Memaknai Kembali Arsitektur Nusantara

Oleh: DR. Galih W. Pangarsa
( Jurusan Arsitektur Univ. Barwijaya )

Manusia mesti mengidentifikasikan kembali dirinya, di setiap saat dan tempat. Arsitektur yang terbentuk oleh peradabannya pun, perlu selalu dimaknai kembali.  Lalu apa sebetulnya esensi pemaknaannya kembali untuk masa kini?

Mengapa manusia mesti mengidentifikasikan kembali dirinya? Manusia, masyarakat dan lingkungan huniannya ada dalam dinamika. Namun Arsitektur Nusantara seringkali dipandang statik, sebagai bagian dari masa lalu yang tak ada hubungannya dengan masa kini,apalagi untuk mempersiapkan masa depan Yang jelas manusia Nusantara berkembang, seperti yang dipaparkan buktinya oleh banyak artefak arkeologis prasejarah di seluruh tanah air kita, baik jejak peradaban maupun regawinya. Perkembangan arsitektur di Indonesia tidak bisa lepas dari perkembangan arsitektur dunia. Maka desain-desain sejak dari langgam Hindu sampai dengan yang kontemporer seperti karya Daniel Liebskind, Tadao Ando, atau Rem Koolhaas, semua masuk ke Indonesia sebagai informasi keilmuan dan desain yang mengilhami para arsitek kita. Arsitek-arsitek (baik formal maupun tidak), pada kehidupan manusia adalah mereka yang menempati posisi utama dalam pembentukan arsitektur sebagai simbol peradaban suatu bangsa atau komunitas. Maka, sangat penting untuk memahami kembali bahwa manusia adalah homo simbolicus yang senantiasa membuat dan maknai kembali simbol-simbol peradabannya, seperti kita pun perlu memaknai kembali arsitektur rakyat kita, yaitu Arsitektur Nusantara. Dengan demikian, penelitian tentang Arsitektur Nusantara sangat penting, agar kita dapat memaknai kembali Arsitektur Nusantara dengan bijak. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi justru untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Arsitektur Nusantata tinggal remah-remah. Serpihan-serpihannya pun seperti keadaan senja hari. Arsitektur Nusantara hampir punah. Untungnya, ada yang berupaya menerangi dengan suluh. Berbagai seminar, lokakarya, atau apa saja atas nama “keberlanjutan” atau “pelestarian” arsitektur, diselenggarakan. Bisakah suluh-suluh itu menerangi dan menyelesaikan masalah seketika? Pasti tidak. Nusantara demikian luas dan waktu senjanya pun berbeda-beda. Yang dapat menerangi ialah rembulan. Siapakah yang dimaksudkan dengan rembulan? Ialah para budayawan-pejuang dengan pandangan keilmuan yang dapat memberi cahaya hakiki pada jiwa-jiwa manusia yang tengah menghadapi kegelapan peradaban. Para pemeduli budaya bangsa dengan pandangan keilmuan yang harmonis, yang tidak hanya memihak manusia, tetapi juga memihak alam. Filosofi keilmuan yang kita perlukan ialah yang dapat menggugah kesadaran bahwa identitas lokal Nusantara sangat penting dibangun-ulang sebagaimana identitas sebagai manusia senantiasa memerlukan pembaharuan. Tambahan lagi, sang bulan budayawan-pejuang yang kita perlukan mesti menerangi malam tanpa pernah menyilaukan yang memandang. Tidak perlu menunjukkan “kasta” intelektualnya, tak perlu menyilaukan masyarakat awam. Ilmuwan sejati selalu menjadi bagian dari masyarakat, memaknai kembali kebudayaan (dalam arti luas) bersama mereka.

...menunggu gambar...Kebudayaan bukanlah hanya berarti sempit: kesenian. Kebudayaan dalam arti luas adalah pola pikir dan mentalitas suatu masyarakat. Arsitektur adalah bagian sangat kecil dari padanya. Karena itu, siapa pun berhak memaknai arsitektur, termasuk –dan justru terutama– generasi muda. Karena merekalah yang memiliki masa depan. Memaknai arsitektur bukan hak mutlak para arsitek.

Cukupkah kita mempersiapkan generasi muda? Para peneliti pun seyogyanya tidak datang ke desa mengusung kursi tinggi menara gadingnya yang menyilaukan masyarakat. Para ilmuwan mengemban misi mendidik masyarakat. Dan yang sangat jarang disadari, ilmuwan sejati justru selalu “belajar” dari masyarakat. Artinya, ia senantiasa merendah hati untuk “membaca” persoalan yang ada di masyarakat dan ikut berupaya keras dan andil menyumbangkan pemikirannya. Atau bahkan ikut berdaya upaya bersama mereka menuntaskan pemecahan permasalahan.

Bagaimana andil kita semua untuk menahan tenggelamnya peradaban Arsitektur Nusantara? Kami menunggu anda semua untuk berbagi pemikiran, pengalaman, dan kepedulian dalam Seminar Jelajah Makna dalam Arsitektur Nusantara tahun 2010, di ITS.

Sumber : Green Architecture

4 Balasan ke Memaknai Kembali Arsitektur Nusantara

  1. Sugeng Arianto mengatakan:

    Saya senang pembahasan tentang “arsitektur” dari bapak Zulfikri termasuk semua tampilan dalam web. izinkan saya mencantumkan web bapak dalam daftar link pada blog saya.

  2. zulfikri mengatakan:

    Terima kasih Pak Sugeng, dengan senang hati saya izinkan dan silahkan Bapak cantumkan link blog saya ini di weblog Bapak.

  3. Risa mengatakan:

    keren sekali artikelnya pak zulfikri, arsitektur nusantara memang top banget :))
    sudah gabung di PAPAN (Paguyuban Peduli Arsitektur Nusantara) pak?

    https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?hl=in&formkey=dHhZUjB3OGNOYlFORDBIV3c0b2llSmc6MQ#gid=0

  4. zulfikri mengatakan:

    Terima kasih Ibu Risa, atas informasinya. Dan saya barusan mendaftar di PAPAN. semoga dapat diterima kehadiran saya di payuguban PAPAN.

    Informasi ini saya share di Facebook Bursa Arsitektur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: