Konsep Dasar Arsitektur Masjid

Pendahuluan

Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadis bahwa “Seluruh permukaan bumi ini adalah tempat sujud” Maksudnya, adalah bahwa dimana saja tempat di muka bumi ini dapat digunakan untuk tempat shalat, tentunya tempat yang bersih dan tidak bemajis.

Dan untuk lebih tenang dan sesuai dengan ajaran Islam, dibangunlah masjid sebagai tempat untuk shalat. Masjid digunakan untuk shalat bersama-sama (berjamaah) yang menurut ajaran Islam lebih baik dari pada shalat sendiri-sendiri (mufarid).

Masjid berasal dari kata “sajada”, artinya tempat sujud atau tempat shalat. Dan dalam Islam, membangun masjid termasuk salah satu investasi amal yang tak putus-putus walaupun orang tersebut sudah meninggal dunia. Setiap muslim juga dianjurkan untuk senantiasa mendatangi dan memakmurkan masjid.

Sejarah

Masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW sewaktu hijrah dari Mekkah ke Madinah adalah Masjid Quba, lalu kemudian Masjid Nabawi. Ciri dari kedua masjid ini hampir sama dengan masjid-masjid Madinah lainnya mengikutinya kemudian, yaitu sangat sederhana. Bentuknya empat persegi panjang, berpagar dinding batu gurun yang cukup tinggi. Tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon kurma, atapnya terbuat dari pelepah daun kurma yang dicampur dengan tanah liat. Mimbarnya juga dibuat dari potongan batang pohon kurma, memiliki mihrab, serambi dan sebuah sumur. Pola ini mengarah pada bentuk fungsional sesuai dengan kebutuhan yang diajarkan Nabi.

Biasanya masjid pada waktu itu memiliki halaman dalam yang disebut “Shaan”, dan tempat shalat berupa bangunan yang disebut “Liwan”. Beberapa waktu kemudian, pada masa khalifah yang dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin pola masjid bertambah dengan adanya “Riwaqs” atau serambi/selasar. Ini terlihat pada masjid Kuffah. Masjid yang dibangun pada tahun 637 M ini tidak lagi dibatasi oleh dinding batu atau tanah liat yang tinggi sebagaimana layaknya masjid-masjid terdahulu, melainkan dibatasi dengan kolam air. Masjid ini terdiri dan tanah lapang sebagai Shaan dan bangunan untuk shalat (liwan) yang sederhana namun terasa suasana keakraban dan suasana demokratis (ukhuwah Islamiah).

Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang-pedagang Gujarat, yang mengembangkan Islam ke Timur pada masa Khalifah bani Ummaiyah/Muawiyah dimana pusat pemerintahannya tidak lagi di Mekkah atau Madinah melainkan sudah dipindahkan ke Damsyik/Damaskus di Syria. Daerah yang mula-mula mendapat tebaran agama Islam antara lain Perlak, Samudra Pasai (Aceh) dan Palembang, pantai utara Jawa yaitu Jepara dan Tuban serta Indonesia Timur seperti Ternate, Ambon dan lain-lain, yaitu sekitar tahun 1500 M.

Sebagai tempat ibadah

Mesjid dapat diartikan sebagai suatu bangunan tempat melakukan ibadah shalat secara berjamaah atau sendiri-sendiri, serta kegiatan lain yang berhubungan dengan Islam. Selain masjid dikenal pula istilah-istilah lain seperti mushalla, langgar atau surau. Mushalla atau langgar biasanya digunakan untuk shalat wajib (fardu) sebanyak lima kali sehari semalam, serta untuk pendidikan dan pengajaran masalah-masalah keagamaan. Sedangkan masjid, digunakan juga sebagai tempat shalat berjamaah seperti shalat Jum’at, shalat hari Raya (kalau tidak di tanah lapang), shalat tarawih serta tempat i’tikaf.

Masjid juga dipakal sebagai tempat berdiskusi, mengaji dan lain-lain yang tujuan utamanya mengarah pada kebaikan. Karena sesuai dengan hadits, dikatakannya: “dimana kamu bersembahyang, disitulah masjidmu”.

Pada setiap masjid, tentunya ada hal-hal khusus yang perlu diperhatikan sesuai dengan kebutuhan peribadatan. Yang perlu diperhatikan adalah antara lain urut-urutan kegiatan shalat baik bagi laki-laki maupun wanita. Dalam Islam secara tegas dipisahkan antara jamaah laki-laki dan wanita. Dengan demikian, sejak awal masuk, bersuci (wudlu) sampai pada waktu shalat sebaiknya pemisahan itu telah dilakukan.

Ruang untuk shalat atau yang disebut Liwan, biasanya berdenah segi empat. Hal ini sesuai dengan tuntunan dalam shalat bahwa setiap jemaah menghadap kearah kiblat.dengan pandangan yang sama dan satu sama lain berdiri rapat. Shalat berjamaah dipimpin oleh seorang imam, yang berada dtengah pada posisi terdepan.

Konsep Perencanaan

Untuk merencanakan sebuah masjid sebaiknya perlu ditinjau dulu konsep dasarnya, sebagaimana juga dilakukan terhadap bangunan-bangunan lain.

Pada dasarnya untuk membangun atau merencanakan sebuah masjid hendaknya kembali kepada tuntunan-tuntunan yang terdapat pada sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dalam membangun masjid, arsitek tidak dapat melihat sejarah atau bangunan-bangunan masjid yang telah ada saja, melainkan memahami atau belajar berdasarkan inti ajaran Islam itu sendiri atau menurut istilahnya “the teaching it self”. Namun, tentunya kaidah-kaidah arsitektur tetap perlu diperhatikan, sebagaimana layaknya bangunan-bangunan lain.

Kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan bagi sebuah masjid, seperti yang dituturkan Miftah dalam bukunya berjudul “Masjid” antara lain, bahwa masjid selain mengarah ke kiblat di Masjidil Haram, Mekkah, juga hendaknya dibangun benar-benar sesuai dengan fungsi dan tujuannya, sehingga perlu dihindari kemungkinan adanya bagian-bagian bangunan atau ruangan yang memang dilarang dalam Islam. Ditekankan pula, bahwa identitas yang menunjukkan pengaruh agama-agama lain hendaknya sejauh mungkin dihindarkan walau hanya berupa elemen kecil yang samar sekalipun. Dalam hal ini perlu sekali kearifan dan kesensitifan Arsitek untuk meng-expose atau menvisualisasikan elemen-elemen konstruksi. Juga masjid hendaknya dibangun dengan biaya rendah yang tidak berlebih-lebihan serta tetap memperhatikan faktor keindahan dan kebersihan. Hal ini semua sesuai dengan tuntunan dalam Islam dan diterangkan Miftah dalam bukunya yang berjudul “Masjid”, masing-masing lengkap dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Memahami inti ajaran Islam adalah mutlak. Dengan demikian masjid yang dibangun hanya berdasarkan dari sejarah atau hanya melihat masjid-masjid yang telah ada, sebenarnya kurang tepat, dalam hal ini perlu ditekankan pula motivasi dan niat yang baik dalam membangun sebuah masjid.

Mengenai perkembangan masjid di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga jalur, yaitu: pertama, perkembangan yang bertolak dari bangunan “sakral” tradisional daerah, kedua adalah perkembangan yang meniru arsitektur Masjid di Timur Tengah, dan ketiga adalah perkembangan yang baru atau modern.

Bentuk

domePada masa lampau manusia baru mengenal konstruksi sederhana yang terdiri dari kolom dan balok yang ditumpang di atasnya. Justru itu, bentuk yang terjadipun sesuai dengan konstruksinya. Kemudian, sesuai dengan tuntunan shalat bahwa shaf (barisan dalam shalat) harus lurus dan rapat, maka dicarilah bentuk yang dapat menciptakan ruang luas tanpa banyak diganggu oleh kolom-kolom. Maka tak heran kalau kemudian muncul bentuk dome. Sebagaimana diketahui, dengan bentuk dome itu, gaya-gaya dapat disalurkan melalui lengkungan-lengkungannya, sehingga tidak banyak mengganggu.

Kubah adalah ciri atau identitas masjid, dengan kubah itu tercipta suasana yang agung, sehingga manusia merasa kecil dihadapan Khaliknya. Seperti Istiqlal di Jakarta, bentuk dome membuat ruang dibawahnya memiliki suasana tenang dan orang yang sedang shalat akan merasa kecil. Kwalitas ruang yang tercipta demikian agung.

Konstruksi atau struktur lengkung banyak dipilih oleh arsitek kawakan terdahulu dalam merencanakan masjid dari pada memilih struktur balok polos (lurus) yang pasti tidak dapat dihindari seperti “cross” (persilangan) antara balok dan kolom yang dapat menjadi silent simbol atau identitas dari agama lain.

Untuk mendesain sebuah masjid, diperlukan tiga prasyarat, yang maksudnya untuk dapat menstimulir kekhusukan dalam beribadat. Ketiga prasyarat itu adalah, pertama: harus selalu bersih, dalam arti mudah dibersihkan dan mudah pemeliharaannya. Kedua, adalah tenang, yaitu menciptakan “suasana” yang dapat mendorong lahirnya ketenangan. Dan ketiga, adalah “sakral tapi ramah”.

kolomTujuannya menciptakan suasana yang ramah, agar setiap orang yang memasuki masjid dapat duduk sama rendah tanpa perbedaan derajat. Bukankah Islam itu agama yang sangat demokratis? Jadi, masjid harus sederhana namun kaya akan daya ungkap ke-Islam-an”.

Denah

Sejak awal dibangunnya sebuah masjid, denah yang ada berbentuk segi empat. Hal ini dilakukan secara logis sesuai dengan kebutuhan shaf-shaf dalam shalat berjamaah. Bentuk persegi akan membuat ruang-ruang yang terbentuk dapat dimanfaatkan seluruhnya, sedangkan denah yang berbentuk sudut-sudut tertentu (lancip) akan membuat ruangan banyak yang terbuang. Ini berarti, berlebih-lebihan atau mubazir.

Arah kiblat yang tidak tepat juga dapat mengakibatkan ruang-ruang terbuang percuma, sehingga dalam perencanaan sebuah masjid hal ini harus benar-benar diperhatikan.

Denah segi empat, dapat berarti bujur sangkar atau empat persegi panjang. Empat persegi panjangpun ada dua jenis, sisi panjangnya searah dengan arah kiblat atau tegak lurus arah kiblat.

Bentuk bujur sangkar membuat arah kiblat menjadi lemah karena bentuk yang cenderung memusat itu akan menimbulkan kesan ke atas yang kuat, paradoks dengan arah kiblat yang semestinya ditekankan.

Untuk denah segi empat yang sisi panjangnya searah dengan arah kiblat, para jemaah dapat dengan mudah melihat khatib (pemberi khotbah). Namun akan terjadi shaf yang relatif banyak kebelakang. Ini melemahkan sifat kesamaan (demokrasi) dalam Islam.

Bentuk lain adalah segi empat yang sisi panjangnya tegak lurus arah kiblat atau sisi terpendek searah dengan arah kiblat. Shaf yang terjadi tidaklah banyak, walau jamaah agak sulit melihat khatib pada waktu khotbah. Namun dengan sedikit menyerong, jemaah dapat melihat khatib dan hal ini tidak ada larangannya dalam Islam.

Pembagian denah untuk ruang shalat bagi wanita biasanya ditempatkan dibelakang. Dengan pembatas biasanya berupa tirai ataupun dinding kerawang yang transparan. Beberapa masjid ada juga yang menempatkan wanita di lantai atas, yang dibuat semacam balkon sehingga jemaah wanita masih dapat melihat imam.

Sesungguhnya dalam Islam, wanita tidak wajib pergi shalat ke masjid. Pergi shalat ke masjid bagi wanita hanyalah suatu perbuatan baik saja atau amal shaleh. Bahkan ada hadis meriwayatkan bahwa shalat di rumah bagi wanita lebih besar pahalanya dari pada shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Karena itu luas liwan untuk wanita juga relatif lebih kecil daripada liwan untuk laki-laki.

Ruang Dalam dan Ornamen

Kubah atau dome dibahagian dalam ruang masjid adalah suatu konsep untuk menciptakan suasana sakral serta perasaan diri yang sangat kecil di hadapan Khalik tanpa dipenuhi hiasan kuduniaan yang glamour yang jauh dari menimbulkan rasa sakral.

Ornamen pola geometris dan ArabeskAda beberapa corak ornamen atau ornamentik, diantaranya corak abstrak sebagai “ornamen arabesk” yang terdiri dari corak geometris dan corak “stilasi” dari tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan. Hal ini adalah jalan keluar dimana adanya larangan dalam ajaran Islam untuk tidak boleh menampilkan gambar-gambar atau lukisan sebagai hiasan dengan motif manusia, binatang atau makhluk bernyawa lainnya secara realistis di dalam ruangan masjid.

Ornamen atau gaya ornamentik dapat di visualisasikan dengan huruf-huruf atau kaligrafi, seperti huruf “Arab Kufa” dan “Karmalis” adalah merupakan salah satu ornamen geometris yang berisi tulisan lafazd Al-Qur’an sebagai hiasan masjid.

Kaligrafi Kufa

Kaligrafi Karmalis

Menara

menaraSebelum shalat dimulai, untuk menyatakan waktu shalat itu sudah tiba, biasanya dikumandangkan adzan. Pada masa lampau, adzan dilakukan di tempat-tempat yang tinggi sehingga radius penyampaiannya cukup jauh. Kemudian hal ini berkembang terus sampai akhirnya dibuat menara untuk penyebaran yang lebih jauh lagi. Dengan berkembangnya teknologi, ditemukan sistem pengeras suara yang kemudian dimanfaatkan juga untuk kegunaan adzan. Namun, tetap menggunakan menara. Dan sini terlihat bahwa fungsi menara tidak hanya sebagai simbol saja tetapi juga fungsional. Dan karena letaknya yang tinggi maka dapat saja bila kemudian dijadikan aksen atau ikon (point of interest).

Referensi :

  1. Majalah Bulanan “Konstruksi” Nomor 121, Mei 1988 Th. Ke-XII.
  2. Drs. Abdul Rochym “Mesjid Dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia”, Penerbit Agkasa Bandung Th. 1983.
  3. Drs. Abdul Rochym “Sejarah Arsitektur Islam, Sebuah Tinjauan”, Penerbit Angkasa Bandung, Th. 1983.

Contoh Identitas Tersamar (Silent Identity) :

Perhatikan menara pada gambar dibawah ini, yang merupakan disain dari sebuah menara masjid bercirikan arsitektur “post modern” dengan meletakkan atau memposisikan identitas atau simbol “bulan sabit”  pada posisi mendatar (horizontal).

Dilihat pada posisi arah dari bawah atau dari atas, jelas sekali terlihat simbol “bulan sabit”-nya.

Selanjutnya coba diperhatikan dengan cermat, kalau kita lihat dari posisi pandang yang berbeda, yaitu pada posisi pandangan mendatar (horizontal) atau dilihat dari jauh, menara masjid tersebut akan terlihat seperti identitas atau simbol ”palang atau cross”.

Hal semacam inilah salah satu contoh yang dimaksud dengan simbol atau identitas tersamar (silent identity) seperti yang dikemukakan pada tulisan (artikel) diatas yang harus dihindari dalam mendisain sebuah masjid.

mesjidrayapadang2

Kajian Konsep Disain Interior (Study Kasus)
Untuk Anda :

Dibawah ini ada gambar (image) disain interior suatu ruangan sebagai objek survey atau study kasus (case study). Berdasarkan tulisan atau artikel di atas, silahkan jawab pertanyaan atau kuisioner berikut dengan memilih satu item jawaban yang paling tepat menurut Anda.

Jika ada komentar untuk memperkuat pilihan (vote) Anda, silahkan diisi komentar Anda pada kotak yang tersedia di bawah halaman ini.

Catatan :

  1. Jika Anda ragu memilih item-item quis/vote diatas, Silahkan dicermati/di pelajari dengan membuka halaman berikut; klik [disini], dan [disini] serta [disini]
  2. Jika Anda memilih item simbol atau identitas agama “Islam”, mohon kiranya mengisi kolom komentar di halaman di bawah ini. Image elemen atau ornamen yang manakah yang mencerminkan simbol atau identitas agama “Islam” yang Anda maksud pada gambar di bawah ini.

Coba Tebak Fungsi Ruangan ini !

Sumber Foto Quis/Study Kasus : Skyscrapercity Forums

Baca juga : Peran Atap Dalam Arsitektur, Sebagai Simbol Martabat Bangunan

22 Tanggapan ke “Konsep Dasar Arsitektur Masjid”

  1. yusra Berkata:

    Pendapat saya,

    melihat gambar rancangannya cukup bagus sih, sangat-sangat klasik (ga tau jaman apa), ……mengingatkan saya pada film LORD OF THE RING.

    Menara runcing menghujam ke langit (saya ingat menara tinggi di kompleks piramid mesir, ga tau namanya) dengan bentuk tanduk yang dibuat rebah di dekat puncak menara lebih mirip dengan simbol setan dan terkesan pagan. Kalo ga salah merupakan simbol penyembahan dewa matahari.

    Interior dalam bangunan utama penuh nuansa salib dan kekerasan. Hal ini tampak pada rangka utama atap yang dibuat/ditonjolkan berbentuk balok yang saling memotong, entak salib (+) atau silangan (X). nuansa senjata tajam terkesan pada ornamen2 yang menyertai rangka utama atap, yang berentuk batang2 panjang tajam dan runcing. lampu2 yang bergelantungan sangat mengganggu pemandangan. secara keseluruhan interior bagian dalam seperti memberikan efek mengurung dan mencengram.

    Secara keseluruhan kompleks bangunan ini memberikan kesan angkuh, seram dan mungkin juga kejam, dan agak bernuansa pagan

  2. zulfikri Berkata:

    Pak Yusra, Terima kasih saya ucapkan atas komentarnya.

    Wassalam,

  3. Rahmat Hidayat Berkata:

    Kayaknya kita harus belajar banyak pak…
    sama negara-negara islam > seperti brunei, malaysia, turki dan maroko

    Itu adalah sebagian negara-negara selain Arab Saudi yang memiliki arsitektur mesjid yang sangat indah dan terkenal di seluruh dunia. Contoh siapa yang tidak kenal dengan Mesjid Biru di TURKI yang semua ada ornamen kubah, walaupun sejarah-nya dulu itu bekas Gereja.. > tapi tidak seperti gereja lagi …
    lihat ini http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/55/Blaue_moschee_6minarette.jpg

  4. zulfikri Berkata:

    Ya betul Pak Rahmat, kita harus belajar banyak, terutama sekali Bapak-bapak yang memegang kebijakkan dan pengambil keputusan juga harus lebih banyak lagi belajar, karena maju mundurnya negeri dari segala aspek terletak di tangan beliau-beliau itu.

    Terima kasih saya ucapkan atas komentar serta berkenannya Pak Rahmat memuat artikel ditas pada Website/Webblog Bapak

    [ http://rahmat.polinpdg.ac.id/content/view/157/1/ ]

    Semoga artikel ini berguna dan ada manfaatnya bagi para perancang/arsitek dalam mendisain masjid.

    Wassalam,

  5. F. Gurianto Berkata:

    Setelah saya perhatikan secara seksama gambar interior diatas, kalau tidak salah ini adalah gambar disain interirior Masjid Raya rang Minang yang akan dibangun itu ?, Ya.., sama sekali tidak tergambar simbol atau ciri ke-Islam-annya,

    Didepan atau arah kiblat ada jendela kaca, sehingga terlihat matahari sedang terbenam. serta pemandangan lainnya diluar,yang sebenarnya untuk ruangan mesjid tidak dibolehkan dibuat disisi bahagian depan jendela-jendela serta ornamen yang dapat menyebabkan akan terganggunya kekhusukan dalam beribadah terutama sekali sholat.

    Yaa.., saya sependapat dengan Pak Yusra diatas, bahwa interirior ini seram dan mencekam seolah-olah kita disungkup terkurung dengan jeruji pedang yang tajam dibawah cengkraman simbol (+) atau (X)

  6. Mhd. Abduh Berkata:

    Menurut pandangan awam disain interior dan akustik ruangan pada gambar disain diatas memang wah !, dan mengagumkan !. Dan orang awam tidak akan mempersepsikan ornamen-ornmen pada ruangan tersebut diatas kepada hal-hal yang tidak dimengertiinnya. Tapi saya pernah tanya sama kawan-kawan yang beragama Budha dan Kristen, apa sih fungsi simbol dan patung dalam peribadan dalam agama anda ?, mereka jawab simbol-simbol dan patung berguna sekali sebagai alat transformasi atau pemusatan konsentrasi untuk mencapai kekosentrasian (dalam Islam kekhusukan) dalam peribadatan.

    Di dalam Islam tidak dikenal alat atau benda untuk menyambung atau alat transformasi mencapai kekhusukan dalam beribadah atau menghamba kepada Allah SWT. Tapi alangkah naif-nya menurut saya jika seandainya gambar disain interior diatas adalah disain suatu ruangan masjid !

    Demikian komentar saya.

  7. Rusdi Berkata:

    Dengan memperhatikan simbol yang terdapat pada website berikut, silahkan dilihat :

    http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Trimurti.jpg
    http://en.wikipedia.org/wiki/Trimurti

    Maka saya berpendapat; bahwa sirip-sirip dan persilangan balok yang terdapat pada disain ruangan (plafond) tersebut diatas jelas sekali melambangkan simbol agama Hindu. Sirip-sirip melambangkan mahkota dari dewa trimurti (wisnu) dan persilangan balok melambangkan simbol Aum (Hinduswastika)

  8. Yono Tanaka Berkata:

    Tidak tahu item mana yang saya pilih.

    Tapi yang jelas, ruangan ini mempunyai kenikmatan tersendiri dalam menanti dan menyaksikan sang “Dewi-Sun” menuju keperaduannya (Sun-set)

  9. hanim Berkata:

    Mohon Maaf….
    Jujur saya orang awam dan buta soal arsitektur dan filosofi bangunan tempat ibadah terutama Masjdi tapi
    saya Ngeri membaca tulisan bapak-bapak yang mengomentari bagian dari bangunan Masjid raya Sum-Bar (Pada Gambar). kok seakan-akan dicari kesalahan-kesalahannya dengan membandingkan dan menyamakan simbol-simbol agama lain (Kristen, Hindu dan Budha oh ya membandingkan dgn simbol agama Budha belum saya temukan dari tulisan bapak-bapak). semuanya tidak ada yang memberikan apresiasi positif, ada apa ini, ada apa..??? dan jujur saya akan menunggu dengan tidak sabar selesainya Masjid ini (sesuai dengan disain aslinya)dan saya yakin Masjid ini akan menjadi sangat terkenal berkat keindahan dan keunikan bangunannya yang mungkin satu-satunya di dunia.
    Mari kita sama-sama merenung, untuk mau berfikir positif dan memberikan apresiasi positif pula terhadap sesuatu yang baru.
    Terima kasih.

  10. Gafur Berkata:

    Komentar saya :

    Kalau memang gambar suatu interior ruangan yang dijadikan studi kasus dari artikel tersebut diatas adalah “Ruangan Mesjid” dan dengan tanpa melihat rujukan atau link-link yang disarankan untuk dicermati dan dipelajari dan dengan tanpa membaca beberapa tanggapan dari komentator diatas, dengan kasat mata saja sudah “ada kesalahan” yang menggiring orang berpikir bahwa ruangan tersebut bukanlah mesjid !

    Pak Hanim, jangan emosionalah !,
    Saya kira pemilik blog ini bukanlah mencari-cari kesalahan, dan kalau diperhatikan dengan pikiran tenang dan tanpa emosional, memang ternyata telah terjadi kesilapan dalam mendisain interior ruangan mesjid, kita tidak tahu apakah disain seperti ini disengaja atau tidak.

    Kiranya kalau ada niat baik dari urang Minang atau pemda propinsi Sumatera Barat sebagai penyelenggara, untuk menerima dan menyikapi kritik yang membangun ini, saya rasa tidak terlambat untuk mengadakan revisi-revisi disain interior yang disesuaikan dengan kaidah atau ajaran Islam, mumpung pelaksanaan pekerjaan sekarang masih dalam tahap konstruksi, dari pada nanti setelah selesai dan ramai-ramai masyarakat melakukan kritikan maka baru dilakukan perbaikan yang tentunya hal ini akan membuang biaya dan mubazir.

    Dengan melihat angka-angka pada polling diatas kita dapat gambaran, bahwa angka-angka itu adalah suatu masukkan, yang menunjukkan bahwa “ada ketidak sempurnaan” dari disain mesjid Raya orang Padang ini.

    Sekian, mohon maaf, tanggapan saya diatas tidak memihak siapa-siapa.
    Semoga “Mesjid Raya” ini menjadi kebanggaan rang Minang !

    Wassalam, fastabiqul khairat !

  11. corie Berkata:

    sebenarnya saya setuju dengan komentar pak hanim…
    pertama, silent identity yang dikira tertera di menara…akan terlihat salib jika kita melihat secara tegak lurus dengan menara?bukankah itu tinggi sekali?bukankah sudut pandang manusia akan melihat secara perspektif?
    lalu, bentuk interior dalam yang dikira menyerupai simbol trimurti…saya kira itu adalah perwakilan dalam bentuk lain dari bentuk dome atau kubah yang memberikan efek megah atau agung atau apalah sehingga kita yang berada di dalamnya merasa kecil untuk menemui sang Khalik. Lalu kenapa efek si ‘tangan banyak’ hanya diberi pada dua sisi saja? jika diberi pada keempat sisinya, kalu menurut saya, akan menimbulkan kesan sangat amat rumit.jadi si mesjid tidak menenangkan lagi..
    lalu, kenapa dibuat besar megah seakan-akan mubazir?coba lihat lagi konteks dari fungsi si bangunan ini…bangunan ini dirancang atau dibuat untuk tujuan landmarking menyetarai mesjid2 raya seperti di daerah lain yang menjadi landmarking Sumatera Barat. Hal ini mungkin ditujukan untuk memberikan kesan bahwa Sumatera Barat atau padang khususnya adalah wilayah yang religius.
    tapi mengapa bentuknya tidak terlihat seperti layaknya masjid? mungkin si perancang ingin keluar dari dogma bahwa masjid harus kubah atau harus apalah…padahal ide yang dipakai oleh kubah bisa diusung dengan bentuk lain…
    dan bisa saja hal ini ditujukan untuk memberikan kesan sumatera barat wilayah modern yang religius…
    mungkin saja…
    lalu, masalah lampu yang menggantung, coba search gambar interior masjid2 lain.banyak yang menerapkan seperti itu. kenapa menjuntai panjang? soalnya klo nemplok di atas plafond, jangkauan sinarnya ga nyampe, remang2 jadinya. atau klo mau nyampe kudu pake lampu sorot dan itu mahal dan ga hemat energi.

    intinya, bangunan ini dirancang dengan konsep2 yang klo dicoba dicari mengusung nilai2 islam dalam mendapatkan bentuk akhir ini dan melalui proses pemikiran yang cukup panjang sepertinya. rasanya kurang adil klo pembahasan hanya melihat dari sudut pandang kajian yang sudah pernah ada tanpa menampilkan informasi ide dan konsep yang sedang diusung oleh sang arsitek melalui bangunannya.klo sudah ada keduanya baru terserah orang menilai apa…

  12. zulfikri Berkata:

    Dear Cori

    Yaa.., itu yang dinamakan “silent identity” sih !,
    karena tidak akan kita ketahui sepintas lalu saja, kalau tidak diperhatikan dengan seksama, serta dari segala sudut pandang dan kajian, ya kan ?.

    Apapun alasannya, ciri atau “bentuk perwakilan” seperti yang Anda istilahkan itu merupakaan identitas agama lain (selain Islam), tidak dibenarkan dalam disain masjid seperti yang saya uraikan pada tulisaan diatas.

    Adapun bentuk “dome atau kubah” dan juga segitiga adalah bentuk yang telah lazim dipakai oleh arsitek-arsitek terkenal terdahulu untuk disain bangunan rumah-rumah ibadah yang melambangkan “ke agungan atau ketakjuban” kepada yang disembah. Lain halnya dengan “simbol” atau “identitas”, seperti; salib, bulan sabit, dan simbol trimurti, dan lain-lainnya itu sudah jelas sang arsitek harus mengambilnya dan menyesuaikan untuk disain bangunan rumah ibadah yang direncanakannya. Lhaa.., tidak mungkin, lambang “salib” atau “trimurti” di pakai untuk disain masjid, yaa..kan ?.

    Nah.., kalau memang bangunan ini dirancang dengan maksud sebagi “landmark” atau “icon” bahwa orang Minang adalah dari dulunya adalah masyarakat “religius” dan ingin menggambarkan sejarahnya pada ornamen atau disain interior seperti candi-candi yang terdapat ornamen-ornamen ajaran dan sejarah agamanya, dan si Arsitek Masjid Raya Sumatera Barat ini juga terinspirasi dengan itu, sehingga meniruterapkan pula pada disain Masjid Raya Sumatera Barat dengan menvisualisasikan dengan disain interior dan ornamen yang mencerminkan bahwa dulunya nenek moyang orang Minang adalah beragama “animisme”, “hindu”, kemudian “Islam”, dan sekarang juga sudah ada yang beralih keagama lain, dan sudah banyak juga yang berpaham “liberal dan sekuler”. mereka berpendapat bahwa ciri “masyarakat moderen” adalah masyarakat yang sekuler dan liberal, heee.., hee.., heee…

  13. qolbiyati muthmainah Berkata:

    selain masjid, yang sekarang marak dibangun adalah Islamic center. yang terbaru, Qaddafi center di Sentul Bogor.
    menurut bapak, apa perbedaan mendasar dari Islamic center dengan masjid? implikasinya pada desain arsitektur?
    karena kalau di luar negri, masjid itu ya Islamic center..

    trimakasih.

  14. zulfikri Berkata:

    Perbedaan mendasar antara “Islamic Center” dengan “Masjid” adalah; “Islamic Center” harus ada (include) dengan masjidnya, sedangkan “Masjid” bisa jadi tidak adanya bangunan lain selain ruangan shalat yang dapat menunjang atau melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Pada dasarnya tidak ada dikhotomi antara Islamic Center dengan Masjid.

    Implikasinya dalam disain arsitektur adalah; “massa bangunan” yang
    dinamakan “Islamic Center” bangunan utamanya adalah “Masjid” sebagai “point of interest” atau “ikon”-nya Islamic Center. Konsep ini berdasarkan sejarah bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW. menjadikan Masjid sebagai pusat semua kegiatan bukan hanya tempat shalat saja, melainkan juga sebagai pusat pemerintahan.

    Jadi berlebihan kiranya Islamic Center tidak yang ada Masjidnya, dikatakan dengan “Islamic Center” ya kan ???

    Demikian menurut saya, wassalam

  15. mustamid Berkata:

    saya ingin menanyakan apakah ada konsep dasar untuk bangunan sebuah pesantren yang bisa menjadi acuan terimakasih, selama ini saya belum menemukan ciri khusus untuk sebuah bangunan pesantren.

  16. zulfikri Berkata:

    Pak Mustamid Ysh,
    Konsep dasar perencanaan pesantren, sama dengan konsep perencanaan sekolah berasrama.

    Di Departemen Pendidikan ada atau telah mengeluarkan standar minimal atau konsep dasar perencanaan sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan seperti SD, SMP, SMA dan SMK beserta bangunan penunjang lainnya.

    Nah, karena yang Bapak tanyakan konsep dasar untuk pesantren, maka saran saya lengkapilah pesantren yang akan direncakan itu dengan bangunan masjid yang konsep dasar arsitekturnya seperti yang diuraikan secara ringkas seperti diatas. Dan usahakan “point of interest” dari seluruh massa bangunan itu tertuju kepada masjid. Walaupun bangunan masjid tidak lebih besar dari masa bangunan ruang belajar, asrama dan bangunan penunjang lainnya, tapi setidak-tidaknya masjid harus menjadi titik pusat visual dari seluruh massa bangunan yang kita rencanakan itu. sehingga akan terpenuhinya teori perencangan arsitektur “form follow the function” dengan kata lain, tanpa melihat plank (papan) nama orang sudah dapat mengira, ooo ya.. bangunan itu pasti bangunan atau komplek pesantren,

    Begitu kira-kira Pak Mustamid.

    Wassalam

  17. arinna Berkata:

    ass.wr.wb

    masjid yg menjadi contoh kasus itu masjid raya sumbar yg di sayembarakan dan dimenangkan oleh arsitek, yg kebetulan arsitek tsb adl salah satu dosen sy.

    menurut saya, alangkah lebih baik apabila membahas desain masjid secara keseluruhan. saya membaca (bahkan mempelajari) konsep masjid tersebut dari portfolio-nya, dan sy menilai konsep tersebut sangat bagus. membuka mindset khususnya mahasiswa, umumnya masyarakat, bahwa bentuk masjid tidak harus selalu kubah.

    sebaiknya pak zulkifri mencari konsep masjid ini secara keseluruhan. rasanya tidak adil jika sebuah karya arsitektur dinilai tanpa tahu alasan perancangan dari arsitek yang bersangkutan.

    terimakasih

    wass.

  18. zulfikri Berkata:

    Wa’alaikumussalam, wr.wbr.
    Sdr. Arinna, yang saya hormati.

    Jadi kalau begitu, apakah “konsep Perancangan Arsitektur” yang dibuat tidak bermuara ke realita atau fakta bentuk arsitektur akan/telah didirikan ?

    Menurut saya membahas atau “mengapresiasi nilai seni arsitektur” suatu disain bangunan yang telah “JADI” tidak perlu terlebih dahulu melihat atau membaca dan mempelajari suatu konsep awal perencanaan arsitekturnya, justru sebaliknya dari hasil kajian (fakta lapangan) akan kita temui nanti benar atau tidak benar dari konsep perancangan tsb, atau mungkin juga akan terjadi konsep yang dibuat tidak dapat dilahirkan oleh “si arsitek” sesuai dengan konsep (mindset) “sang konseptor”.

    Sdr, Arinna, harus ingat sih !, namanya saja adalah “studi kasus”

  19. zulfikri Berkata:

    Tambahan tanggapan Sdr. Arinna, mengenai konsep: “bahwa bentuk masjid tidak harus selalu kubah”.

    Sdr. Arinna Ysh,

    Konsep “bahwa bentuk masjid tidak harus selalu kubah“. Saya dan orang lain tidak dapat menyalahkan konsep ini.

    Cuma saya dapat menyatakan bahwa ada konsep tentang nilai-nilai arsitektur yang diterima secara universal dan ada konsep yang tidak diterima secara universal.

    Contoh;
    Coba ajukan pertanyaan (quesioner) kepada khalayak awam, “Seperti apakah ciri-ciri dari bentuk atap mesjid ?” Nah, tidak dipungkiri lagi secara universal orang akan menjawab atapnya pakai kubah yang diatasnya ada lambang bulan bintang atau kaligrafi Allah. Jawaban yang beginilah menurut saya “konsep universal” untuk bangunan sebuah masjid selama ini.

    Seperti halnya bangunan masjid raya sumbar yang sdr nyatakan sangat bagus sehingga memenangkan sayembara, saya hanya menggolongkan kepada konsep disain masjid “amazing” yang konsep disainnya membutuhkan waktu sosialisasi yang lama untuk dapat diterima secara universal.

    Dari awal saya sudah tahu bahwa konsep dasar dari atap masjid raya sumbar adalah “replika kain persegi empat” yang dipergunakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk mengangkat “batu hajar aswad” yang roboh dan dapat diangkat bersama-sama ketempat semulanya, dikarenakan ada empat kabilah yang berselisih yang menyatakan lebih berhak untuk meletakkan kembali ketempatnya. Nah, kalau konsep yang begini menurut saya tentu cocoknya adalah konsep untuk atap bangunan pengadilan (penyelesaian masalah) agama islam, ya kan ?

    Memang betul, bahwa masjid tidak hanya berfungsi untuk sholat saja, tapi harus kita ingat bahwa fungsi utamanya masjid adalah untuk sholat, karena kegiatan inilah yang paling banyak dilakukan umat dalam sehari-hari, dan bagi kaum laki-laki perintah sholat berjamaah di masjid sangat kuat sekali dan diharuskan. Dan yang cocok menurut saya konsep masjid itu adalah “mereplikakan peristiwa “israk-mijraj-nya Rasulullah Muhammad SAW ke sidratilmuntaha” yaitu naik keatas menuju keagungan ilahi untuk menerima perintah shalat” sesuai dengan artikel diatas bentuk kubahlah yang paling cocok diterapkan.

    Demikian ulasan saya
    Wassalam.

  20. mulyadi Berkata:

    Assalamu alaikum
    mau coba gabung diskus yang menarik ini.
    banyak hal yang dapat dibahas lebih dalam dari gambar yang ditampilkan.Saya sangat setuju dg pendapat bahwa atap masjid tidak harus berkubah, karena memang kosep visual kubah tidak hanya berasal dari budaya Islam (lihat Atlas Budaya Islamnya Ismail faruqi atau Vastucitranya YB Mangunwijaya).Masyarakat kita saja yang sudah terkonstruksi “kubah adalah simbol masjid”.
    Perlu kiranya memahami masjid sebagai sebuah produk budaya, di mana artefak adalah bentuk luar dari konsep perilaku dan konsep pemikiran dari masyarakatnya (baca: arsitek perancangnya). Nah dengan dasarpemahaman budya inilah, perlu kiranya meninjau ulang desain menara yang melibatkan elemen simbolik bulan sabit pada masjid tsb. Bukan penerapan simbol bulan sabitnya, namun konsep tentang posisi kemiringan (atau bahkan mendatar ?..) dapat menyebabkan munculnya interpretasi masyarakat yang salah terhadap simbol itu. Misalnnya, rubuhnya bulan sabit (baca:Islam) atau lemahnya kedudukan bulan sabit tsb (baca:islam).
    Sejatinya, menara sangat kuat dalam tataran wujud sebagai indeks tanda (semiotik) adanya masjid bagi masyarakat, namun selain itu juga memiliki nilai makna yang juga kuat sebagai simbol li i’la li kalimatillah dan izzah Islam.
    Demikian, maka perlu kiranya memandang simbol sebagai sesuatu yang akan mempengaruhi aspek terdalam dari diri dan pikiran manusia, sehingga perlu kearifan dalam menerapkannya, jangan sampai mengganggu keyakinan masyarakat yang akan menjadi pemakainya.
    Tentang ornamen, memang permasalahannya hampir sama. pada masjid-masjid jawa (dibangun oleh institusi kerajaan ) dimana masyarakat saat itu sebagian besar penganut islam sinkretik, pada masjidnya diterapkan ornamen2 yang sudah menjadi perbendaharaan visual sejak masa Hindu (Majapahit atau sebelumnya). Contoh saja, pada langit2 tajug tertinggi masjid Agung Keraton Surakarta terdapat banyak ornamen diantaranya modang atau lidah api dari masa Majapahit, padahal tempat tersebut adalah tempat tersakral dalam arsitektur joglo. Penerapan elemen visual ornamen inilah yang ikut menyumbang pada terbentuknya suasana kehinduan pada masjid tersebut.
    Semoga dapat ikut mengembangkan khasanah fikir bersama.
    Wasalam

  21. galih w pangarsa Berkata:

    Asswrwb.,
    Salam untuk akhii Pak Zulfikri dan saudara-saudaraku lainnya. Saya dosen di UB, Malang, jurusan Arsitektur. Luar biasa, saya merasa menyesal baru mengetahui sekarang ada blog Pak Zul ini. Bila bapak kebetulan punya dan berkenan, saya mohon dikirim foto Masjid Qadafi. Sebetulnya Pak Ahmad Fanani arsiteknya saya kenal baik juga, tetapi rekaman nomor kontaknya hilang lenyap, karena HP saya rusak. Jazakumullaah khr-kts. Terimakasih banyak pak. Silakan berkunjung pula ke blog saya pak, mohon kritik dan saran.

  22. zulfikri Berkata:

    Pak Galih Ysh.
    Wa’alaikumussalam wr, wbr.

    Terima kasih saya ucapkan atas kunjungan Bapak di halaman blog saya ini.

    Adapun mengenai foto Masjid Muamar Qadafi yang terletak di komplek Majlis Zikir “Al-Zikra” asuhan ust. M. Arifin Ilham dapat Bapak lihat diwebsite klik :
    http://www.majelisazzikra.org/images/masjidqadaffi-.jpg

    atau :
    http://www.majelisazzikra.org/utama.php

    Untuk kontak dengan Bpk. Ahmad Fanani saya rasa dapat Bapak coba kontak di halaman website tsb diatas atau klik disini :
    http://www.majelisazzikra.org/kontakkami.php

    Ooo.. ya, saya telah mengunjungi blog Bapak [ http://arsitekturmuslim.blogspot.com/ ], banyak sekali referensi tentang Arsitektur Islam yang berupa artikel dan buku-buku.

    Semoga blog Bapak tsb dapat menjadi referensi atau acuan bagi arsitek-arsitek muslim terutama sekali dalam mendisain masjid dan bangunan institusi yang berkaitan atau berfungsi untuk kegiatan-kegiatan ke-Islaman, amin yaa rabbal alamin.

    Wassalam,
    Zulfkri

Tinggalkan Balasan