Juli 6, 2007
Oleh : Dewi Utama Faizah *)
Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua … Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Pendidikan |
Permalink
Ditulis oleh zulfikri
Juli 6, 2007
Mungkin peristilahan diatas terlalu umum. Biasanya Fatalism adalah suatu pengertian/paham bahwa setiap tindakan sudah ditentukan sebelumnya oleh Allah. Nama lainnya adalah Faham Deterministik (Jabariyah). Sampai ada joke : .Jangan2 Einstein pun dengan pernyatannya yang terkenal : “Tuhan tidak akan bermain dadu“, salah seorang penganut Jabariyah. Sedangkan lawan dari faham deterministik adalah Free Will (Qodariyah), setiap peristiwa berada pada kendali manusia sepenuhnya. Sedangkan Rasionalisme biasanya paham modus pengambilan kesimpulan/penilaian situasi bedasarkan daya nalar, tanpa eksperimen. Rasionalisme biasanya berseberangan dengan Empirisme, pengambilan kesimpulan yg didasarkan pada pengamatan dan eksperimen. Dalam paham Jabariyah, manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab, bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia, bukan Allah. Dalam paham Qadariyah, sekaitan dengan perbuatannya, manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya. Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Tausiah |
Permalink
Ditulis oleh zulfikri
Juli 6, 2007
Counter Liberalisme
Oleh: Thoriq Lc *)
Kalangan pro-Sipilis (Sekularisme, Pluralisme & Liberalisme) membolehkan orang melakukan tafsir sesuai kecenderungannya. Termasuk mengambil pendapat kalangan non Muslim? Benarkah dibolehkan?
Seorang penganut liberal telah mempublikasikan sebuah tulisan yang berjudul “Metodologi Berfatwa Dalam Islam”, katanya: “Setiap umat memiliki hak untuk mengikuti tafsir ala Sunni, ala Mu’tazilah, ala Syi’ah, ala Gus Dur, ala Cak Nur, ala kiai langitan, ala Jaringan Islam Liberal (JIL), ala Ahmadiyah, dan lain-lain. Wahai, serahkanlah kepada umat untuk memilih mana-mana tafsir yang terbaik untuk dirinya” (lihat, situs JIL, 23/9/2005).
Tampak jelas dalam penggalan di atas, si penulis memiliki pemahaman bahwa setiap orang boleh mengikuti tafsir siapa saja yang sesuai dengan kecenderungannya, tanpa ada rambu-rambu yang jelas, semuanya diserahkan kepada publik untuk memilih. Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Membedah Sekuler & Islib |
Permalink
Ditulis oleh zulfikri
Juli 6, 2007
Sabam Siagian *) 
Kolumnis harian The New York Times, Thomas Friedman yang luas sekali khalayak pembacanya di berbagai benua, dalam sebuah tulisan baru-baru ini mengutip sebuah buku karya Lawrence Harrison. Karya tersebut mengkaji dampak budaya sebuah bangsa pada dinamika politik dan pembangunan ekonomi di negara yang bersangkutan.
Si penulis tiba pada kesimpulan bahwa ada sejumlah bangsa-bangsa yang budayanya memang mendorong laju kemajuan (istilah bahasa Inggrisnya progress-prone). Tapi, menurut Lawrence Harrison, ada pula sejumlah bangsa-bangsa yang budayanya cenderung menghambat kemajuan (istilah bahasa Inggrisnya progress-resistance). Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Sosial Budaya |
Permalink
Ditulis oleh zulfikri
Juli 6, 2007
Oleh: Adian Husaini *)
Harian Republika, Kamis (5/1/2005) memberitakan aktivitas sebuah kelompok Kristen (Gideon) dalam mengirimkan Bible ke sekolah-sekolah dan universitas Islam serta pondok pesantren di daerah Ponorogo. Juga, diberitakan respon dari pemerintah (Dirjen Bimas Kristen Depag) dan kalangan tokoh Islam yang mengecam tindakan pengiriman Bible tersebut.
Berita itu lagi-lagi menunjukkan adanya masalah laten dalam hubungan antar umat beragama di Indonesia, yaitu masalah Kristenisasi, penyebaran misi Kristen ke kalangan Muslim. Pada satu sisi, bagi kaum Kristen, misi Kristen adalah misi suci yang wajib mereka emban. Baik kelompok Protestan maupun Katolik di Indonesia, sama-sama menegaskan, bahwa misi Kristen harus tetap dijalankan. Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Pendidikan |
Permalink
Ditulis oleh zulfikri