Mandulnya Cita-Cita Pendidikan

Paulus Mujiran *)

CITA-CITA pendidikan yang digagas para pelopor pendidikan negeri ini belum sepenuhnya tercapai. Pendidikan saat ini cenderung hanya memerhatikan intelektualitas belaka dan tidak memberikan kemerdekaan kepada anak didik. Pendidikan yang lebih menekankan aspek intelektual belaka memisahkan antara intelektual dan rakyatnya. Akibat yang lebih jauh, mereka tidak memiliki empati dengan rakyatnya.

Intelektualisme dalam pendidikan juga menyebabkan pendewaan berlebih terhadap gelar. Dengan berbagai cara peserta didik mencari gelar karena di dalamnya melekat simbol status sosial, kedudukan, harkat, dan martabat. Tragisnya, fase itu menempatkan penghargaan atas diri seseorang lebih didasarkan pada gelar yang disandang, jabatan yang mampu diraih, dan bukan keunikan pribadi yang melekat pada diri seseorang.

Pendidikan yang demikian menyebabkan peserta didik berorientasi bagaimana mendapatkan nilai mata pelajaran setinggi mungkin. Namun, serapan yang mengubah haluan hidup dan orientasi cenderung terabaikan. Cita-cita seseorang yang sebenarnya sangat unik dalam setiap pribadi manusia agaknya mampu diarahkan seperti sakelar dalam mesin yang sudah disetel. Dengan demikian, warna yang akan muncul juga sudah mampu diprediksi.

Itu sebabnya dalam dunia kerja sudah lama mengeluhkan kuatnya penguasaan dalam bidang yang berhubungan dengan pengetahuan, tetapi kering dalam olah rasa dengan orang lain. Padahal, ukuran keberhasilan kerja dan juga hidup sangat ditentukan kemampuan hidup bersama dengan orang lain. Celakanya, sekolah beranggapan bahwa bidang itu adalah urusan keluarga, lembaga agama, dan masyarakat.

Namun jika dirunut ke belakang ketika orang tua ‘memasrahkan’ anaknya seharian penuh ke sekolah, itu merupakan bentuk kegagalan orang tua, lembaga agama, dan lingkungan masyarakat dalam mendidik. Mengapa orang tua sampai merasa perlu mengirimkan anaknya seharian di sekolah? Karena di masyarakat, di keluarga, dan lingkungan anak mudah ‘diracuni’ nilai-nilai yang tidak mendidik.

Di sekolah, orang tua mengharapkan anak selain mendapat bekal pengetahuan yang menekankan aspek intelektual, juga pengolahan kepribadian, olah rasa, budi pekerti dan hal-hal yang menekankan aspek humaniora. Namun, tekanan bertubi-tubi terhadap sekolah yang menekankan aspek intelektual bahkan perlu standardisasi yang berskala nasional membuat sekolah melupakan tugasnya dalam mendidik. Sekolah bermetamorfosis sebagai pengajar yang mentransfer ilmu bukan sebagai pendidik yang mengubah hidup dan kepribadian seseorang.

Yang ada adalah kegiatan menjejali otak peserta didik dengan serangkaian konsep dan teori yang bermanfaat dalam ujian nasional. Tidak kalah tragis, berbagai metode dan konsep yang diberikan tidak disertai dengan aplikasi yang membantu peserta didik mampu memanfaatkan dalam kehidupan nyata. Keringnya metode aplikasi itu menyebabkan kebanggaan peserta didik hanya pada saat lulus ujian, naik kelas. Namun, itu akan segera hilang karena bekal satu-satunya hanyalah selembar ijazah yang berisi angka-angka.

Tidak berdaya

Sementara itu, bekal kepribadian yang mengakar dalam batin seperti keteladanan, kerja keras, sopan santun, keberanian menghadapi masalah, kemampuan bergaul dengan orang lain, dan semangat tidak putus asa tidak pernah didapatkan. Maka selepas sekolah mereka tidak siap menghadapi hidup yang sesungguhnya. Dengan mudah ditebak mereka akan segera ‘kekeringan’ karena kehausan dalam bidang itu, yang memang tidak mampu diperankan selembar ijazah.

Para pendidik sebenarnya tahu ada masalah dalam hal itu. Namun, mereka tidak berdaya. Apalagi mereka ditekan pemerintah untuk mengikuti pola standardisasi yang melelahkan seperti ujian nasional. Hari-hari mengajar habis untuk membekali peserta didik siap menghadapi ujian. Di kalangan sendiri tidak kalah hebohnya berupa program sertifikasi guru yang malah membuat stres.

Pendidikan yang menekankan intelektual dan menekankan pemikiran belaka membuat anak didik tidak mendapatkan bimbingan. Pendidikan demikian biasa disebut pendidikan yang tidak berjiwa. Padahal, pendidikan yang berjiwalah yang mampu membentuk peserta didik memiliki visi ke depan. Yang aneh dalam pemilihan sekolah yang hiruk pikuk belakangan ini bukan sekolah yang mampu membentuk kepribadian seseorang yang dicari, melainkan sekolah-sekolah yang mampu menciptakan peserta didiknya menjadi juara.

Jika menilik sejarah, visi pendidikan masa lalu diarahkan ke visi pencerahan mencapai kemerdekaan. Setelah kemerdekaan tercapai pendidikan diarahkan ke bagaimana mengisi dan mempertahankan kemerdekaan. Namun, visi itu belakangan menjadi kabur dan kehilangan substansinya. Peserta didik tidak mudah diarahkan pada satu tujuan mencapai, misalnya, kemerdekaan. Musuh bersama masa lalu adalah kebodohan, keterbelakangan.

Namun dengan semakin kompleksnya persoalan-persoalan masyarakat, tidak gampang menemukan musuh bersama dalam pendidikan dewasa ini. Justru pendidikan yang menyerah kalah ketika semua yang bernilai global dipuja-puji, sedangkan kearifan lokal yang bersinggungan dengan dunia peserta didik diabaikan. Padahal, nilai-nilai yang tertanam dan mengakar dalam kearifan lokallah yang terbukti mampu menjadi pelindung ampuh di era sekarang.

Transfer pengetahuan

Sayangnya, para pemuka masyarakat, juga pendidik, tidak lagi bangga dengan semangat kegotong-royongan, keramah-tamahan yang melekat pada budaya bangsa sendiri. Budaya seperti itu dipandang kuno dan kurang relevan dengan zaman sekarang. Akibatnya gairah mempelajari apalagi menghayati lenyap dari ingatan dan kehendak seseorang.

Pada sisi yang sama sistem pendidikan kita saat ini masih sangat terpengaruh dan mengikuti arus global sehingga penyelenggaraannya memiliki kekurangan dalam hal orientasi sasaran dan kesadaran terhadap potensi yang dimiliki. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya memiliki kesadaran terhadap sasaran yang ingin dicapai. Meminjam istilah Conny Semiawan (2007), mendidik dalam dunia pendidikan saat ini hanyalah mentransfer pengetahuan.

Para pendidik kurang menyampaikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi masa depan peserta didiknya. Sekalipun ada usaha menyampaikan nilai-nilai, pendidikan tetap kurang menyentuh. Apalagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, saat ini dibebani dengan berbagai standardisasi termasuk ujian nasional. Standardisasi pendidikan sama sekali tidak menyentuh orientasi kesadaran akan tujuan dari penyelenggaraan pendidikan. Orientasi sasaran pendidikan telah hilang bersamaan dengan penetapan standar nilai dari hasil ujian.

Yang perlu mendapat penegasan apakah negara punya hak untuk mengarahkan peserta didik mendalami secara sangat mendalam tiga mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Jika pengondisian hanya diarahkan untuk bidang ajar matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, peserta didik akan kehilangan kesempatan mengapresiasi seni, sastra, cinta alam, dan humaniora yang membantu peserta didik hidup serta bergaul di tengah-tengah masyarakat.

Saat ini yang dibutuhkan bukan sebatas refleksi, melainkan aksi oleh berbagai pihak untuk pendidikan. Pemerintah sebenarnya telah memiliki visi dan misi yang bagus, tetapi ketika harus beraksi sepertinya tidak tahu harus melangkah ke mana. Yang terjadi justru terkesan mereduksi pendidikan. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, misalnya, dalam penerapannya kemudian lebih banyak diterjemahkan sebagai sistem persekolahan.

Akibatnya lebih banyak fokus pada urusan persekolahan, seperti persoalan ujian nasional. Sementara itu, hal-hal yang terkait dengan makna pendidikan yang sebenarnya justru lupa dibicarakan. Pendidikan kemudian lebih berbicara tentang standar-standar.

Agar terjadi perubahan yang mendasar, perlu ada perubahan dalam mengelola pendidikan. Pendidikan perlu direvitalisasi supaya dapat menjadi pemain aktif dalam memanusiakan manusia. Pada gilirannya pendidikan berkontribusi konkret dalam memecahkan masalah-masalah masyarakat.

*) Paulus Mujiran, Pendidik, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/message/3153

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: