Konsep pendidikan yang masih relevan: MENGAJAR ANAK-ANAK MAU BEKERJA


Sebagai pendidik, Moehammad Sjafei adalah juga seorang pemikir pendidikan yang berwawasan luas dan berorientasi jauh ke depan. Petualangannya memberinya banyak inspirasi dengan melihat konteks kehidupan bangsanya yang terbelakang dan terkungkung pandangan hidup yang sempit. Pergulatannya dengan dunia pendidikan, khususnya di Ruang Pendidik INS Kayutanam, kian mematangkan pemikirannya tentang pendidikan dan pengajaran.

Pada 31 Mel 1956, 30 tahun setelah mendirikan INS Kayutanam, Sjafei menulis konsep pendidikan sebagai acuan bagi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan yang di idamkannya. Sayang, saat itu konsep tersebut kabarnya tak sempat dipublikasikan. Tentu, konsep itu tak jauh berbeda dengan pandangan-pandangannya secara umum tentang pendidikan, baik yang pernah diutarakan maupun yang dikembangkannya kemudian. Tetapi, karena konsepnya itu dimaksudkan sebagai masukan bagi RUU Pendidikan, maka semangat “keindonesiaan” cukup menonjol di sana. Misalnya, dia berbicara tentang demokrasi dan tanggung jawab terhadap bangsa sebagai sasaran pendidikan. ini berbeda dengan konsep pendidikan atau pengajaran yang diutarakannya lebih sebagai acuan konseptual bagi INS Kayutanam. Menurut Sjafei, ada 10 sasaran pendidikan yang disebutnya “kelengkapan sifat” yang hendaknya dimiliki bangsa Indonesia setelah bersekolah. “Kita harus tahu benar apa yang kita kehendaki dan harus tahu pula menjabarkannya”, tulis Sjafei. Dia kemudian memang menjabarkan panjang-lebar tentang 10 sasaran pendidikan itu yang tetap relevan hingga kini. Inilah padatannya: 

1.   Sifat kemanusiaan 

Setiap pribadi memiliki cita-cita setinggi mungkin sesuai dengan kecerdasan masing-masing. Ada dua cara mencapai cita-cita. Pertama, dengan menjatuhkan orang lain, seperti dalam Perang Dunia I dan II. Kedua, dengan pertumbuhan pribadi. Dengan sifat kemanusiaan, seseorang tak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, melainkan juga keselamatan orang lain, dengan menumbuhkan kepribadiannya. 

2.   Aktivitas yang besar 

Aktivitas bersifat mutlak demi kemajuan setiap pribadi. Kesuksesan seseorang tergantung pada seberapa besar aktivitasnya. Sayang, alam dan tradisi Indonesia belum lagi memaksa aktivitas besar bagi warganya. Karena itu, aktivitas besar mesti direncanakan dan dilaksanakan secara teratur melalui pendidikan dan pengajaran sejak sekolah rendah. 

3.   Kecakapan meniru 

Ada dua jenis peniruan, yaitu meniru bulat-bulat dan meniru seraya mengembangkan apa yang ditiru. Keduanya tentu ada baiknya. Tetapi sekadar meniru bulat-bulat tak akan memajukan selangkah saja kehidupan seseorang. Karena itu, dia harus pula memiliki kemampuan mengembangkan apa yang ditiru. Dia harus memiliki daya cipta. 

4.   Kecakapan mencipta 

Negara-negara maju meningkatkan kreativitas rakyatnya dengan beragam cara, baik di dalam maupun di luar sekolah. Ada berbagai perkumpulan mereka yang mempunyai kegemaran serupa: teknik, elektro, keramik, dan lain-lain. Kalau bangsa Indonesia tak mau jadi tukang tiru, pendidikan dan pengajaran harus diarahkan pada pendidikan kreativitas ini. Banyaknya pendidikan kreatif niscaya akan membangkitkan semangat kemerdekaan jiwa yang besar. 

5.   Tanggung jawab terhadap keselamatan Negara 

Dari pengalaman dan peristiwa sejak Indonesia merdeka dapat diambil kesimpulan: masih sangat sedikit rasa tanggung jawab bangsa Indonesia terhadap Tanah Air dan bangsa sendiri. Disebabkan kekurangan pada tanggung jawab itu, banyak terjadi hal yang sangat merugikan. 

6.   Keyakinan pada demokrasi 

Orang yang tak memiliki rasa perikemanusiaan sebenarnya tak mengenal demokrasi. Dengan perikemanusiaan, timbul rasa saling menghargai yang akan melahirkan kemauan bermusyawarah dan bermufakat. Namun, bermusya warah dan bermufakat itu baru bermutu bila dilakukan oleh orang yang memiliki pengertian yang sama tentang masalah yang dibicarakan. Suatu keputusan yang ditetapkan atas suara terbanyak saja bisa mengandung risiko yang sama dengan keputusan diktator. 

7.   Jasmani yang sehat dan kuat 

Hingga sepuluh tahun mendatang, Indonesia tetap menjadi negara pertanian. Petani sangat bergantung pada tenaga badannya sendiri. Bila tenaga badan itu terganggu, hasil pertaniannya mesti berkurang. Dengan begitu, mereka akan menderita dua kerugian: pendapatan berkurang, harus pula mengeluarkan biaya berobat. 

8.   Keuletan 

Untuk mencapai kemajuan, Indonesia membutuhkan watak bangsa yang sangat ulet. Dalam perjalanan pembangunan bangsa, akan ditemui hal-hal yang mengecewakan. Tanpa keuletan, bangsa kita akan lekas patah semangat, yang akan merugikan diri sendiri dan tujuan-tujuan bernegara merdeka. 

9.   Berpikir logis dan kritis 

Peribahasa kita, seperti “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”, menunjukkan cara berpikir logis. Cara berpikir logis tentu penting. Itu membuktikan ketajaman berpikir suatu bangsa. Namun, yang tak kalah penting adalah berpikir kritis. Orang yang berpikiran kritis tidak mudah menerima apa yang dikatakan orang. Tetapi berpikir kritis tanpa berpikir logis bisa terjerumus pada berpandangan Selalu buruk tentang orang lain. 

10.   Perasaan peka dan halus 

Di zaman Belanda, lagu “Indonesia Raya” dilarang dinyanyikan, karena bisa membangkitkan perasaan yang membahayakan kedudukan Belanda sendiri. ini bukti pentingnya perasaan di tengah masyarakat. Karena itu, dalam pendidikan perlu keseimbangan antara pengasahan otak dan rasa, khususnya melalui kesenian.

10 Balasan ke Konsep pendidikan yang masih relevan: MENGAJAR ANAK-ANAK MAU BEKERJA

  1. jjfoundation mengatakan:

    Tulisan ini bagus, izinkan aku meng-copynya untuk referensi. ada satu hal yang menurut saya harus juga diajarkan kepada anak-anak, yaitu strategi belajar. ada seorang guru melapor tentang anak saya yang belum bisa menghafal perkalian, dalam hati saya berfikir seharusnya sang guru harus bisa mengajarkan strategi yang bisa membuat anak saya bisa menghafal perkalian seperti yang dikeluhkan sang guru.

  2. zulfikri mengatakan:

    Dengan senang hati silahkan di copy, semoga bermanfaat

  3. Ristiono mengatakan:

    terima kasih Pak Zulfikri atas tulisannya, mari kita saling sharing untuk memajukan anak bangsa ini lewat pendidikan, bagaimana cara menanamkan akhlak yang baik pada anak yang anak sedangkan orang tuanya tidak peduli.
    Dan saya ingin mencopy tulisan bapak.

  4. zulfikri mengatakan:

    Silahkan di copy Pak Ristiono, semoga tulisan tersebut bermanfaat

  5. Fauzi Lisa mengatakan:

    Pak Zulfikri atas tulisannya, mari kita saling sharing untuk memajukan anak bangsa ini lewat pendidikan. Kebetulan kami dari Surat Kabar Wahana Media – Sumbar, Koran yang khusus mengangkat tema/Berita tentang Dunia Pendidikan di Sumbar. Mohon Izin untuk kami angkat ke pemberitaan sebagai Opini/Artikel
    Trim sebelumnya

  6. zulfikri mengatakan:

    Silahkan Pak diangkat atau dimuat di opini SK Wahana Media. semoga bermanfaat bagi kita semua.

  7. Sestri Handayani mengatakan:

    perkenalkan saya alumni INS kayutanam. saya mau minta Izin sama bapak untuk meng-copy tulisan ini. karena saya butuh informasi tentang INS untuk menambah referensi saya dalam karya tugas akhir saya…
    terimakasi sebelumnya pak.

  8. zulfikri mengatakan:

    Sdr Sestri Handayani Ysh,

    Silahkan di copy dan di sadur tulisan diatas, mohon kiranya jangan lupa mencantumkan sumbernya.

  9. Bima mengatakan:

    Menarik sekali tulisannya, sangat inspiratif. Mudah2an kita temukan cara kreatif membongkar sesat pikir tentang pendidikan di Indonesia tercinta ini secara sinergis antar kita. Saya sedang coba lakukan di Sanggar ANAK BUMI TANI dan INCON Institute di Jogja, masih mula. Terimakasih inspirasinya.

  10. mohammad Saroni mengatakan:

    bagus pak Zul..rasanya kita memang sudah seharusnya mulai mengarahkan anak anak pada keterampilan aplikatif. mereka tidak sekedar mendapatkan keterampilan (piskomotor) dari proses pendidikan, melainkan keterampilan yang terpakai dalam hidupnya. perubahan pola kehidupan dan meningkatnya persaingan global menuntut kita selalu siap menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan, maka keterampilan aplikatif adalah solusinya. sungguh tulisan yang menginspirasi sekaligus memicu dan memacu………….sukses terus pak…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: