Ketahuilah, Binatang itu bersaudara

Pergi ke hutan? Bertualang, bertapa, cross-country, camping, jungle tracking, piknik, atau wisata alam? Silahkan, asal jangan mengutak-atik, meragukan, mencemooh ilmu ke sunyatan (ilmu kenyataan) yang berlaku di hutan itu. Ilmu itu diajarkan turun-temurun, selama tujuh turunan -bilangan tujuh keturunan- artinya tak terhingga.

Ilmu itu begini:”Pada zaman dahulu, ada seekor binatang, bentuknya entah seperti apa, diciptakan Tuhan, hidup sendirian. Ia kesepian, lalu mati. Ketika mati, dari kepalanya muncul kera, dari tangannya muncul harimau, dan kakinya muncul gajah, dari badannya muncul binatang-binatang lain.”

Ilmu itu secara resmi juga diajarkan melalul penataran -jadi semacam P-4 diera orde  baru- di dunia manusia. Setiap kali ilmu itu diajarkan, siapa saja instrukturnya, diwajibkan menutup dengan kesimpulan:

“Ketahullah, binatang itu bersaudara!” Maka, jadilah binatang-binatang hidup rukun, damai, dan aman. Di hutan itu suku harimau selalu menjadi raja, kera selalu menjadi pendeta. gajah selalu menjadi tentara, dan binatang-binatang lain menjadi warga. Begitulah aturannya”

Suatu ketika dalam penataran; seekor burung hantu berkomentar, “Itu hanya dongeng, cerita bohong. Mitos yang diciptakan harimau untuk kepentingannya!”

Seekor kera selaku penatar menyahut, “Itu ilmu ke sunyatan!”

Terjadilah perdebatan antara burung hantu dan kera.

“Bohong!”

“ilmu!”

“Kalau benar bahwa binatang itu bersaudara, mengapa harlmau makan kambing?”

“Itulah ilmu kasunyatan itu!”

“Itu berarti lain yang dibilang, lain pula yang dikerjakan.”

Semua peserta penataran tiba-tiba berdiri, dan sepertl koor mereka berteriak “Booohoong! Booohooong!”

Kera terdesak. Ia bilang bahwa ia hanya menjalankan tugas. Ia mengangkat tangan lalu berkata, “Baik, baik, saya ceritakan yang sebenamya.”

Sementara itu, yang hadir terus berteriak, “Booohooong! Booohooong!”

Kera menangis, lalu berkata dengan histeris, “Aku muak! Aku muak!”

Seperti ada setan lewat, semua terdiam, mendengarkan apa yang akan diomongkan kera.

“Saudara-saudara, maafkanlah. Saya ikut bersalah. Selama ini kita semua tertipu. Pemangsa kita angkat jadi raja. Pencuri kita angkat jadi polisi.”

Peserta bersama-sama terkejut: “Lho! Jadi, bohong betul, tho.”

Mereka merundingkan sebuah mitos baru yang akan disebarkan pada penataran-penataran. Semua sama, kecuali “dari tangan”. Bunyinya, “Dari tangan lahirlah para pemangsa.” Penataran berjalan terus, dengan cerita yang baru. Lama-kelamaan terbentuk opini di hutan bahwa harimau tidak berhak jadi raja, karena pemangsa.

Raja punya banyak telinga. Pergantian isi cerita terdengar juga olehnya. Dalam sebuah sidangnya, gajah, yang jadi kepala satpam, berkata, “Raja tidak boleh lemah.”

“Ya, tapi jangan grusa-grusu, tho.”

“Perlntahkan saja, akan kuinjak-injak mereka yang melawan.”

“Ah, jangan begitu. Mereka juga saudara kita senditi.”

“Saudara? Ah, itu hanya mitos.”

“Jadi, kau tidak percaya?”

‘Tidak. Di hutan yang berlaku ialah siapa yang kuat dia yang menang.”

“Hukum rimba!”

“Itulah ilmu kasunyatan itu.”

Akhirnya, raja meminta semua warga dikumpulkan, karena ia akan membuat pernyataan penting. Semua warga berkumpul. Jantan betina, tua muda. Dibuatlah sebuah panggung. Warga mengelilingi panggung itu. Mereka bersiap-sedia di marahi raja. Raja naik panggung.

“Aum, aum. Aku bosan, aku bosan. ”Waduh, betul tho. Raja akan marah, pikir warga. “Kalian mengira itu kekuasaan, tapi aku menyebutnya beban. Kalian mengira itu hak, tapi aku menye butnya kewajiban. Aku ingin melepas semua gelar, raja, kehormatan, dan kekuasaan. Aku sudah jadi warga biasa. Hidup di bukit, hidup di gua, mengendap-endap di gerumbul. Berjalan tanpa satpam, bercengkerama tanpa tegur-sapa.” Kemudian ia memanggil pendeta kera ke panggung, menyerahkan kekuasaan, lalu melompat turun, dan berlari sekencang-kencangnya menuju bukit.

Melihat rajanya pergi, warga hanya tertegun, mereka bungkam, tidak mengira, tidak berisik. Segalanya begitu tiba-tiba, mendadak, diluar dugaan. Warga terharu, yang disangka pencuri ternyata yang suci. Warga mulai menangis, makin lama makin keras.

Satu Balasan ke Ketahuilah, Binatang itu bersaudara

  1. heripurnomo mengatakan:

    Terima kasih ceritanya Pak. Bagus sekali untuk direnungkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: