Antara Kopi dan Cangkir

Agustus 2, 2007

Oleh : Paulus Bambang W.S. 

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life. Baca entri selengkapnya »


Debat Kusir

Juli 31, 2007


Anda tentu pernah dengar kata “kusir”, itu lho, yang kerjanya mengendalikan kuda supaya bagus jalannya. Kusir, ya supir bendi atau dokar atau delman atau sado atau cikar atau apalagilah namanya. Di kota kelahiran saya kusir-kusir yang  tengah menanti penumpang, duduk di bendinya masing-masing, yang di parkir berbaris, biasanya di mulut pasar yang suaranya gemuruh. Untuk menghilangkan jenuh kusir-kusir ini biasa ngobrol dan kadangkala bersoal jawab atau berdebat. Karena masing-masing duduk di bendi masing-masing, berjarak lebih kurang 2,5 m satu sama lain, dan karena suara pasar yang riuh, seringkali omongan yang satu tidak terdengar jelas oleh yang lain. Ini satu contoh diskusi atau debat mereka mereka : Baca entri selengkapnya »


Tempayan Retak

Juli 19, 2007

  

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, yang satunya tidak. Tempayan yang tidak retak selalu dapat membawa air penuh dari mata air ke rumah majikannya, sedang tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari yang seharusnya dapat diberikannnya. Tertekan oleh kegagalan ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,”Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa kamu merasa malu?” “Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air karena retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi.” kata tempayan itu. Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak dan berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Baca entri selengkapnya »


Catatan “tercecer” si Malin Kundang

Juni 6, 2007

I. Nama dan Gelar 

Sejak abak mati karena kerja rodi sebagai seorang anak aku bertekat untuk menjadi anak yang berguna. Membela ibuku. Niat itu kusampaikan pada ibu setelah dia kembali dari kota Gede, dan segera ibu merobah namaku dari si Buyung menjadi “Gunawan”.Anak yang berguna.

Kemudian, setelah Islam masuk, tanpa setahuku ibu memberikan nama tambahan di depan namaku itu dengan “Muhammad”. Dan setelah aku menaiki pelaminan, orang-orang memanggil gelarku “Malin”, maksudnya mungkin orang yang soleh.

Maka pergilah aku merantau. sewaktu aku pulang sebentar melihat ibu, aku sempat bertanya kepadanya: “Mak, kenapa sewaktu Belanda masuk atau Jepang datang namaku tidak ditambah pula dengan “Albert atau Yamaguci” misalnya. Ibuku menjadi marah dan dia menggerutu. Mamakmu sendiri bergelar Datuk Bana Tan Tapo, tetapi secuil pun tak pernah dia berusaha menegakkan kebenaran dan takutnya pada orang kalau diuji pendapatnya bukan main.
Sekarang kau sudah dipanggil orang si Malin. Padahal apa yang kau kerjakan di rantau menjadi “pancacak” !?. O !, kalau begitu tahulah aku kini. Tampaknya antara nama dan gelar seperti tidak ada hubungan sama sekali dengan  tingkah laku dan perbuatan. 

II. Merantau Cina 

Sewaktu aku akan pergi merantau, ibuku berpesan: “Malin, jangan lah kamu merantau Cina. Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri awak, lebih baik juga negeri awak”. Aku mengangguk mengiyakan.

Tapi sewaktu orang-orang Cina sudah mulai membeli tanah pusaka kami, ibuku segera mengirim surat kilat khusus yang isinya: “Malin, merantaulah seperti Cina !. Beli tanah dimana saja. Tanah pusaka kita ternyata telah dikapling-kapling mereka !”.

Surat kilat khusus itu dibaca istriku, Puti Manih Talonsong (sebelum menjadi isteriku, nama kecilnya Cian Phao). Setelah surat itu dibacanya, dia tersenyum. “Jangan tanahmu, kau sendiri kan sudah ku kapling jauh sebelum itu”

Maaf mamak Datuk !, kata aku kepada mamakku, aku terpaksa kawin dengan Puti Manih Talonsong itu karena aku dulu jadi anak semang Baba Laweh, bapaknya.

III. Anak dipangku Kemanakan… ?  

Restoran “Bim Bing” suasananya enak dan remang-remang. Aku pelanggan restoran itu tanpa setahu Cian Phao, soalnya ada Puti Basusual Intan disana. Aku yakin dia sama asal atau sekampung dengan ku, tapi separo mati pula dia bertahan mengatakan tidak. Dalam pertengkaran itu aku pangku dia habis-habisan. Tiba-tiba seorang tua tertelungkup di depan kami, pingsan. Seteleh ditelentangkan, Puti Basusual Intan terperanjat “Ayahku !” teriaknya. Kuraba kepala yang pingsan itu. Ternyata dia Datuk Bana Tan Tapo mamakku. Rupanya dia jatuh pingsan melihat aku begitu penuh nafsu memangku Puti Basusual Intan.

Insiden kecil ini di jadikan Head Line Surat Kabar “Datuk Bana Tan Tapo pingsan karena Anak dipangku kemanakan di Bim Bing” ?.
Pada mulanya insiden, akhirnya menjadi petuah adat sampai sekarang gara-gara wartawan.

IV. “Rumah Gadang bapaga Adat”  

Aku sudah mengirimkan sejumlah uang berkali-kali sebagaimana yang diminta mamakku Dt. Bana Tan Tapo untuk menyiapkan “rumah gadang” kaum kami. Kemudian ibuku mengirim surat pula supaya mengirimkan uang lagi untuk membuat pagar rumah gadang itu. Semuanya aku penuhi. Tapi sewaktu aku pulang ke kampung melihat rumah gadang itu, ternyata tidak ada pagar atau tanda akan diberi pagar. segera kutemui mamakku Dt. Bana Tan Tapo menanyakan kenapa pagar belum juga dibikin sedangkan uangnya sudah dikirim lebih. “Rumah gadang bapagar Adat” Malin !, bukan berpagar besi seperti rumah sekarang !, jawabnya tenang.

Dan uang yang telah kukirimkan digunakan buat apa ?, kan buat bikin pagar !, kataku kesal.
Sambil menangis merangkulku dia berbisik “Kau saja sanggup beristeri sampai lima, pada hal kau belum jadi Datuk !”. Aku bingung !.

“Uangmu telah kugunakan untuk kawin lagi, gengsi kalau penghulu seperti aku tidak punya banyak isteri, sepertinya aku tidak laku !”.

Mungkin inilah sebabnya rumah gadang di Minangkabau semakin berkurang, kalau kemanakan di rantau selalu mengirimkan uang disalah gunakan oleh mamaknya.

V. “Masyarakat Ilmiah”  

Datuk-datuk yang selalu mengadakan rapat atau sidang di Balai Adat mempunyai tata cara tersendiri. Setiap kata harus dijelaskan arti dan maksudnya supaya tidak terjadi kesalah pengertian. Dan bagi yang memberikan jawaban, mengulang kembali penjelasan itu dan setelah disepakati bahwa arti dan maksudnya sama, baru persoalan dilanjutkan.

Jika sekiranya yang dibicarakan tentang perkawinan, terlebih dahulu disamakan pendapat tentang “kawin” itu, apa yang dilakukan bila kawin, kawin cara siapa dan seterusnya. Setelah itu baru persoalan dilanjutkan “siapa yang akan kawin”, bagaimana kawinnya, dimana dan kapan ? dan seterusnya.

Kadang-kadang rapat itu hanya membicarakan tentang sebuah durian yang jatuh ke halaman orang lain, terpaksa mereka rapat sampai lima atau enam hari. Repot !, tapi kata Datukku itu adalah sikap ilmiah. Semua harus punya rujukan yang jelas. Kalau mengutip pendapat orang lain harus di konfirmasikan sampai benar-benar diakui sebagai pendapat, bukan pendapat kita. Aku mengangguk membenarkan.

Sewaktu dia tersinggung karena aku kawin lagi sedangkan isterinya sebagai Datuk baru tiga, dia memakiku; “Anjiang kamu Malin !”.

Aku tenang saja, tapi ketenangan ku membuat kemarahannya melimpah ruah; “Hei Malin ! Hanya Datuk yang boleh bersiteri banyak ! Kau telah menghina semua Datuk yang ada di negeri ini !” “Anjing !, Anjiang kau !”, suaranya semakin serak dan akhirnya menangis.

Setelah reda kemarahannya lalu ku katakan, bahwa kita harus bersikap ilmiah. Kita ini masyarakat ilmiah. Segala sesuatunya harus jelas. Jika mamak Datuk mengatakan anjing, supaya dijelaskan anjingnya anjing apa, kurapan atau hitam, jantan atau betina dan turunan anjiang apa !?

Tiba-tiba dia berdiri; “Baik !”, katanya dengan geram. Tubuhnya bergoyang menahan kemarahannya. “Anjiang kamu !
Anjing kumbang !
Anjing milik Datuk Perpatih Nan Sabatang !
Yang menggigit dubalang Datuk Ketumanggungan !.

Tapi anjing tidak dihukum !
Yang namanya anjing ! Tentu tidak dimakan hukum !
Hanya anjing yang memakan hukum !

Akhirnya Dt. Bana Tan Tapo mamakku tertawa terpingkel-pingkel sendiri.

Wisran Hadi(dikutip dari “Majalah Adat dan Kebudayan Minangkabau LIMBAGO”, terbitan Desember 1986)


Ketahuilah, Binatang itu bersaudara

Juni 6, 2007

Pergi ke hutan? Bertualang, bertapa, cross-country, camping, jungle tracking, piknik, atau wisata alam? Silahkan, asal jangan mengutak-atik, meragukan, mencemooh ilmu ke sunyatan (ilmu kenyataan) yang berlaku di hutan itu. Ilmu itu diajarkan turun-temurun, selama tujuh turunan -bilangan tujuh keturunan- artinya tak terhingga.

Ilmu itu begini:”Pada zaman dahulu, ada seekor binatang, bentuknya entah seperti apa, diciptakan Tuhan, hidup sendirian. Ia kesepian, lalu mati. Ketika mati, dari kepalanya muncul kera, dari tangannya muncul harimau, dan kakinya muncul gajah, dari badannya muncul binatang-binatang lain.” Baca entri selengkapnya »


Ciloteh

Mei 31, 2007


AKTIFITAS BERARTI PRODUKTIFITAS ?

  

Banyak diantara kita mempunyai kebiasaan mengacaukan “aktifitas” dengan hasil yang diperoleh. Hal ini sering dapat diamati dalam suatu tugas. seringkali, suatu organisasi mempunyai suatu kesulitan dalam mengukur “efesiensi & efektivitas” seorang karyawan. Akibatnya, nilai “efesiensi & efektivitas” telah menggantikan nilai kecil yang diperoleh sebagai tongkat pengukur penampilan. Pekerja yang paling “sibuk (aktif)” dianggap sebagai pekerja yang paling baik dan diberi imbalan dan bukannya untuk “hasil” yang dicapainya. Baca entri selengkapnya »


Ciloteh

Mei 31, 2007


RAPEK KARO


Pada suatu malam dihutan di kaki Gunung Singgalang hujan turun sangat lebatnya, sehingga membuat basah kuyup para kera sebagai warga dihutan tersebut, mereka tidak dapat tidur oleh kedinginan. Dalam kondisi begini Pemimpin Kera mengumpulkan warganya dimalam itu untuk rapat yang membicarakan untuk membuat rumah besok pagi apabila hari telah siang. Dalam rapat tersebut didapatlah keputusan untuk membuat rumah serta telah ditetapkan tugas untuk masing warga seperti yang bertugas mencari tonngak, mencari dinding, mencari atap dan lain-lain sebagainya. Rapat selesai hujanpun mulai reda, mereka tertidur.

  

Besok pagi mereka dibagunkan oleh terik matahari pagi yang cerah. Masing-masing berhamburan mencari makanan masing-masing, sehingga lupa melaksanakan keputusan rapat tadi malam untuk membuat rumah. Baca entri selengkapnya »