Tahun 2020 : RI Besar Dalam Dominasi Asing

Juli 19, 2007

 

Oleh : Sayidiman Suryohadiprojo *)

Belum lama ini ada berita bahwa Dinas Intelijen AS mengeluarkan prediksi tentang kekuatan negara di dunia tahun 2020. Dalam prediksi itu, Indonesia diperkirakan menjadi negara ke-5 atau ke-6 di dunia setelah AS, China, India, Brasil, dan Jepang. Melihat kondisi Indonesia dewasa ini timbul pertanyaan apakah itu mungkin dapat terjadi. Mungkin sekali yang dipakai sebagai ukuran adalah Produk Domestik Bruto, PDB, atau Gross Domestic Product (GDP) yang dicapai Indonesia pada tahun 2020. Ada sementara pakar ekonomi mengatakan bahwa mungkin saja itu terjadi, mengingat besarnya sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Akan tetapi mungkin sekali angka PDB Indonesia akan jauh lebih tinggi dari angka Produk Nasional Bruto PNB, atau Gross National Product (GNP). Seperti kita ketahui, angka PDB menunjukkan seluruh produksi yang terjadi di bumi Indonesia, baik dari produsen Indonesia maupun pihak asing. Sementara itu, PNB adalah produksi bangsa Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri.PDB tinggi itu lebih disebabkan oleh produksi pihak asing di Indonesia. Produksi bangsa Indonesia yang dinyatakan dalam PNB akan jauh lebih rendah dari PDB. Sekarang saja PDB sudah lebih tinggi dari PNB yang menunjukkan bahwa produksi pihak asing di Indonesia lebih besar dari produksi bangsa Indonesia. Menurut Biro Pusat Statistik untuk tahun 2005 PDB berjumlah Rp 2.729,7 triliun, sedangkan PNB Rp 2.644,3 triliun. Kalau Indonesia menjadi negara kelima terbesar di dunia dilihat dari PDB, sedangkan selisihnya dengan PNBnya besar, itu berarti Indonesia yang didominasi pihak asing, tidak beda dari Indonesia di masa penjajahan Belanda. Maka prediksi pihak intelijen AS itu sebenarnya tentang Indonesia dalam status neo-kolonialisme. Prediksi itu mengandung niat untuk menjajah kembali Indonesia pada tahun 2020, sekalipun dengan cara amat halus. Baca entri selengkapnya »


Tempayan Retak

Juli 19, 2007

  

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, yang satunya tidak. Tempayan yang tidak retak selalu dapat membawa air penuh dari mata air ke rumah majikannya, sedang tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari yang seharusnya dapat diberikannnya. Tertekan oleh kegagalan ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,”Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa kamu merasa malu?” “Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air karena retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi.” kata tempayan itu. Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak dan berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Baca entri selengkapnya »