Belakang

PERSATUAN Rumah Sakit Indonesia Cabang Jawa Timur mengundang saya untuk menjadi pembicara di acara tahunan mereka di Surabaya, minggu lalu. Maka, berangkatlah saya. Di Bandara Soekarno-Hatta, beberapa menit saat boarding, saya dan sejumlah penumpang menunggu bus, yang mengantar dari gate menuju pesawat. Kami delapan orang dari Indonesia dan lima orang dari Singapura. Saya tahu identitas mereka, ketika mereka mengobrol dengan sesamanya. Pas bus datang, saya melihat sebuah fenomena unik. Semua penumpang asal Singapura dengan enteng masuk bus lewat pintu depan. Anehnya, semua penumpang Indonesia masuk lewat pintu belakang. Lho, kok beda? Ketika acara hampir mulai di Surabaya, sebagian bangku di baris depan masih banyak yang kosong. Sedangkan bangku di belakang sudah penuh sesak. Saya pun mempersilakan peserta untuk mengisi bangku di depan, yang lebih baik posisinya, karena bisa lebih jelas melihat dan mendengar presentasi.Anehnya, tidak ada satu pun peserta yang termakan bujukan saya. Malah ada seorang peserta yang juga dokter nyeletuk dengan renyahnya: ”Ah, biar di belakang saja, lebih enak!” Sempat saya tertawa mendengar celetukan sang dokter itu. Ini penyakit kronis yang melanda bangsa ini. Kita semua merasa kurang percaya diri sebagai bangsa. Entah kenapa, kita dijajah rasa malu, rasa ragu-ragu, dan rasa tidak yakin. Rasa pesimisme yang membuat lebih enak, dan nyaman di belakang mengambil posisi yang pasif.Malam hari, saya tidak bisa tidur. Ada perasaan sedih yang sangat dalam di hati saya. Sebagai anak Indonesia, saya selalu bangga dengan Indonesia. Apa pun situasi dan statusnya. Tapi, kenapa kita masih juga bangga dengan posisi di belakang? Kenapa posisi belakang membuat kita lebih nyaman?

Pulang dari Surabaya, selang dua hari, saya berangkat menuju Medan. Saat mau boarding, kami diarahkan menuju gate nomor sekian. Tapi rupanya, situasinya sama dengan beberapa hari yang lalu. Pesawat parkir di tempat lain. Terpaksa kami diantar dengan bus menuju gate yang dimaksud. Kebetulan ada staf airport yang ikut mengantar kami. Ketika sampai di gate termaksud, kami dilarang lewat. Staf yang ikut dengan kami dibentak. Katanya, ada pesawat maskapai asing mau boarding. Baru saja mau boarding dan belum boarding, kami disuruh turun tangga dan mengambil jalan memutar.

Tentu saja saya jadi marah. Saya tersinggung, karena sang petugas dengan akal sehat sebenarnya bisa mempersilakan penumpang lewat. Dan itu tidak akan makan waktu barang semenit pun, tidak akan mengancam keselamatan siapa pun, dan tidak akan mengganggu operasi siapa pun. Namun staf yang menyertai kami dengan memelas meminta saya ikut dengan dia untuk mengalah, dan mengambil jalan memutar. Staf tersebut sambil meringis berkomentar, ”Maklumlah, Pak, warna seragam kami beda. Saya kalah pangkat.”

Yang membuat saya geram, karena pesawat yang mau boarding itu kebetulan pesawat maskapai asing. Dan kalau dengan orang asing, seolah-olah kita langsung kalah set, kalah status, dan kalah segala-galanya. Kita dibikin terbelakang secara sengaja.

Esok harinya, ketika mau pulang ke Jakarta, saya duduk di lounge sambil menikmati kopi. Tiba-tiba datang seorang staf. Di tiket saya, saat itu kebetulan saya mendapat nomor 1E, duduk di depan. Staf itu dengan memelas mengatakan bahwa tadi, ketika check-in, komputer mati, sehingga saya diberi nomor bangku yang salah. Saya pun marah dan naik pitam, karena tiket saya dicetak dengan komputer. Jadi, tidak mungkin komputer mati dan salah kasih nomor. Jelas, staf tadi cuma mengada-ada.

Usut punya usut, rupanya ada anggota DPR yang merasa terhina kalau duduk di belakang. Dia ngotot harus duduk di depan, supaya status dan gengsinya terjaga. Saya pun ditawari nomor kursi lain. Kata sang staf, ”Di belakang saja, Pak, lebih enak, sebelahnya kosong.” Dengan terpaksa, akhirnya saya duduk di belakang.

Anehnya, ketika di pesawat, saya melihat di depan di nomor 1A, ternyata ada bule. Duh, hati saya menjadi sangat panas. Lho, kok beraninya hanya menggeser orang Indonesia. Kenapa tidak berani menggeser bule? Malam itu, saya tidak bisa tidur lagi. Di dada saya ada sesuatu yang menggelora. Saya harus jadi presiden. Saya tidak mau lagi dibuat ke belakang dan dijadikan terbelakang. Saya mau jadi presiden, biar selalu dibuat ke depan dan terdepan.

Kafi Kurnia

Source : http://www.gatra.com/artikel.php?id=94197

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: