Awas Bahan Kimia Mengancam di Rumah

Dapur termasuk area di mana peralatan dan material berbau kimia menumpuk, karena itu penting untuk memberikan sirkulasi udara yang tepat.

Musim pancaroba dan kemarau panjang adalah musim datangnya penyakit. Namun penyakit juga bisa datang akibat penggunaan bahan-bahan kimia di dalam rumah. Apa sajakah?

Kebanyakan dari kita umumnya menjadikan “pihak luar” sebagai tersangka penyebab manakala salah satu anggota keluarga kita sakit. Cuaca yang berganti-ganti dari panas ke hujan, kualitas udara yang buruk, polusi yang diakibatkan oleh asap kendaraan dan pabrik, atau suhu lingkungan yang makin panas, adalah hal-hal yang lazim menjadi materi dakwaan.

Secara tidak sadar, selama ini kita menggugat bahwa pokok masalahnya ada di pihak-pihak luar. Padahal, bila dihitung-hitung, 60-90% dari waktu kita selama 24 jam justru dihabiskan di dalam ruangan, baik di dalam rumah, sekolah, maupun di tempat bekerja. Anak-anak juga demikian. Bila jam belajar mereka di sekolah adalah 3-8 jam sehari, maka sekurang kurangnya 16 jam waktu mereka berada di dalam rumah.

Akibat informasi yang masif, mulai dari buruknya kualitas udara, pemanasan global, menurunnya kualitas air tanah dan air minum, sampai dengan serangan virus baru yang mengglobal, orang makin yakin bahwa masalah kesehatan manusia terletak “di luar”, bukan “di dalam”. Lalu, pemecahannya pun selalu memandang ke arah luar, mengabaikan bahwa kemungkinan sang terdakwa bisa saja justru berada di dalam rumah.

Rumah, baik yang baru (kurang dari 5 tahun dibangun) maupun yang telah berumur puluhan tahun, sesungguhnya adalah sumber terbesar gangguan kesehatan. Ibarat kulit, rumah adalah kulit ketiga bagi tubuh kita setelah kulit tubuh kita sendiri dan pakaian yang kita kenakan. Bila rumah tak sehat, secara otomatis hidup kita pun ikut-ikutan menjadi tidak sehat.

Bahan Kimia

Sejak dalam proses pembangunannya, rumah sudah berpotensi menjadi penyimpan racun berbahaya bagi tubuh manusia dan menjadi lahan subur berbiaknya penyakit bagi calon penghuninya. Proses pengerjaan yang menghasilkan debu-debu berukuran mikron dan material material bangunan yang sebagian besar mengandung bahan kimia hanyalah dua penyebab yang paling gampang dideteksi. Sebab lainnya adalah sirkulasi udara yang buruk dan pencahayaan yang tidak memadai.

Material bangunan yang bersifat kimiawi sendiri adalah sesuatu yang tak terelakkan. Dirunut dari sejarahnya, mula-mula pembangunan rumah umumnya memang menggunakan bahan-bahan dan material alami yang mudah ditemukan dan dekat dengan lokasi calon hunian. Begitu tuntutan kebutuhan material melesat cepat mengikuti ledakan penduduk, bahan-bahan pengganti material alam  yang artinya adalah berbahan kimia-adalah sesuatu yang tak terhindarkan.

Sejak selesainya Perang Dunia II tahun 1945, produksi bahan bahan kimia untuk aneka keperluan rumah tangga meningkat pesat, sebagai akibat dari keperluan restorasi pemukiman dan perkotaan di sebagian besar wilayah dunia yang rusak sehabis perang. Dengan tuntutan yang sedemikian besar dan dalam waktu singkat, tidak mungkin lagi alam mampu memenuhinya.

Menurut buku Prescriptions for a Healthy House karya Paula Baker-Laporte, Erica Elliot, dan John Banta, produksi bahan kimia pada tahun 1945 yang baru berkisar 10 juta ton meningkat menjadi lebih dari 110 juta ton pada tahun 2005. Saat ini, sekarang-kurangnya ada lebih dari 4 juta barang kimiawi yang dibuat oleh manusia. Sebanyak 70-80 ribu di antaranya sangat familiar digunakan oleh manusia sehari-hari, yang tanpa disadari kemungkinan besar mengganggu kesehatan tubuh, terutama gangguan saluran pernafasan, pencernaan, dan alergi.

Sumber Masalah Di Rumah

Bila salah satu dari anggota keluarga Anda mengalami masalah serius dengan pernafasan, pencernaan, atau alergi, dan telah berlangsung dalam kurun waktu lama namun Anda tak kunjung menemukan jawaban pastinya, cobalah sekarang mendeteksi masalahnya “ke dalam”, alih-alih melirik “ke luar” sana.

Berikut ini beberapa sumber masalah yang diakibatkan penggunaan bahan kimia di dalam rumah.

• Insektisida, pestisida, dan herbisida. Pemakaian pembunuh serangga dan binatang pengganggu sudah dikenal luas dan dikemas dalam bentuk yang menarik, diiklankan seakan-akan “aman”. Padahal, yang namanya obat pembasmi serangga, binatang pengganggu, dan sejenisnya, sudah pasti bersifat mematikan dan tidak aman bagi kesehatan manusia.

Produk-produk campuran kayu non-alami, termasuk di dalamnya adalah particle-board, plywood, pelapis kitchen set dan furnitur, sampai dengan kusenkusen pintu dan jendela non-kayu, umumnya mengandung bahan kimia formaldehida yang bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) bagi tubuh manusia.

Volatile organic compounds (VOC) atau senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa ini banyak sekali digunakan pada cat dinding, cat besi, cat kayu, pelarut-pelarut dan pembersih barang-barang rumahan, sealant, dan lem/perekat. Senyawa kimia yang terdapat dalam bahan tersebut antara lain toluena, benzena, formaldehida, dan aseton. Senyawa-senyawa ini bila terhirup dalam jumlah tertentu dapat mengakibatkan gangguan pernafasan akut, penyakit kanker, dan kerusakan sistem saraf.

• Aspal dan produk yang mengandung aspal. Bahan ini sering ditemukan pada penutup atap jenis bitumen atau pelapis antibocor. Garasi yang terletak di dalam rumah dan menyatu dengan ruangan rumah juga bisa menjadi masalah karena senyawasenyawa kimia dari aspal yang melekat pada roda-roda kendaran bermotor terangkut masuk ke dalam rumah, lalu terjebak di dalam rumah.

• Pembersih noda/kotoran. Proses pengerjaan rumah kadang menyisakan kotoran atau bercak yang hanya bisa dibersihkan menggunakan larutan kimia. Aktivitas rumah tangga tak barang juga memicu digunakannya pembersih kimiawi semacam ini, hanya untuk mengejar sebuah tampilan interior rumah yang secara tampak mata kelihatan bersih, tapi efeknya mengakibatkan gangguan kesehatan.

Untuk mengurangi risiko terpaparnya penghuni rumah oleh senyawa-senyawa kimia. itu, satu-satunya cara adalah dengan menguranginya seminimal mungkin. Pendekatan lain yang dapat ditempuh adalah dengan merancang bangunan dengan lebih memperhatikan aspek sirkulasi udara dan, pencahayaan sinar matahari.

Masalah Non-Kimiawi Saat Pengerjaan Bangunan

Selain penggunaan bahan bahan kimia yang tanpa disadari dapat mengakibatkan pelbagai gangguan kesehatan, sumber masalah di dalam rumah bisa diakibatkan dari proses pengerjaan bangunan beserta peralatan peralatan yang digunakan. Berikut di antaranya.

Pemlesteran dan pengacian dinding. Sisa sisa semen pada plesteran dan acian yang tidak dibersihkan secara sempurna berpotensi menjadi timbunan debu dan partikel-partikel halus yang terus bersarang di dalam rumah.

Potongan-potongan untuk instalasi pemipaan dan kelistrikan. debu-debu yang diakibatkan oleh potongan pipa PVC atau kabel-kabel tetap berpotensi hinggap di dalam rumah bila pembersihannya tidak sempurna atau pekerjaan potong memotongnya dilakukan di dalam rumah.

Penggunaan alat-alat berat seperti pemotong, mesin las, pemanas, dan sebagainya juga berpotensi untuk menghasilkan udara dengan kualitas rendah dalam ruangan. (Tabloid Rumah/Alois Wisnuhardana)

Sumber : KOMPAS.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: