Jangan Menjual Indonesiaku

November 12, 2007

Sri-Edi Swasono *)

Makin banyak diberitakan keprihatinan tentang makin melunturnya nasionalisme. Makin banyak pula gerakan patriotik yang mencemaskan telah berubahnya “pembangunan Indonesia” menjadi sekadar “pembangunan di Indonesia”. Gegap-gempitanya pembangunan di Tanah Air, menggelegarnya tiang-tiang pancang menembus bumi sebagai derap pembangunan di Indonesia belum menempatkan Indonesia sebagai Tuan di Negeri Sendiri. Semula berbisik- bisik, lama-lama menjadi pembicaraan terbuka sehari-hari, bahwa banyak pemuda berdasi kita sudah menjadi “jongos” globalisasi.

Baca entri selengkapnya »


STRATEGI UMAR BIN ABDUL AZIZ DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN

Agustus 26, 2007

Oleh : Latif Hakim

(Dewan Pakar ICMI Kairo, Kandidat Master Ekonomi Islam American Open University Cairo)

Dalam rangka membangun fundamental ekonomi yang sustainable, sebagaimana yang telah disampaikan Presiden Yudoyono dalam pidato kenegaraan di hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu disambut gembira, karena data menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang membaik, dimana pertumbuhan ekonomi dalam kwartal I telah mencapai 6,13 persen  dan pada kwartal II 2007 melesat naik menjadi 6,28 persen. Hal ini merupakan sebuah indikasi membaiknya ekonomi bangsa Indonesia. Dengan melihat pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan ini Presiden mentargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 menjadi 6,8 persen. Target ini sah-sah saja, dan sangat optimis apabila strategi-strategi yang diimplementasikan adalah strategi growth dan equity tidak growth with equity. Karena strategi growth with equity adalah strategi yang masih mementingkan pertumbuhan ekonomi yang mengesampingkan pemerataan. Padahal yang dipentingkan dalam pembangunan ekonomi yang berkeadilan sosial sebagaimana yang disampaikan Presiden dalam sambutannya pada peringatan Hari Koperasi Nasional ke 60 tahun 2007, di Nusa Dua, Bali, Kamis (12/7) siang, adalah ekonomi yang berkeadilan sosial. Jadi keseimbangan growth and equity inilah yang diinginkan system ekonomi berkeadilan sosial. Baca entri selengkapnya »


Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan Kita

Agustus 6, 2007

 

Siapa saja sih orang-orang terkaya di negeri ini? Dari angkatan lama ada Sukanto Tanoto, Putera Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Rachman Halim, Robert Budi Hartono, dan Liem Sioe Liong yang selalu jadi langganan Forbes. Ada juga pengusaha lokal seperti Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro dan yang baru seperti Eddie William Katuari, Trihatma Haliman, atau Chairul Tanjung.Ada juga beberapa junior seperti Sandiaga Salahuddin Uno dan Patrick S Walujo yang kelak berpotensi menjadi yang terkaya di Indonesia. Sandi adalah Ketua HIPMI dan mantan credit officer Bank Summa. Tahun 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya mendirikan Saratoga Capital. Mereka mengantongi US$ 1 miliar dan investasinya masuk kemana-mana. Sandi kini juga mengejar proyek Tol Cikampek-Palimanan dan tambang emas Newmont di NTB.Sedangkan Patrick adalah mantan bankir Goldman Sachs yang kini nahkoda Northstar Pacific. Walau baru 3 tahun, ia sudah mengantongi Alfa Retailindo dan Alfa Mart yang dulu di bawah Sampoerna. Northstar juga memiliki perusahaan LNG dan ladang migas di Sumatera Selatan. Dana yang dikelolanya sekitar US$ 100 juta dan sebagian dari Texas Pacific Group. Mereka juga sedang memburu Garuda Indonesia dan Blok Cepu.Ada pula Rosan P Roeslani, yang bersama Sandi membangun Recapital Advisors; dan Tom Lembong, yang mengakuisisi BCA lewat Farindo. Recapital mengantongi Bank BTPN dan memenangi tender Dipasena, tambak udang terbesar Asia Tenggara. Sedangkan Tom adalah jebolan Morgan Stanley dan mantan Kadiv Asset Management Investment BPPN yang kini mendirikan Principia (Quvat). Quvat punya US$ 150 juta dan memegang Adaro serta Blitz Megaplex Cinema. Dalam pembelian Adaro; Sandi, Patrick, dan Tom tergabung dalam konsorsium dibantu Edwin dan Teddy; plus Erick Tohir, pemilik Grup Mahaka. Mahaka sendiri pemegang sahamnya adalah M Lutfi, bekas ketua HIPMI yang jadi Kepala BKPM. Lutfi adalah putra Gunadarma yang sebelumnya adalah menantu Hartarto (Menperin Orde Baru). Bekas istrinya punya sekolah desain, ESMOD, dan istri Lutfi kini adalah Bianca Adinegoro. Ada juga Erick Tohir dan Boy Garibaldi Tohir. Erick sedang menggenjot JakTV bersama Artha Graha Group, sambil memosisikan Republika di 3 besar. Sedang Boy Garibaldi adalah salah satu direktur Adaro. Erick pernah mengatakan bahwa Lutfi dan Wisnu Wardhana tak aktif di Mahaka. Barangkali Wisnu sekarang sibuk mengurus perusahan sekuritas dan pembangunan apartemen di depan BEJ.Nama lain yang cukup berkibar adalah Hary Tanoesoedibjo dari Bhakti Asset Management dan Global Mediacom. Bhakti pernah sukses membeli Salim Oleochemical dari BPPN. Hary Tanoe pernah mendirikan Indonesia Recovery Company Limited bersama Asia Debt Management. Ia juga dikenal dekat dengan George Soros dan sering dititipi dana investasi para konglomerat papan atas, termasuk Salim. Belakangan Harry dikenal sebagai raja media dengan bendera MNC.Ada juga rising star grup Axton yang baru memulai bisnis. Pemiliknya konon anak muda berusia 25 tahun yang merangkak dari nol. Mereka mengelola dana investor dengan menerapkan value investing ala Warren Buffett. Sayang saya kurang informasi mengenai mereka. Ada yang bisa menambahkan? Yang jelas, mereka semua adalah anak-anak muda brilian, berlimpah harta, lulusan luar negeri, punya pengalaman segudang, dan closely-related each other. Baca entri selengkapnya »


“BADAGANG JO MANGGALEH”

Juni 18, 2007


H Mas’oed Abidin  *)

“Badagang” bagi orang Minang sudah dikenal sejak lama. Malah dianggap “identik dengan sebutan yang melekat kepada “Orang Minang” itu. Karena bagi orang Minang, kiranya “Badagang” adalah suatu kebaikan, suatu idaman dan bukan suatu celaan. Di Minangkabau kata-kata “dagang” menyimpan banyak makna. Terkandung fasafah hidup yang utuh dan hidup. Dagang di Minangkabau, tidak hanya berarti “bussiness” (bisnis) tok. Kata ini bisa mengandung makna “marantau”, dengan tujuan yang pasti “mencari”. Bisa dalam arti sempit, sekedar mencari bekal untuk hidup sementara, bisa berarti mencari “kehidupan” dalam arti yang luas. Jadi jelas tidak hanya terbatas kebiasaan menyangkut (menggaet) materi semata. Bussines is only bussiness, kurang melekat di Minangkabau. Baca entri selengkapnya »