Debat Kusir


Anda tentu pernah dengar kata “kusir”, itu lho, yang kerjanya mengendalikan kuda supaya bagus jalannya. Kusir, ya supir bendi atau dokar atau delman atau sado atau cikar atau apalagilah namanya. Di kota kelahiran saya kusir-kusir yang  tengah menanti penumpang, duduk di bendinya masing-masing, yang di parkir berbaris, biasanya di mulut pasar yang suaranya gemuruh. Untuk menghilangkan jenuh kusir-kusir ini biasa ngobrol dan kadangkala bersoal jawab atau berdebat. Karena masing-masing duduk di bendi masing-masing, berjarak lebih kurang 2,5 m satu sama lain, dan karena suara pasar yang riuh, seringkali omongan yang satu tidak terdengar jelas oleh yang lain. Ini satu contoh diskusi atau debat mereka mereka :

“Anak kuda saya yang belang itu akhirnya mati kemaren” kata Panduko Sutan.
“Wah berduit angku sekarang, siapa yang membeli?” timpal Malin Ameh.
“Entahlah, waktu saya buka pintu kandang saya dapatkan dia sudah mati kaku”
“Bagalau cerita angku, mana mungkin anak kuda bendi mau dijadikan kuda pacu”
“tidak pernah saya menyapihnya, bahkan dia lagi kuat-kuatnya menyusu”
“Orang kelebihan uang barangkali. Berapa dibelinya?”
“Sudah tujuh bulan. Sedang elok-eloknya”
“tujuh juta? Benar-benar saya tidak percaya. Angku traktirlah saya makan kalau begitu”

Tiba-tiba Mantari Labiah ikut menimpali :
“Bagaimana kabar anak kuda belang Panduko tempo hari. Biarlah saya yang memelihara untuk menggantikan kuda yang sudah tua ini”
“Eee, Mantari, kami lagi mahota kuda, Mantari menanyakan janda, nantilah kita sambung, penumpang saya sudah penuh” sergah Panduko Sutan sebelum berlalu dengan bendinya.
    
Sumber : http://www.mail-archive.com/rantau-net@rantaunet.com/msg01723.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: