengarkan suara kaum lemah, jujur dan adil walau kepada kolega sendiri. Insya Allah adzab-pun berhenti. Semoga. Wallahu a’lam bi al shawab.

  4. Menyambut Tahun Baru 1432 H
    Bagaimana Hari Esok ?

    Drs. H. Athor Subroto, M. Si

    Seperti biasa, matahari terbit di waktu pagi lalu terbenam di senja hari. Namun, ada pertanyaan baru yang patut untuk kita renungi, “Apa yang telah kita kerjakan untuk mengisi hari itu?” Berapa banyak hari yang berlalu. Berapa banyak umur telah kita lewati. Sedikit di antara kita yang menghitung diri, menjinakkan nafsu dengan muhasabah (perhitungan). Bahkan kebanyakan kita membiarkan hari-harinya lewat bbegitu saja – tenggelam di dalam lautan kelalaian dan gelombang panjang dangan angan-angan.

    Ketika fajar menyingsing, banyak di antara umat manusia yang menyambut dengan niat yang tidak lurus. Setelah sehari terlewatkan, kembali menuju tempat tidur masing-masing dengan niat yang tiada beda pula dengan hari kemarin. Seorang bijak ditanya, “Dengan niat apakah seseorang bangun dari tempat tidurnya? Maka dia menjawab, “Jangan kau tanya tentang bangunnya dulu, sehingga diketahui bagaimana dia itu (berniat) tidur. Barangsiapa yang tidak tahu bagaimana dia (niat) tidur, maka tidak tahu pula bagaimana dia bangun”.

    Wahai saudaraku, mari kita perhatikan matahari yang terbit dan tenggelam. Sudahkah kita renungkan hari yang kita lalui? Mari kita tanya, apa yang sudah kita persembahkan untuk kebaikan. Apakah yang kita perbuat ini untuk menyambut hari-hari kita? Amat banyak anak Adam yang tidak memiliki perhatian terhadap berlalunya waktu. Padahal nafas kita adalah sesuatu yang dihitung dan ditulis.

    “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, Kitab apakah Ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (Al-Kahfi:49)

    Dan juga firman Allah SWT, artinya:
    “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Infithar:10-12)

    Nafas-nafas terhitung, amal-amal tertulis. Andaikan orang-orang yang lalai mau memikirkan ini semua, tentu akan hati-hati terhadap diri sendiri. Akan manahan diri dari jalan yang menyimpang. Kondisi seperti ini perlu diciptakan dalam diri kita. Sehingga mendapat bimbingan dari Allah Swt.

    Seorang bijak berkata, “Ketika pagi hari, maka selayaknya seseorang berniat untuk empat hal: Pertama melaksanakan apa yang diwajibkan Allah atasnya; Kedua, menjauhi apa saja yang Dia larang; Ketiga berlaku adil antara dirinya dengan orang lain yang ada hubungan muamalah; Keempat memperbaiki hubungan (ishlah) dengan orang yang memusuhinya. Jika dia menyongsong pagi dengan niat-niat ini, maka aku berharap dia termasuk orang shalih yang beruntung”.

    Wahai Saudaraku! Untaian kalimat tadi – memuat berbagai macam pintu kebaikan. Maka orang yang melakukannya berarti telah mendapatkan taufiq dan bimbingan untuk meniti jalan yang benar. Mari kita renungkan, apakah diri kita termasuk orang-yang demikian? Jika jawabannya “iya” maka perbanyaklah memuji Allah Ta’ala. Memohon tambahan dari keutamaan-Nya dan ketetapan hati untuk menetapi hal itu. Jika jawabannya “tidak” atau “belum”, maka lihat dan koreksi kembali diri kita sebelum hilang seluruh kesempatan. Bersegera memperbaiki segala urusan, mohon kepada Allah – taufiq untuk dapat menempuh jalan kesuksesan.

    Jangan kita keluar dari rumah di pagi hari, kecuali untuk sesuatu kebaikan yang diridhai oleh Allah. Sungguh merugi, sungguh celaka mereka yang melewati hari-harinya dengan sia-sia. Bukan dengan melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Ketika matahari bersinar di siang hari, mereka melewati dengan kemaksiatan. Dan, ketika dia terbenam, mereka mengakhiri hari itu dengan kemaksiatan pula. Hari kita adalah umur kita. Jika telah lewat sehari, maka semakin dekat jalan kematian yang akan kita tuju. Dan bila maut benar-benar telah datang, maka habis sudah hari kita itu. Tidak tahu, besuk atau bahkan nanti datangnya kematian itu.

    Dawud ath-Tha’i Rahimahullaah juga mengatakan, “Malam dan siang tak lain hanya sekedar perjalanan yang pasti dilewati oleh seluruh manusia. Sehingga hari-hari itu habis mereka lewati sampai akhir perjalanan. Jika engkau mampu menyiapkan bekal pada setiap harinya untuk perjalanan yang akan datang (akhirat), maka lakukan itu. Karena terputusnya perjalanan sudah dekat, sedang urusan (datangnya) lebih cepat dari itu. Berbekallah untuk perjalananmu, dan selesaikan urusan yang dapat kau selesaikan. Seakan-akan urusan itu selalu mengagetkanmu.”

    Demikianlah orang sholeh memahami betapa berartinya waktu dan umur. Mereka berusaha sekuat tenaga menghabiskan hari-harinya di dalam ketaatan kepada Allah. Maka sepantasnya setiap orang yang berakal menghitung dirinya, lalu mengarahkannya menuju jalan ketaatan. Demikian setiap hari ketika menyambut pagi hari yang baru. Lebih-lebih dalam memasuki tahun baru. Ketika menuju pembaringan di malam hari, hendaknya mengulang lagi muhasabah itu dan terus bertanya kepada dirinya sendiri.

    Al-Mawardi Rahimahullah memberitahukan kepada kita, bagaimana cara melakukan muhasabah; Yaitu dengan melihat kembali pada waktu malam – lembaran yang telah dilewati sepanjang siang hari. Karena waktu malam lebih dapat mengingat apa yang terlintas dalam benak. Lebih berkonsentrasi dalam berfikir. Jika yang telah dilalui adalah terpuji, maka biarkan dia lewat, lalu ikuti dengan yang serupa dan sebanding dengannya. Jika merupakan perbuatan tercela, maka susul dengan kebaikan, dan berhentilah dari perbuatan seperti itu di hari yang akan datang.

    Ibnu Umar Radhiallaahu anhu ketika beliau ketinggalan shalat berjama’ah suatu malam, kemudian terlambat shalat Maghrib pada suatu petang, sehingga bintang-bintang sudah tampak, maka beliau menebus dengan memerdekakan dua budak. Berapa nilainya dua budak itu. Kalau satu budak mislanya senilai seekor unta, maka beliau mengeluarkan dua unta. Kalau sayu unta senilai tujuh juta rupiah, maka dua unta senilai empat belas juta rupiah. Ini sebagai pengganti satu ketinggalan shalat berjamaah dan terlambat shalat maghrab. Begitu tingginya nilai yang harus dibayarkan untuk menggantinya.

    Subhanallah. Bagaimana penyesalan diri kita kalau tertinggal berjamaah dan terlambat shalat ? Adakah penyesalan yang setinggi itu?
    Telah berkata Sa’id bin Jubair, “Seluruh hari yang dilalui oleh seorang mukmin adalah ghanimah (harta rampasan)”. Dan itu benar, bahwa seluruh hari-hari kita adalah ghanimah. Ia merupakan kesempatan emas untuk berbekal dengan kebaikan. Menumpuk berbagai amal shaleh. Kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Namun tidak terlalu banyak orang yang mau memahami dan mengambil manfaat dari hari-hari mereka.

    Anda akan melihat sebagian besar manusia terlena berjam-jam dalam setiap hari. Mereka bahkan terlena pada sebagian besar hari-hari yang begitu banyak. Maka berlalu hari demi hari. Umur pun semakin habis. Mereka tetap dalam kelalaian. Dunia dan segala angan-angan telah membuat mereka terbuai. Kemewahan dan kemegahan menghalangi mereka dari jalan yang lurus. Syaitan terus mengulurkan tali angan-angan yang penjang tanpa batas. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan
    memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad, 47:25)

    Berkata al-Hasan al Bashri, “Syaitan menghiasi di mata mereka berbagai macam dosa, lalu mengulur-ulur mereka di dalam angan-angan yang panjang.”

    Berkata pula Al Hafizh Ibnu Hajar, “Panjang angan-angan akan melahirkan rasa malas mengerjakan ketaatan, menunda-nunda taubat, cinta dunia, melupakan akhirat serta kerasnya hati. Kelembutan dan kebeningan hati, hanya akan diraih dengan mengingat mati, kubur, pahala, siksa serta huru-hara di Hari Kiamat. Sebagaimana difirmankan Allah Subhannahu wa Ta’ala, artinya;

    “Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.” (QS. Al-Hadid, 57:16)

    Manusia yang berakal adalah dia yang menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk akhirat. Menanam dan menyirami dengan berbagai amal shaleh agar dapat memetik buahnya kelak di akhirat. Hari itu, manusia tidak mendapatkan apa-apa kecuali apa yang telah diperbuatnya berupa kebaikan maupun keburukan.

    Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, “Segera kalian susul dengan amal (shalih) berbagai fitnah, seperti potongan malam yang gulita. Seseorang beriman di pagi hari lalu kafir di sore hari, atau beriman di sore hari dan menjadi kafir di pagi hari.”

    Wahai saudaraku, apa yang telah kita persiapkan untuk menyambut suatu hari, di saat kita sendirian di dalam kubur. Apakah selama ini kita termasuk orang yang terlena dengan angan-angan yang panjang. Ataukah termasuk orang yang menggunakan bashirah (pandangan yang jernih) yang beramal untuk hari esok? Kita hendaknya bersikap dinamis. Ada maqalah, man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, man kana yaumuhu sawaan min amsihi fahuwa maghbunun, man kana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa mal’unun. Barangsiapa hari ini lebih baik dari pada kemarin, dia beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan kemarin, dia tertipu. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari pada kemarin, dia terlaknat.

    Maka segeralah berintrospeksi, menghitung diri. Karena dunia adalah Darul Ghurur (tempat yang memperdaya), pasti akan ditinggalkan. Tidak ada yang terlena, kecuali orang jahil. Untuk itu perhatikan kiat-kiatnya sbb :

  5. Ketika pagi tiba, mulailah hari dengan berdzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, sebagai mana diajarkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Jangan lupa membaca do’a pagi hari.

    Sambutlah hari itu dengan niat yang benar. Berazam melakukan ketaatan. Menjauhi segala maksiat serta memohon kepada Allah taufik dalam jalan yang diridhai.

    Tahanlah tangan dan mulut kita dari mengganggu sesama muslim. Jangan mengumbar mulut untuk mensuarakan fitnah. Sayangi orang yang lemah dan ajari mereka yang tidak tahu.

    Senyumlah di hadapan sesama muslim. Senyum itu adalah shadaqah.
    Senang jika sesama muslim mendapatkan kebaika. Sebagaimana kita senang jika mendapatkannya. Jangan malah sebaliknya, mendoakan saudaranya mendapat keburukan.

    Jangan sepelekan perbuatan baik walau hanya perkara kecil dalam pandangan kita.

    Jika ada kesempatan bertaqarrub kepada Allah, maka jangan sia-siakan.

    Bergegaslah mengumpulkan kebaikan – sebagaimana Anda senang jika harta kita terkumpul.

    Jauhkan diri kita dari segala bentuk kemaksiatan, atau segala sesuatu yang mengantarkan kepadanya.

    Pintu kebaikan amatlah banyak tak berbilang.
    Apa yang tersebut tadi hanya sebagai pengingat saja. Orang yang menjadikan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan, kebaikan dan ketaatan, maka dialah orang yang telah mendapat taufik. Semoga hari esok lebih baik dari pada hari ini. Dan, tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin. Wallahu a’lam bish showab. (AS)

  6. Sumber: Buku “Kaifa Tastaqbil Yaumak”, Azhari Ahmad Mahmud, Dari Ibn Khuzaimah, Riyadh, dan sumber lain.

  • zulfikri mengatakan:

    Pak H. Athor Subroto Yth, terima kasih banyak saya ucapkan atas tausiahnya, semoga tausiah ini dapat menyadarkan saya dan pembaca (pengunjung blog ini) untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, Allah Azzawajalla, amin..yaa rabbal alamin !

  • Yth. Bapak Zulfikri, saya ucapkan terima kasih atas diterimanya tulisan saya. Mhn mf, itu bukan taushiyah, melainkan sekedar urun rembug saya dlm ikut serta mensyiarkan medianya Ust. Zulfikri, shg bs lebih memiliki variasi yg lbh menarik bagi pengguna.
    Kalau diizinkan, saya akan sll mengirim artikel aktual sesuai dg perkembangan zaman.
    Saya mhn mf, blm berhasil mengirim foto saya karena tehnis. smg lain wkt tdk ada kesulitan.
    Bilan ada kurang lebihnya saya mhn mf dan terima kasih atas perkenannya.

  • zulfikri mengatakan:

    Pak H. Athor Subroto Yth, selain blog ini saya juga mengelola “blog-pendidikan” yaitu “e-Newsletter Disdik”, klik:
    http://enewsletterdisdik.wordpress.com/

    Kami bersedia dan senang sekali jika Pak H. Athor Subroto, mau mengirimkan artikel-artikel pendidikan dalam konteks Islami.

    Atas kesediannya terlebih dahulu kami aturkan terima kasih.

    Wassalam,
    Zulfikri

  • Assalamu’alaikum wr. wb
    Yth. Bapak Zulfikri yang selalu mengolah fikir utk kemaslahatan umat. Saya sangat gembira bs berkenalan dg hamba Allah yang meluangkan waktu sibuknya utk kepentingan LI I’LAI KALIMATULLAH. Panjenengan adalah masuk kategori peraih piala terbaik dalam FESTIVAL FASTABIQUL ISLAM (FFI) di sepanjang tahun.
    Saya memohon kpd Sang Pemilik Umur, smg Ust. Zulfikri diberi umur panjang, sehat, rizqi luas, banyak relasi dan kreasi sepanjang zaman.
    Saya senang diberi kesempatan utk urun rembug dlm blog Ust. Zulfikri. Insya Allah akan sgr saya kirimkan artikel yg aktual dan sesuai dg sikon.
    Sidoarjo, 8 Desember ’10.
    Hormat kami
    Athor Subroto

  • zulfikri mengatakan:

    Wa’alaikumussalam wr. wb.
    Terima kasih banyak Pak H. Athor Subroto, atas doa dan dukungannya serta penilaian “blog/bloger” yang “memuaskan” dalam kategori FFI (Festifal Fastabiqul Islam) sepanjang tahun , semoga Allah SWT mengabulkan doa Bapak, amin, amin, amin yaa rabbal alamin.!

    Oo..ya, tulisan (taushiyah) Bapak yang berjudul “Menyambut Tahun Baru 1432 H: Bagaimana Hari Esok?” telah kami muat di blog “pendidikan” e-Newsletter Disdik” [ http://enewsletterdisdik.wordpress.com/ ] dengan harapan agar pesan-pesan (dakwah) dalam tulisan Bapak dapat tersebar lebih luas di kalangan praktisi pendidik di negeri ini, semoga tulisan ini akan dapat menjadi bahan ajar di dalam kelas. Tulisan-tulisan yang dimuat di blog e-Newsletter Disdik, secara otomatis akan tersebar luaskan pula di “Guru Onlline On Facebook” [ http://www.facebook.com/group.php?gid=103297004492&v=wall ] yaitu group komunitas pendidik dan tenaga ke pendidik di tanah air.

    Terakhir, kami tunggu tulisan Bapak yang berhubungan dengan materi-materi atau opini-opini pendidikan yang Islami.

    Atas kesediaan Bapak kami pengolola blog yang berkategorikan atau dalam ranggka “FFI” terlebih dahulu mengucapkan terima kasih.

    Wassalam, fastabiqul khairat..!
    Admin.

  • Wa’alaikumussalam wr. wb
    Ahsantum ya Ust Zulfkri, panjenengan sangat baik wahai Ust Zulfikri. Maksud saya FFI itu ya FESTIVAL FASTABIQUL (khairot) fil ISLAM gitu. Memang panjenengan sangat pas utk mendapatkan piala penghargaan FFI tersebut. Lanjutkan, jangan putus di tengah jalan. Bahkan sampai darah penghabisan ya Ust. Saya bantu, Insya Allah.
    Iya. saya mengucapkan banyak terima kasih atas dimuatnya artikel saya “Menyambut Tahun Baru 1432 H” di blog pendidikkan. Amin, amin, amin.
    Insya Allah, akan segera saya kirimkan artikel dimaksud dlm wkt yg tdk tll lama.
    Wassalam
    H. Athor Subroto

  • Assalamu’alaikum wr. wbr.
    Pak H. Athor Subroto Yth, artikel-artikel Bapak yang berjudul “MEMBANGUN GENERASI BERKUALITAS” telah kami terbitkan di e-Newsletter Disdik, klik:
    http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2010/12/08/membangun-generasi-berkualitas/

    Semoga artikel-artikel Bapak bermanfaat untuk pembangunan pendidikan dan karakter anak bangsa, amin ya rabbal alamin.!

    Wassalam,
    Admin

  • Assalamu’alaikum wr. wb.
    Ust Zulfikri Yth, saya sampaikan banyak terima kasih atas dimuatnya tulisan saya. Smg bermanfaat bagi kita semua. Amin.
    Informasi lain saya tunggu.
    Mhn mf d trima kasih.
    wassalam
    H. Athor Subroto

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: