“Social Shame” Versus Pembelajaran Primer

Oleh : Hayyan ul Haq *)

Tertangkapnya Irawady Joenoes –Koordinator Bidang Pengawasan Kehormatan, Keluhuran Martabat, dan Perilaku Hakim Komisi Yudisial– sesaat setelah menerima suap atas pembelian tanah untuk pembangunan kantor Komisi Yudisial (Kompas, 28/9/2007) mengguncang dunia pengembanan hukum praktis kita.

Kasus ini menunjukkan, selama ini komitmen pengembanan hukum di Tanah Air tidak lebih dari sekadar kepura-puraan. Epidemi korupsi tidak saja telah meracuni publik, tetapi juga privat, bahkan lembaga peradilan, hingga lembaga pengawas dan penyelia jalannya pengembanan hukum di Tanah Air.

Tidak heran jika survei Transparency International menempatkan Indonesia dalam daftar negara-negara terkorup di dunia. Dari tahun 2002 hingga 2004, Indonesia ditempatkan dalam negara terkorup dengan indeks persepsi korupsi (IPK) di bawah 2,0 dari rentang (0-10). Tahun 2005, dari 2,2 naik tipis menjadi 2,4 di tahun 2006, lalu turun lagi menjadi 2,3 di tahun 2007 (Transparency International Indonesia, 27/9/2007). Data itu menunjukkan, dari tahun ke tahun tidak ada perubahan berarti, bahkan cenderung kemunduran. Ini menunjukkan bangsa ini mengalami kegagalan pembelajaran. 

Perubahan dan konservasi waktu

Perubahan atau dinamika adalah ciri utama keberadaan makhluk hidup (living system). Jika makhluk hidup tidak mengalami perubahan, berarti ia mengalami kematian. Dalam Principle of Conservation of Time Passage, Rosnay (Macroscope, 1979) mengingatkan, daya pembeda yang paling jelas antara manusia dan makhluk hidup lain adalah kemampuan mengonservasi waktu. Hal ini diartikan sebagai kemampuan memperbaiki kualitas peradaban melalui peningkatan cita nilai, kepekaan, kreativitas, dan produktivitas.

Untuk itu, diperlukan pembelajaran. Kegagalan melakukan pembelajaran mengakibatkan kita identik dengan manusia tetumbuhan (vegetative human). Bukankah kualitas kehidupan pada hewan dan tumbuhan sejak ribuan tahun silam tetap seperti sekarang, tidak mengalami perubahan? Berbeda dengan manusia yang belajar. Ia akan kian kreatif, produktif, dan bermartabat. Produk pembelajaran inilah yang meningkatkan kualitas peradaban. Keberhasilan pembelajaran ini membuat manusia memiliki kemampuan mengonservasi waktu.

Namun, manakala kita menyimak performa pengembanan hukum praktis di atas, ternyata kita gagal mengonservasi waktu. Dari waktu ke waktu, nyaris tidak ada perubahan atau perbaikan signifikan. Dalam learning system, jika tidak ada perubahan atau perbaikan perilaku dan tindakan, berarti pembelajaran tidak terjadi. Ketiadaan pembelajaran ini tidak saja mengakibatkan kita termasuk kelompok manusia tetumbuhan, tetapi juga memperburuk kualitas kehidupan kolektif kita, yang pada gilirannya membuat kita malu tampil di hadapan publik (social shame).

Pembelajaran primer

Menghilangkan social shame hanya dapat dilakukan melalui perubahan kolektif yang signifikan. Untuk itu, kita dituntut berani meninggalkan “zona kenyamanan” melalui pembelajaran primer. Tujuan pembelajaran primer adalah untuk meningkatkan keterlatihan dan keterampilan individu dalam berbuat baik dan benar di ranah tindakan. Karena itu, pembelajaran primer ini harus diikuti komitmen yang kuat untuk terus belajar mengubah mental model, meningkatkan personal mastery, dan membangun tim pembelajaran dan visi bersama. Upaya itu diperlukan untuk meningkatkan kualitas nilai (derajat moralitas dan semangat membumikan kebenaran, kebaikan, dan keadilan), sumber daya (materi, pengetahuan, informasi, teknologi, dan relasi), dan praktik (keterampilan, profesionalitas), baik di tataran individu, masyarakat, maupun pemerintah menuju gerakan struktural masyarakat yang sebangun (congruent structural drift).

Perubahan struktur yang signifikan itu hanya dapat dilakukan melalui tindakan kolektif. Hal ini harus diawali dengan komitmen diri yang bersandar pada kekuatan dialog. Dialog ini diperlukan guna merajut komitmen kolektif dalam upaya menciptakan interaksi yang bermakna. Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan nilai bersama (shared values). Sejalan dengan hal itu, Habermas (1984), dalam communicative action-nya, menawarkan tiga validitas dalam interaksi: (i) kebenaran, (ii) kejujuran, dan (iii) normatif. Intinya, bagaimana agar dalam kehidupan sehari-hari, kita berlatih menyampaikan kebenaran secara jujur dalam rangka kebaikan atau kepatutan sehingga dapat menjamin terciptanya shared values yang menjadi basis tindakan kolektif. Hal ini perlu dilembagakan guna menciptakan medium pembelajaran yang terus mengasuh dan memperkuat identitas kolektif yang mengonstruksi budaya hukum yang baik sebagai basis menuju ideal state of social order.

Etika dan profesi hukum

Pelembagaan ini dapat dimulai dari pereformasian kurikulum pendidikan hukum yang berbasis pembelajaran primer. Misalnya, untuk materi kuliah etika dan profesi hukum, tidak hanya ditekankan aspek teoretis, tetapi harus lebih banyak memberi ruang pembelajaran untuk mempraktikkan etika hukum di ranah perilaku dan tindakan. Hal ini dimaksudkan untuk melatih calon pengemban hukum melekatkan dan mempraktikkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan keadilan dalam perilaku dan tindakan.

Secara teknis, hal ini dapat dilakukan melalui berbagai simulasi, misalnya kita dapat mendesain aturan main yang ideal dalam diskusi, dialog, seminar, dan pergaulan sehari-hari dengan kolega dan civitas academica dan anggota masyarakat yang lebih luas. Beberapa materi kuliah yang terkait dengan keterampilan dan kemahiran hukum yang didasarkan penerapan etika ini telah dilembagakan pada Utrecht Law School dengan hasil memuaskan. Cara pengapresiasiannya harus berbasis kompetensi. Dalam hal ini, setiap calon pengemban hukum yang kerap berhasil berinteraksi dan membantu koleganya ataupun masyarakat dalam memecahkan masalah hukum yang dihadapinya berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan, etika, dan moralitas yang baik dapat dinilai kompeten dalam mengemban hukum.

*) Hayyan ul Haq, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum, Utrecht University, Belanda.

Dewan pakar ICMI Orwil Eropa

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/anggotaicmi/message/5547

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: