Arkeologi Hunian Arsitektur Ruang Semesta

arkeologiAnutan nilai dan budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat kiranya dapat ditelusuri dari pola permukiman yang mereka bangun. Karena itu, mudah dipahami jika suatu pendekatan antropologi budaya, misalnya, bisa dikembangkan dari temuan-temuan arkeologi pada suatu masyarakat tertentu yang barangkali hidup beratus-ratus tahun sebelum sisa-sisa peradaban fisik tersebut ditemukan.

Permukiman–atau yang lebih luas lagi, arsitektur– secara sadar direncanakan untuk menopang penghidupan dan kehidupan manusia sehingga yang akan tecermin di dalamnya adalah suatu interaksi antara manusia dan lingkungan yang menjadi penopang kehidupan dan penghidupannya.

Jika kebudayaan kemudian bisa diartikan sebagai design for living (Bierstedt, 1970) atau rancangan guna menata kehidupan, arsitektur sebagai hasil interaksi antara manusia dan lingkungan kiranya dapat dipahami sebagai buah kebudayaan itu sendiri.

Dari pengantar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bermukim atau berarsitektur merupakan kegiatan khas manusia yang berkaitan erat dengan orientasi nilai dan budaya.

Oleh karena itu, tidak sulit untuk dipahami jika dalam masyarakat yang sangat menghargai ada keserasian hidup bersama. Misalnya dalam masyarakat tradisional Jawa, pola-pola permukiman yang dianut akan sedemikian terbuka dan mengundang. Karena itu, dalam rumah kaum bangsawan pun–yang konon cenderung teralianasi dari lingkungannya–masih bisa ditemukan adanya ruang-ruang terbuka berupa pendopo-pendopo dan pringgitan yang mengundang dan menunjang komunikasi dengan lingkungan semestanya.

Pola-pola demikian, meskipun terasa ideal bagi sebuah permukiman idaman, cenderung kurang disukai untuk diterapkan dalam masyarakat modern, terutama karena dianggap kurang menjanjikan privasi bagi penghuninya.

Karena itu, ketika Walter Gropius–arsitek dan tokoh pendidikan arsitektur modern–mengusulkan gagasan tentang ruang semesta, dengan ruang-ruang hunian diharapkan demikian terbuka, transparan, tanpa terdapat dinding, dalam lapangan praktik gagas itu kurang mendapat sambutan yang memadai. Alasannya, konsep ruang semesta Gropius dianggap tidak memerhatikan perilaku manusia yang cenderung memilih tempatnya sendiri di dalam bangunan yang akan memberikan perisai dan menjanjikan suasana yang berbeda dengan tempat yang lain. Itu berarti menghendaki dinding pembatas. Karena, dindinglah yang dipersepsikan manusia untuk menyatakan kehadiran dirinya dalam suatu tempat yang tetap.

Anutan-anutan demikian yang sungguh sangat berbeda dengan yang ada dalam masyarakat tradisional agaknya memperlihatkan bergesernya orientasi nilai dan budaya dalam masyarakat. Itu menarik untuk disimak.

Substansial masyarakat modern

Jika dalam masyarakat tradisional keberadaan individu dalam kelompoknya baru akan diakui bila individu tersebut mampu menyesuaikan dirinya terhadap kesepakatan-kesepakatan kelompok, proses yang terjadi dalam masyarakat modern justru sebaliknya.
Dalam masyarakat modern, sebuah individu baru akan diakui keberadaannya jika individu tersebut mampu memberikan peranan yang nyata bagi kelompoknya. Proses demikian akan mengakibatkan anggota masyarakat terbagi-bagi dalam berbagai peranan dan fungsi tertentu sehingga menghasilkan berubahnya sistem nilai yang lebih berorientasi pada pribadi-pribadi.

Berkembangnya dominasi peranan pribadi-pribadi secara terus-menerus akan membentuk landasan sendiri dan menganggap tidak perlu bersandar pada sesuatu di luar dirinya. Gejala demikian akan melahirkan budaya substansialisme yang cenderung mengadakan isolasi dan pemisahan. Manusia, dunia materi, dan nilai-nilai dipandang sebagai substansi-substansi yang bisa lepas satu sama lain (CA van Peursen).

Manusia berpendirian seolah dengan akal budinya ia dapat merangkum dan mengerti segala-galanya sehingga segala sesuatu dapat dimasukkan ke kotak-kotak tertentu dan manusia mengambil jarak terhadapnya.

Jika anutan nilai demikian hendak digali dari cara-cara kelompok masyarakat modern bermukim, itu jelas terlihat dari masih dominannya tuntutan persyaratan privasi mewarnai pola pemukimannya sehingga tanpa sadar menggeser kebutuhan komunikasi optimal dengan lingkungannya. Akibatnya, bentuk-bentuk arsitektur yang dianut cenderung hanya memberikan kesenangan pada pribadi–selera penghuni–, namun kehilangan konteks dalam lingkungannya yang lebih luas.

Meskipun kemajuan teknik perancangan telah mampu memanfaatkan sumber daya dan potensi lingkungan dalam arsitektur secara optimal, yang terjadi akhirnya justru sedikit sekali sumbangan yang diberikan karya arsitektur modern bagi kelayakan tata ruang semesta dan lingkungan.

Arsitektur modern menjadi semakin molek, namun kehilangan harmoni lingkungan. Ia mengucilkan penghuninya dalam batas-batas yang ketat dan lebih berorientasi pada kepentingan pribadi-pribadi.

Kekuatan

Atas adanya gejala di atas, agaknya diperlukan suatu pendekatan yang lebih berwawasan lingkungan. Pendekatan demikian lebih memberikan arti bagi arsitektur sebagai lingkungan binaan yang merupakan bagian dari lingkungan semesta yang luas.

Pendekatan baru itu hendak melihat interaksi arsitektur dan lingkungan tidak hanya sebagai usaha pemanfaatan sumber daya lingkungan bagi arsitektur belaka, namun lebih memerhatikan bagaimana karya arsitektur secara luas dapat memberikan sumbangan bagi terbentuknya tata ruang makro yang layak.

Dalam praktik perancangan, kesulitan yang terjadi adalah apa batas-batas pengendalian yang hendak dipakai agar pendekatan di atas terjamin kelangsungannya, mengingat keputusan akhir praktik perancangan dan sosial yang berlaku.

Jika dalam masyarakat tradisional batas-batas pengendalian demikian berada di tangan kesepakatan masyarakat itu sendiri, dalam masyarakat modern fungsi demikian tentu tidak bergeser dalam kewenangan lembaga tertentu. Itu berarti menjamah masalah-masalah hukum dan kesadaran hukum dalam masyarakat sendiri.

Pada akhirnya, masalah-masalah arsitektur menjadi melebar sedemikian luasnya dan menuntut kemampuan untuk mengatasi berbagai konflik yang terjadi. Perhatian terbesar adalah justru masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang memerlukan sumbangan dari berbagai disiplin ilmu.

Agaknya hal itu akan mengundang pembicaraan yang lebih luas. Hal demikian membuktikan arsitektur bukan karya dari pribadi-pribadi, melainkan lebih mencerminkan anutan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Orang bijak telah berkata, “Dari tahu rumahnya, kita kenal adatnya!”

Sumber : Media Indonesia

Silahkan download artikel diatas dalam bentuk format pdf [klik disini]

Satu Balasan ke Arkeologi Hunian Arsitektur Ruang Semesta

  1. […] Arkeologi Hunian Arsitektur Semesta, klik disini […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: