Puisi

Mei 31, 2007


HANYA TITIPAN
 

Ku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-NYA,
bahwa rumahku hanya titipan-NYA,
bahwa hartaku hanya titipan-NYA,
bahwa putraku hanya titipan-NYA,tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa DIA menitipkan padaku?
 

Untuk apa DIA menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-NYA ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali
oleh-NYA ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak
harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak
popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah …semua “derita”
adalah hukuman bagiku.
Seolah …keadilan dan kasih-NYA harus berjalan seperti matematika
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap
menghampiriku.
Kuperlakukan DIA seolah mitra dagang,dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-NYA yang tak
sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

WS Rendra


Ciloteh

Mei 31, 2007


AKTIFITAS BERARTI PRODUKTIFITAS ?

  

Banyak diantara kita mempunyai kebiasaan mengacaukan “aktifitas” dengan hasil yang diperoleh. Hal ini sering dapat diamati dalam suatu tugas. seringkali, suatu organisasi mempunyai suatu kesulitan dalam mengukur “efesiensi & efektivitas” seorang karyawan. Akibatnya, nilai “efesiensi & efektivitas” telah menggantikan nilai kecil yang diperoleh sebagai tongkat pengukur penampilan. Pekerja yang paling “sibuk (aktif)” dianggap sebagai pekerja yang paling baik dan diberi imbalan dan bukannya untuk “hasil” yang dicapainya. Baca entri selengkapnya »


Ciloteh

Mei 31, 2007


RAPEK KARO


Pada suatu malam dihutan di kaki Gunung Singgalang hujan turun sangat lebatnya, sehingga membuat basah kuyup para kera sebagai warga dihutan tersebut, mereka tidak dapat tidur oleh kedinginan. Dalam kondisi begini Pemimpin Kera mengumpulkan warganya dimalam itu untuk rapat yang membicarakan untuk membuat rumah besok pagi apabila hari telah siang. Dalam rapat tersebut didapatlah keputusan untuk membuat rumah serta telah ditetapkan tugas untuk masing warga seperti yang bertugas mencari tonngak, mencari dinding, mencari atap dan lain-lain sebagainya. Rapat selesai hujanpun mulai reda, mereka tertidur.

  

Besok pagi mereka dibagunkan oleh terik matahari pagi yang cerah. Masing-masing berhamburan mencari makanan masing-masing, sehingga lupa melaksanakan keputusan rapat tadi malam untuk membuat rumah. Baca entri selengkapnya »


Ciloteh

Mei 31, 2007


RAPEK MANCIK

 

Lain pula yang terjadi di suatu rumah gadang, dimana diatas loteng rumah gadang tersebut tinggal beberapa ekor mancik (tikus) sebagai warga.

  

Selain mancik juga dirumah gadang tersebut tinggal seekor kucing gadang yang ganas, setiap malam warga mancik hilang satu persatu, sehingga membuat cemas warga mancik. Maka untuk mengantisipasi keganasan kucing gadang, mancik mengadakan rapat. Pimpinan mancik melemparkan apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kucing gadang tersebut sehingga kita dapat mengatasi warga kita hilang satu persatu dimakannya. Seekor peserta rapat mengusulkan diadakan piket ronda, tapi disanggah oleh peserta rapat lainnya, dengan alasan bahwa kita yang piket tersebut nantinya yang akan dilahap terlebih dahulu oleh mak kucing !. Dengan saking banyaknya usul yang diusulkan oleh peserta rapat hanya satu usul yang disetujui secara aklamasi oleh peserta rapat yaitu; memasang “ganto” dileher kucing, dengan adanya ganto, kucing gadang bergerak dapat kita dengar dan kita dapat langsung menghilang, dan bersembunyi !. Baca entri selengkapnya »


Duduk di Ayat Kursi

Mei 30, 2007

  

Jabatan apa yang paling saya dan Anda idamkan ? Kalau saya seorang musisi, maka akan meniti karir menjadi eksekutif produser atau komposer. Kalau Anda seorang kutu buku, pasti menginginkan jabatan kecendekiawanan. Seorang politikus, pasti mengincar jabatan presiden. Karyawan, ya pasti ingin meraih jajaran direksi. Pebisnis, tentu ingin menjadi fund manager handal atau pemegang ribuan slot saham blue chip. Seorang santri pun menginginkan kenyamanan keustadzan atau kekiayian. Karena menurut kita semua di situlah tempat duduk ternyaman dengan segala kepemilikan eksistensinya. Tapi ternyaman versi apakah gerangan ? Nyaman di lidah, nyaman di telinga, nyaman di mata, nyaman di angan-angan, atau sekedar nyaman di pantat di mana kita duduk di kursi itu ?

Dalam Ayat Kursi ( 2 : 255 ) Allah dengan sombong dan otoriter menunjukkan jabatan diri sebagai sosok tunggal eksistensi keilmuan beserta kedudukannya sebagai pemilik seluruh isi langit bumi. Namun dengan sombong pula ternyata kita juga menolak kekuasaanNya dengan cara yang paling linear bertahap dan samar.  Mau bukti ? Baca entri selengkapnya »