Refleksi Soempah Pemoeda : Pemuda Ash-Habul Kahfi

Oleh : Ahmad Kosasih,
(Dosen PAI Universitas Negeri Padang)

Tersebutlah sebuah kisah pada zaman dahulu, ada tujuh orang pemuda yang beriman dan berpendirian kokoh, dimasa pemerintahan seorang raja yang terkenal zalim. Para pemuda itu telah menyampaikan protes atas kondisi masyarakat yang sedang bergelimang dengan kemusryrikan dan dililit kezaliman yang justru didukung oleh penguasanya. Keberanian dan ketegasannya dalam menyampaikan suara kebenaran malah mendapat tantangan dari Dyqyanus, raja yang berkuasa saat itu, serta memaksa mereka untuk keluar dari kampung halamannya sehingga mereka menyingkir ke dalam sebuah gua. Mereka rela meninggalkan segala kenikmatan hidup duniawi sebagaimana lazimnya dinikmati oleh anak-anak penguasa dan penjabat-penjabat negara. Didalam gua itu mereka bermunajat kepada Allah sampai tertidur selam 309 tahun. Mereka itulah yang dikenal sebagai As-habul Kahfi (Pemuda Penghuni Gua) seperti yang diungkapkan Allah dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

 ”Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyerukan Tuhan selain dia, sesungguhnya kami kalu demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (Q.S Al-Kahfi :13-14).

Menurut riwayatnya, sebelum ketujuh pemuda itu diusir, raja pernah membujuk mereka supaya kembali kepada agama nenek moyangnya sebagaimana yang dianut oleh raja itu. Namun usaha tersebut sia-sia saja malah sebaliknya, merekalah yang justru mendakwahi raja dan pembantu-pembnatunya supaya beriman kepada Allah, tuhan yang Maha Esa serta meninggalkan segal bentuk kemusryrikan dan kaezalimannya.Suatu hal yang menarik di sini ialah bahwa ketujuh pemuda tersebut bukan berasal dari orang kebanyakan tapi adalah anak-anak pembesar kerajaan. Mereka biasa hidup dengan kemewahan dan berbagai fasilitas seperti layaknya anak-anak pejabat negara. Tapi mereka rela meninggalkan segala kemewahan itu demi mempertahankan keimanan (akidah) serta harga dirinya. Sebuah fenomena yang amat langka dan berbanding terbalik dengan apa yang biasa terlihat di zaman sekarang ini. Bukanlah suatu hal yang mustahil menikmati berbagai fasilitas negara, sejak dari rumah mewah, kendaraan, perusahaan sampai kebebasan dalam penggunaan senjata api dsb.

Bahkan hukum seakan-akan dapat ia “beli” dan penjara pun dapat ditebus sesuai dengan keinginan seleranya. Berbeda dengan pemuda Ahli Gua itu sudah dibekali Allah dengan keimanan yang kuat serta pendirian yang teguh. Mereka adalah sosok pemuda-pemuda yang berani menyampaikan kebenaran dan tegak di atas pendirian yang teguh dalam menjalani kebenaran iti di tengah-tengah hiruk-pikuknya suara gendang kezaliman, keangkuhan, kemunafikan serta keserakahan nafsu kekuasaan. Al-Qur’an menjulukinya dengan fityatun amanu (pemuda yang beriman). Sebagaimana firman-Nya:

”…… sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (Q.S.Al-Kahfi:13)

Pemuda Pelopor

Sejarah perjuangan Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaannya telah menjadikan para pemuda sebagai pelopor. Merekalah yang selalu berada pada garda terdepan dalam setiap misi dan aksi untuk membebaskan bangsanya dari cengkeraman penjajahan serta penindasan. Sebut saja misalnya Pengerakan Budi Oetomo (1980), Sumpah Pemuda (1928) dan para pemuda pejuang menjelang lahirnya Proklamasi 17 agustus 1945 di bawah pimpinan Soekarno dan Hatta.
Melalui ikrar Sumpah pemuda yang intinya berisi kebulatan tekad yakni : berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia, Lahirlah semangat baru untuk berjuang secara bersama-sama tanpa memandang suku dan etnik, menuju kemerdekaan Indonesia. Semangat kebersamaan ini pulalah kiranya yang perlu kita pupuk dan kita bangkitkan kembali setelah mengalami sedikit degrdasi sebagai dampak dari reformasi diidentikkan dengan liberalisme atau kekerasan tanpa batas sehingga sering berujung dengan kerusuhan disana-sini yang dapat berakibat disintegrasi ke depan. Berbagai fenomena turut menjadi saksi betapa ancaman itu semakin menguat dengan merebaknya kerusuhan di berbagai pelosok tanah air sejak negeri ini memasuki era reformasi. Sementara penegakan hukum kian melamah di tengah-tengah semakin bangkitnya kembali kekuatan “status quo” yang tidak menginginkan terjadinya perubahan/perbaikan. Di samping itu bermunculan pula kelompok-kelompok oportunis yang suka menangguk di air keruh dengan semboyan: “atas nama rakyat, demi rakyat atau demi Bangsaku”

Jadilah Pemuda Pemersatu

Dalam Kondisi semacam inilah peran pemuda kembali dipertanyakan. Ormas-ormas pemuda pun perlu melakukan reorientasi dan revilisasi. Jangan hanya menjadi subordinasi dari kelompok atau golongan tertentu atau sekedar menjadi “bodyguard” partai tertentu yang berpotensi menciptakan kerusuhan yang baru bukan menjadi pemuda pelopor persatuan. Karena itu, sempena memperingati hari sumpah pemuda yang ke-79 ini kita menghimbau kepada para pemuda/generasi muda negeri ini baik yang berada di jajaran pemerintah, partai politik, lembaga legislatif maupun yang sedang menekuni bangku pendidikan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, jadilah pemuda pelopor kemajuan di bidang masing-masing, hindari tindakan-tindakan anarkis yang dapat mengoyak-ngoyak persatuan dan persaudaraan/ukhuwah.

Baik persaudaraan sesama umat manusia (ukhuwah insaniyahI), maupun persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah wathoniyah) dan persaudaraan seiman/seagama (ukhuwah imaniyah). Partai bukanlah tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa partai adalah salah satu alat untuk meraih kekuasaan, lalu untuk apakah kekuasaan itu digunakan? Dalam perspektif Islam, kekuasaan pun bukan tujuan tapi alat untuk mencapai tujuan yang hakiki adalah tegaknya “amar ma’ruf nahyi munkar” demi terciptanya keselamatan dan kesejahteraan hidup yang sekarang (dunia) dan di alam sana (akhirat). Hakikat itu menyiratkan sebuah pesan agar kita senantiasa menyokong segala kegiatan yang bersifat positif dan menkritisi serta mencegah segala sisi negatifnya.

Jangan tekad itu menguat saat pemilihan dan setelah duduk di kursi kekuasaan lupa pada komitmen semula. Khusus pada politisi muda Islam, baik yang duduk di partai Islam, partai yang berbasiskan konstituen muslim maupun partai-partai lainnya lakukanlah pencerahan kepada umat dengan memberikan pendidikan/pembelajaran politik secara benar. Umat harus dicerdaskan bukan malah diperbodoh, dibohongi dan diperalat guna meraih kepentingan tertentu. Ambillah semangat dari pemuda ashabul kahfi itu sebagai landasan moral dan spiritual kehidupan yang bersifat universal serta semangat sumpah pemuda sebagai landasan kehidupan berbangsa dan berbegara di negeri yang plural ini.

Sumber : Padang Ekspres-Sabtu, 27-Oktober-2007,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: