Belakang

November 1, 2007

PERSATUAN Rumah Sakit Indonesia Cabang Jawa Timur mengundang saya untuk menjadi pembicara di acara tahunan mereka di Surabaya, minggu lalu. Maka, berangkatlah saya. Di Bandara Soekarno-Hatta, beberapa menit saat boarding, saya dan sejumlah penumpang menunggu bus, yang mengantar dari gate menuju pesawat. Kami delapan orang dari Indonesia dan lima orang dari Singapura. Saya tahu identitas mereka, ketika mereka mengobrol dengan sesamanya. Pas bus datang, saya melihat sebuah fenomena unik. Semua penumpang asal Singapura dengan enteng masuk bus lewat pintu depan. Anehnya, semua penumpang Indonesia masuk lewat pintu belakang. Lho, kok beda? Ketika acara hampir mulai di Surabaya, sebagian bangku di baris depan masih banyak yang kosong. Sedangkan bangku di belakang sudah penuh sesak. Saya pun mempersilakan peserta untuk mengisi bangku di depan, yang lebih baik posisinya, karena bisa lebih jelas melihat dan mendengar presentasi.Anehnya, tidak ada satu pun peserta yang termakan bujukan saya. Malah ada seorang peserta yang juga dokter nyeletuk dengan renyahnya: ”Ah, biar di belakang saja, lebih enak!” Sempat saya tertawa mendengar celetukan sang dokter itu. Baca entri selengkapnya »