Di bawah Pedang Inkusisi

   

Para uskup Gereja Katolik Roma, Oktober 1980 berkumpul dalam sinoda di Vatikan, cukup terkejut. Mereka diundang Paus Yohanes Paulus untuk membahas berbagai persoalan masa depan. Di luar dugaan, Uskup Besar Prancis, Paul Poupard, mengumumkan ke hendak Paus. Yakni agar kasus Galileo Galilei ditinjau kembaIi “seobyektif mungkin”.  

Hampir 350 tahun lalu Galileo, ahli matematika dan filsafat Italia, dikejar dan dihukum inkuisisi (Pengadilan Gereja Katolik). Soalnya karena, seperti anda tahu, ia berani menganut keyakinan bahwa bumi mengitari matahari yang menurut pandangan Gereja Katolik waktu itu bertentangan dengan ajaran agama. Tetapi dalam peringatan seabad kelahiran Albert Einstein , 1979, Paus Yohanes Paulus II sudah membandingkan kehormatan yang diberikan kepada Einstein dengan perlakuan yang pernah di alami Gelileo “yang tak dapat disembunyikan oleh anggota dan organisasi Gereja,” katanya. Einstein sendiri pernah menggambarkan Galileo sebagai memiliki “kemauan, kecerdasan dan keberanian mewakili pemikiran rasional menentang mereka yang di atas keterbelakangan rakyat, dan kebodohan pengajar herjubah ilmuwan atau pendeta, membela dan mempertahankan posisi kekuasaan mereka.” Pandangan Gereja waktu itu berdasarkan ajaran Ptolemaeus astronom Mesir yang hidup di abad ke-2 Masehi. Menurut Ptolemaeus, matahari, bulan, planet dan bintang semuanya berputar mengelilingi bumi yang merupakan “pusat alam semesta”. “Kalau bumi memang berputar,” katanya, untuk meguatkan teorinya sendiri, “mengapa benda yang dilemparkan ke atas jatuh di tempat yang sama?” 

Waktu itu juga di zaman Galileo belum ada konsepsi tentang gaya berat bumi seperti dirumuskan Sir Isaac Newton akhir abad ke-17. Meski begitu sebenarnya dari abad ke abad, banyak pemikir dan ahli matematika bahkan sebe lum Ptolemaeus menganut gagasan bahwa justru bumilah yang mengelilingi matahari. ltulah pula kiranya mengapa Ptolemaeus merasa perlu “mempertahankan diri”. Hanya saja pengaruh sarjana ini terlalu kuat. 

Tetapi ada yang terjadi di dunia Timur. Umar Khayyam, penyair, matematikus dan astronom dari Nishapur Iran (1048-1122) menyanggah teori Ptolemaeus di zaman ketika negeri-neri Arab diserang Eropa di awal Perang Salib itu. Ia diperintahkan Sultan Jalaluddin Malik Syah mendirikan observatoriumnya di Isfahan. Satu penggalan kisah dan penulis roman biografinya, Harold Lamb, mengisahkan bagaimana sarjana ini membuktikan kesalahan pendahulunya. Ia bawa seorang penting (mungkin Nizam, pegawai Sultan, tapi mungkin pula ulama mistikus Al Ghazali) ke menaranya. Dengan cara memutar tempat berdiri si tamu, sementara dinding dalam menara itu dipenuhi gambar planet-planet, Ia memberi kesan; karena tiadanya titik pandang untuk mengetahui pihak mana sebenarnya yang bergerak, orang bisa keliru sangka seolah planet-planet itulah yang bergerak mengelilingi dia. 

Lalu muncul pula Ulugh Beg (1394-1449), cucu Timurleng dan penguasa Samarkand di Uzbekistan, Rusia kini. Pada 1428 dia mulai mendirikan observatoriumnya di kota yang waktu itu salah satu pusat budaya Islam dan di situ ia, di katakan Encyclopaedia Britannica, “menemukan sejumlah kesalahan perhitungan Ptolemaeus, yang masih juga digunakan para astronom waktu itu.” Dan dia pulalah dunia Islam mewarisi Ilmu Falak dan Ilmu Hisab (Astronomi dan Matematik) yang masih misalnya diajarkan di pesantren pesantren besar kita. Di Eropa, dalam pada itu, baru seabad kemudian hasil Iebih lanjut diciptakan sementara perkembangan ilmu di Timur makin merosot. Pada 1543 Nicolaus Copernicus, astronom Polandia, secara matematis membuktikan bahwa bumilah yang mengelilingi matahani. Dan 21 ta hun kemudian, 1564, lahirlah Galilo.Galile, anak Pisa ini, sejak mula sudah gemar bereksperimen dan tertarik pada matematika. Hasil pemikirannyalah antara lain yang menyumbang perumusan Newton tentang gaya berat. Ketika teleskop sudah mulai dipakai di Italia itu, Galileo membuat teleskop yang lebih sempurna dan mulai mempelajari angkasa. Hasilnya adalah penemuan; ternyata bulan bukanlah benda  yang halus dan rata, permukaaanya penuh jurang dan bukit. Juga Bima Sakti bukan sekedar jalur kabut halus, ia terdiri dari ribuan bintang. Sedangkan Yupiter dikitari oleh beberapa satelit, sementara Saturnus rupanya oleh sebuah gelang

Semua kenyataan itu menambah keyakinan Galilo akan kebenaran Copernicus. Ia pun tak segan mengemukakan dan membahas pandangan itu dalam berbagai kesempatan dan tulisan. Bahkan penguasaannya atas bahasa Italia serta gayanya yang menarik membuat pandangannya tidak hanya jatuh terbatas pada dunia universitas. Dan ini membuat penguasa Gereja di Roma semakin cemas. Tahun 1616 Galileo diperingatkan. Dilarang menyebarluaskan “ideologi Copernicus” itu. Tapi ketika di tahun 1623 Paus Urbanus Vlll naik tahta, sarjana yang meluap-luap ini merasa dapat angin. Soalnya Urbanus, ketika masih bernama Maffeo Barberini, merupakan sahabat dan pelindung Galileo serta besar perhatiannya pada ilmu. Dan konon, dengan persetujuan Unbanus VIII pula Galileo menulis bukunya Dialog tentang Dua Sistem Dunia. Dalam bentuk 

diskusi gaya Sokrates, buku itu menampilkan dua tokoh yang membahas pandangan Ptolemaeus dibanding pandangan Copernicus. Tapi Urbanus memberi syarat: kesimpulan buku itu harus memperkuat pandangan Gereja. Pokoknya Ptolemaeus harus menang. 

Tahun 1629 buku selesai. Tapi, ketika Ia minta izin Vatikan untuk menerbitkannya, ternyata ía menemui berbagai hambatan. Vatikan menunda nunda. “Bulan dan tahun berlalu,”keluh Galileo, “hidupku menjadi mubazir, pekerjaanku ditakdirkan membusuk!” Syukur: tahun 1632, setelah kata pengantarnya diubah mengesankan bahwa isinya hanya sebuah “impian puitis” buku besar itu punterbit. Tapi agaknya rakyat sudah mafhum: mereka, seperti biasanya, tak mudah teperdaya oleh siasat penguasa yang mengira masyarakat bodoh. Dialog disambut baik di seluruh Eropa, terutama di kalangan cendekiawan. Paus lantas menyadari kekeliruannya: ia “terlalu lemah” mengizinkan buku tersebut terbit. Tindakan harus segera diambil. Itu buku harus dimusnahkan. 

Sayangnya, ketika utusannya datang ke percetakan, ternyata Dialog sudah habis terjual. Galileo pun di panggil ke Roma. Waktu itu usianya 68 tahun. Ia tinggal di Florensia, hampir 250 km dari Roma, menjabat sebagai ‘ilmuwan utama’ Pangeran Tuskania, Cosima II. Berbagai upaya agar Galileo terhindar dari kewajiban pergi ke Roma, gagal. Termasuk permintaan sang pangeran melaui duta besarnya di Roma. Paus mewajibkan Galileo menghadap kaIau tak sukarela, sebagai tahanan pun jadi. 

Maka berangkatlah orang tua itu menghadap sidang pengadiIan Gereja. Ia dituduh melanggar perjanjiannya di tahup 1616: tidak akan lagi mengajarkan pandangan Copernicus dengan cara apapun. Galileo membela diri. Ia menyatakan, waktu itu Ia tidak diberitahu tentang larangan itu. Karenanya sungguh mati ia tidak sengaja. Toh ia didesak agar mengaku agar membantu para kardinal “menghindari suatu keputusan yang teramat sulit”. 

Maka rapuhlah sanjana itu. Ia mengaku memang telah menguntungkan Copernicus. Dan, kalau ia dibéri kesempatan lagi, iakan menulisnya kembali dengan cara yang memperkuat argumentasi yang dianut Gereja. Sidang inkuisisi bisa menerima, dan kemudian membebaskannya. Namun Paus malah beIum puas. Ia masih memerintahkan pengusutan jika perlu sarjana sesat itu disiksa. Apa manfaat nya? Untuk membasmi kecurigaan umum bahwa Vatikan “sudah diinfiltrasi ilmu klenik”. 

Ketika Galileo harus menghadap inkuisisi lagi, ia bersumpah: demi Tuhan tak lagi menganut pandangan Copernicus, dan sungguh mati tak pernah menganutnya lagi sejak Ia diberi perintah meninggalkannya. Tapi percuma. Di Gereja Santa Maria Sopra Minerva yang dibangun di atas runtuhan kuil dewi ilmu pengetahuan zaman itu. 

Oleh Paus vonis kemudian diubah menjadi tahanan rumah dan sisarjana diperkenankan kembali ke Florensia. Tapi ketika itu Galileo sudah dihinggapi berbagai penyakit. Bahkan akhirnya buta.Delapan tahun Ia hidup sebagai ta hanan rumah, sampai Ia meninggai di tahun 1642 tetap menyimpan dendam kepada para hakimnya yang “tak berperikemanusiaan, penuh kebencian, penipuan dan kedengkian,” kata Einstein. Misi keilmuan memang besar daya luapnya bagi mereka yang berintegritas. Orang boleh heran mengapa Galileo berani menempuh risiko sebesar itu walau dengan tidak memohon mohon maaf padahal belum setengah abad berselang nasib yang lebih mengerikan diterima kawaneprofesi nya, Bruno. 

Giordano Bruno, orang Italia lain yang lahir 1548 ini, bergabung dengan Ordo Dominikan namun menganut apa yang di sana disebut Avetroism filsafat metafisika Averroes (lbnu Rusyd), filosof muslim Spanyol. Dan seperti juga Galileo, ia seorang Copernican. Menyadari ancaman terhadap jiwanya, dan kota kelahirannya, Naples, Ia Iari ke Roma, 1576. Lalu ke Jenewa dua tahun kemudian. Malah di sana ia murtad, jadi Protestan. Toh masih juga dimusuhi. Sehingga Iari ke Paris tiga tahun kemudian dan dua tahun berikutnya lagi.ke lnggris. Kuliah-kuliahnya di Oxford bikin gempar bukunya menyerang etika Kristen waktu itu. 

Dari sana pindah ke Paris dan lagi menyiarkan buku yang mengancam stabilitas. Harus minggat lagi. Orang Calvinis ini kemudian di-ekskomunika si oleh para Lutheran Jerman (1589). Tapi masih lumayan malah masih bisa mengajar di Frankfurt. Tapi di tahun 1591 dia di pancing ke Venisia. Ternyata di sana dia dikeremus inkuisisi (Katolik, ki ni) dan dikinim ke Roma (1593). Dan di Roma, dalam umur 52 tahun, di tahun 1600, si Protestan ini dibakar. 

Tak begitu sedap, memang. Bahkan sekiranya penuturan si penulis roman Harold Lamb benar (dan terutama bagian ini sangat kontroversial), Umar Khayyam pun mengalami nasib sialan. Begitu Ia pulang dari haji, ia mendapati observatoriumnya di Isfahan dibakar orang. Rupanya sepeninggal sultan yang melindunginya, golongan ulama yang menentangnya dipimpin oleh, menurut Lamb, Al Ghazali mendapat angin. Soalnya, Quran memang punya kaIimat-kalimat seperti “matahari berputar di porosnya” atau “semua benda berada dalam kosmos – berenang” (36: 38, 40) sbb :

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui

Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. 

Tapi lebih dari itu tak ada, tentunya. Bedanya, di sini: baik Khayyam maupun yang membakar karya-kanyanya berada dalam kedudukan sejajar — sementara sultan tak pernah jadi pemegang kebenaran agama. Sudah tentu hari demi hari — abad demi abad — pandangan berubah di kalangan pemeluk agama. Gereja sendiri mengubah kesan — bahkan mengubah diri — hanya wibawa harus tetap tegak tanpa cela, sebab dunia membutuhkannya. 

Sesudah Galileo meninggal, Paus Urbanus VIII memang tetap menolak permintaan Pangeran Tuskania untuk mendirikan monumen di kuburnya. Toh sikap itu di belakang hari diubah. Kini sudah dibangun monumen penghargaan yang dahulu kala diusulkan itu. Tapi baru di tahun 1757, lebih 100 tahun kemudian, Gereja Katolik bisa menyetujui pembahasan tentang “matahari sebagai pusat alam semesta”. Dan seratus tahun lagi harus berlalu sebelum Indeks (daftar buku terlarang oleh Gereja Katolik) diubah sesuai dengan perkembangan. Tapi itu agaknya belum cukup bagi para uskup yang di tahun 1964, ber kumpul di Vatikan — kebetulan di tahun peningatan 400 tahun Galileo GaIilei. Para bapa rohani itu rupanya tersentuh. Dan mendesak, agar Gereja menerima kebenaran ilmu dan mengakui kekeliruan penghukuman Galileo. “Mestinya Gereja bisa mendemonstrasikan niatnya yang baik, dengan cara merehabilitasi Galileo oleh kekuasaan tertinggi,” ujar Uskup Steasbonug, Perancis. 

Toh himbauan ternyata belum bergema pada Paus Paulus VI. Hanya saja, di tahun 1966 Paulus VI meniadakan itu lembaga Indkes. Baru Paus Johanes Paulus II kemudian meminta agar kasus Galileo ditinjau kembali.  Sementara ini, pelaksanaannya tampak masih tertunda oleh berbagai hal — percobaan pembunuhan terhadap Paus beberapa bulan lalu, misalnya. Memang sangat lambat, Vatikan. Toh setidak-tidaknya sudah bergerak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: