Duduk di Ayat Kursi

  

Jabatan apa yang paling saya dan Anda idamkan ? Kalau saya seorang musisi, maka akan meniti karir menjadi eksekutif produser atau komposer. Kalau Anda seorang kutu buku, pasti menginginkan jabatan kecendekiawanan. Seorang politikus, pasti mengincar jabatan presiden. Karyawan, ya pasti ingin meraih jajaran direksi. Pebisnis, tentu ingin menjadi fund manager handal atau pemegang ribuan slot saham blue chip. Seorang santri pun menginginkan kenyamanan keustadzan atau kekiayian. Karena menurut kita semua di situlah tempat duduk ternyaman dengan segala kepemilikan eksistensinya. Tapi ternyaman versi apakah gerangan ? Nyaman di lidah, nyaman di telinga, nyaman di mata, nyaman di angan-angan, atau sekedar nyaman di pantat di mana kita duduk di kursi itu ?

Dalam Ayat Kursi ( 2 : 255 ) Allah dengan sombong dan otoriter menunjukkan jabatan diri sebagai sosok tunggal eksistensi keilmuan beserta kedudukannya sebagai pemilik seluruh isi langit bumi. Namun dengan sombong pula ternyata kita juga menolak kekuasaanNya dengan cara yang paling linear bertahap dan samar.  Mau bukti ?

Pertama; ketika kesadaran ruh Ilahiah tersentuh maka spontan kita pasti menjawab : “Iya, semua milik Allah“.Seluruh isi langit bumi tak dapat disangkal ! Tak terkecuali ! Quran kok dibantah ! Kita ini punya apa ! Dengan gagahnya kita menjawab. Tapi ketika pertanyaan itu berlanjut menukik tajam, benarkah…? Yuk kita uji realitasnya… Handphone yang di sebelah kananmu berarti milik siapa ? Sedikit gagap kita masih bisa menjawab bahwa ini titipan Allah sebagai kamuflase perasaan memiliki yang mulai muncul….Ketika pertanyaan itu berlanjut …”pinjam handphone titipannya ya buat pesan makanan?” ( maksudnya dijual untuk beli makanan ), secepat kilat kesadaran itu turun pada kesadaran ketubuhan …”Lho enak aja ! Ini milikku, ini perangkat kerjaku, ini modal intelektual statusku, ini kebutuhanku…”.

Lalu milik Allah yang mana dong bila setiap orang menganggap gunung, air, tambang, hutan, frekwensi udara, dan segala pernik bumi itu milik pribadi-pribadi? Semenit yang lalu kita dengan gagah menjawab bahwa semua milikNya tapi dengan pertanyaan sesederhana itu tiba tiba semua berubah menjadi milikku dan ku ku lain yang masih berlapis-lapis.

Lho, tapi kan…..tapi ini…tapi itu…..tapi inu…tapi iti…jutaan alasan yang keluar hanya sekedar membolak-balik kata tanpa pernah merubah makna. Aha… ternyata kata ” tetapi” memang senjata terhebat sepanjang sejarah hubungan manusia dengan Tuhannya. Kata ini bagaikan perwakilan kata kesaksian penyangkalan iblis terhadap Adam. Api menolak tanah. Sesuatu yang berkobar menolak yang diam. Obor penerang jalan menolak landasan tempat berjalan.

Lalu bagaimana mendudukkan perkara ini biar nggak bikin bingung ? memang gampang – gampang susah persis seperti menyuruh berhenti merokok bagi seorang perokok berat. Seakan akan tanpa rokok dunia kiamat. Mungkin butuh terapi, mungkin butuh denda dan penjara, mungkin butuh hipnotis, atau mungkin butuh baca buku ” Bagaimana cara menghentikan kebiasaan merokok “. Semua sah -sah saja.Tapi ternyata ada cara lain yang lebih mudah dan cepat yaitu berhenti saja mulai detik ini ! Nggak usah nawar ! Inilah cara yang nggak perlu cara namun efektif. Cara yang nggak perlu cara itu dinamakan niat. Dengan niat kita akan dituntun dan diarahkan untuk menjadi bisa menperoleh segalanya tanpa perasaan memiliki. Kata Rasul niat itu letaknya dalam hati. Tapi hati itu yang mana? Jantungkah? Liver kah? Atau daging dada menthok yang seperti dadanya ayam ini?Ternyata yang seputar dada itu sekedar starter pemicu penghubung dari hati yang lebur di alam semesta yang merasuki segala frekwensi, lapisan alam, pusat atom dan inti cahaya. Oleh sebab itu dalam pelajaran tarikh disebutkan sewaktu kecil Rasul “dioperasi” oleh malaikat lalu dibelah dadanya, bukan di belah batok tengkoraknya.Dari jalur ini segala kemengertian masuk baru kemudian mengalir menuju kepala memberi info tentang tugas akan dijadikan apa diri kita di dunia ini. Ia menjadi pembanding dan pengendali budi atas segala tangkapan indera. Namun yang seringkali terjadi, pada perjalanannya indera dengan berbekal tangkapan- tangkapan dari luar diri atau disebut “dunia” merasa percaya diri mulai menggusur peranan ilmu budi atau akhlak ini. Terjadilah kudeta di mana sang indera menguasai seluruh otak dan memenjarakan akhlak menjadi terkucil, kemudian biasa disebut dengan hati kecil nurani. Dalam keterpenjaraannya, sang nurani terus berteriak lantang walaupun hanya terdengar sayup-sayup oleh sang tubuh.Dari kudeta inilah orang ingin bereksistensi diri untuk menduduki jabatan atau kursi yang diinginkannya dengan cara diluar akhlak budi dan tak sesuai dengan tugasnya. Kacau deh…akhirnya yang pedagang jadi pendakwah, yang pendakwah jadi politikus, yang politikus jadi pelawak, yang pelawak jadi panutan. Dan karena kelihaiannya, semua orang tersihir yakin akan hal itu. Juga nggak perlu heran seumpama saya mempunyai referensi agama seperpustakaan lalu tiba-tiba dengan segala keilmuan mengklaim satu-satunya kebenaran, ingin berkuasa, mengawasi sana – sini, curiga kepada manusia lain sebab mungkin sebenarnya tugas saya di dunia ini hanya jadi satpam yang memang dibekali insting menyidik, bukan kyai atau ustadz yang dibekali sifat merawat, menyantuni dan berendah hati.Hei…terus gimana dong kok panjang amir keterangannya…mendudukkannya itu lho…yang penting mendudukkannya…biar nggak tambah rumit…Lho.. ya langsung aja duduk dalam ayat Kursi…Maksud loh… !

Iya…langsung duduk duk dan bersiaplah !

Siap apa ?

Orang yang duduk dalam Ayat Kursi harus siap kehilangan eksistensi diri, de-eksistensi, fana…tak punya apa -apa. Kata Arek Malang talarem (bahasa balikan sekenanya dari kata melarat).

Gawat ajaran apalagi nih…fatal ! Eskapisme ya…hilang dong karir gue…

Bbb..bbukan begitu…. Allah itu dengan tegas dan baik-baik kan sudah mbisiki kita bahwa kemuliaan dan keagungan itu milikNya doang, kesombongan itu pakaianNya doang, selain sifat itu silahkan pakai…Lha tapi kenyataannya dalam keseharian kita ini lebih sering membusanakan diri dengan kedua sifat pakaian itu. Jadinya ya mirip doang…nggak bisa benar -benar agung dan mulia. Dengan mencuri sifat itu kita jadi ingin memiliki kandungan bumi langit dengan segala cara. Kita memantas- mantaskan dan mematut diri bahwa kitalah yang berhak mengatur dan memiliki. Padahal seakan-akan dalam ayat Kursi Allah menantang “Kalau kamu ingin sifat itu, coba dulu sifatKu yang lain…

Dalam “intro” ayat Kursi betapa Allah menunjukkan sifat ngeladeni mahluk terus menerus tidak ngantuk tidak tidur dan pada endingnya tidak ada keberatan secuilpun dalam pemeliharaannya. Wuihh..kalau kita waras berfikir, ternyata kita nggak sanggup untuk tidak tidur dan tidak repot… maka terkaparlah kita di kefanaan itu, fakirlah diri kita, super minderlah diri kita dihadapan kesegalaanNya, nggak ada apa -apanya dengan pengakuan sesungguh-sungguhnya sampai seakan-akan isi otak ini meleleh hancur karena tak kuat menyaksikan kerja Allah yang begitu dahsyat…ampun Gusti….wong saya ini sekedar kepingin niru secuil laku Muhammad sang rasul yang begitu perhatian tanpa kenal lelah meladeni segenap mahluk masih jauh dari mirip kok ya terkadang kesusu kepingin menjadi pemimpin umat…Ya Allah berilah kerendahan hati agar tetap jadi makmum yang lurus- lurus saja…karena Engkaulah sejatinya Sang Pemimpin.

Ketika duduk di kefanaan itu dengan sungguh- sungguh biasanya kita akan diperjalankan Allah menuju jabatan dan kedudukan yang benar- benar sesuai dengan kemampuan diri sehingga jabatan itu tak lagi mengandung unsur pengakuan kepemilikan dan ngrepoti dalam arti yang sesungguhnya – bukan sebatas filosofi pikiran atau sekedar pernyataan. Kita akan merasa pede dan enjoy bila ternyata Allah lah yang menyematkan jabatan itu. Sekali lagi bayangkan.. Allah sendiri yang memberi kedudukan itu dan rasakan kenyamanannya…. Ketakjuban itu jauh melebihi perolehan jabatan menteri hasil dari resuffle kabinet atau jabatan seorang presiden sekalipun. Dalam wilayah ini memang diciptakan untuk pemenuhan segala kebutuhan setiap manusia dalam menjalankan proses kekhalifahannya. Di sinilah tempat bergelimangnya harta ghaib pengetahuan sejati yang tak akan hilang walau dirampok rezim terganas.

Di wilayah ini orang tidak lagi ribut mengenal kasta golongan petani, pedagang, pejabat atau ulama. Karena mereka yang bertempat di wilayah ini otomatis akan memperoleh seluruh ilmu dari empat lapisan kasta tersebut tanpa butuh sebuah eksistensi pengakuan diri dari luar. Inilah sistem Islam, tak ada kasta ! memerdekakan ! Orang- orang ini tak lagi berebut posisi sebab telah tersadar bahwa jabatan- jabatan beserta pernik ilmu pengetahuannya sekedar jalur- jalur yang ditempatkan dalam diri masing- masing kekhalifahan manusia untuk mengenal Tuhannya. Akhirnya masalahnya menjadi sangat sederhana sekali, kenal atau tidak. Tak lebih.

Ada cara mudah sekali dalam penggunaan ayat Kursi untuk mentransfer ilmu ghaib itu ke dalam diri (wuih..kayak dukun, sekedar bercanda) agar keseharian lebih rileks dan dibukakan pengetahuan serta kemengertian akan posisi diri. Awalnya mungkin butuh menyentuh tengah dada dengan jari, kurang lebih yang sejajar persis dengan ketiak. Niatkan kepada Allah ingin mengetahui apa saja yang ingin diketahui atau dibutuhkan. Lalu nikmati saja niat itu bersama Allah semampu waktu yang anda punya…perlahan setelah itu entah sekedip mata, semenit kemudian, sejam, sehari, sebulan atau setahun InsyaAllah apa yang diinginkan datang tanpa harus dengan memeras otak dan keringat secara berlebihan. Cepat dan tidak datangnya keinginan itu biasanya tergantung kesungguhan niat itu sendiri.

Namun sialnya seperti pengalaman saya pribadi, lagi enak -enaknya menyentuh dada…eehhh tiba -tiba nggak tahu kenapa tangan ini kok reflek berpindah menyentuh jidat…plak…lalu memegang pantat…plok…kemudian muncul kebiasaan pikiran liar itu. Plak ! waduh…sudah tanggal tua… plok !…isi dompet nipis….plak ! kerjaan belum kelar…plok ! jatuh tempo.hutang semakin dekat …wahai mahluk yang bernama ekonomi… ! kenapa engkau selalu menggangggu kekhusyukanku… ! Aku pun plak plok plak plok lari bagai kuda mengejar rejeki dengan kacamata hitam yang hanya bisa melihat lurus ke depan…terserah Sang Sais mengendali kuda supaya baik jalannya…

plok…! auww…! cemeti itu menampar pantatku lagi….

Wassalam, semoga bermanfaat

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/1630

Satu Balasan ke Duduk di Ayat Kursi

  1. Liena mengatakan:

    nice artivle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: