Mewujudkan Misi Politik Profetik Agama Publik Melampaui Pemikiran Islam Liberal

Juni 21, 2007

 

Yudi Latif

Setelah Orde Baru pudar, di bawah terpaan globalisasi dan kondisi-kondisi post-modern, gerakan-gerakan Islam di Indonesia menampilkan artikulasi yang berwarna-warni, heteroglosia. Menurut “Yudi Latif”, Islam literal di satu pihak, dan Islam liberal di pihak lain, keduanya adalah anak kandung modernitas yang masing-masing mengandung bibit-bibit fundamentalismenya sendiri. Artikel ini mengulas gerakan liberal Islam Indonesia di bawah nama JIL (Jaringan Islam Liberal), dan melihat bahwa gerakan ini makin bergeser ke kanan, lebih tertarik untuk melakukan penyesuaian politis terhadap kemapanan, menjadi sejenis fundamentalisme baru yang menolak keimanan dalam kehidupan publik, serta makin jauh dari tujuannya yang semula untuk pembebasan masyarakat. Islam liberal adalah liberalisme tanpa liberasi.
 
Yudi Latif adalah Direktur Eksekutif Reform Insitute. Meraih Ph. D dari Australian National University dengan disertasi berjudul “The Muslim Intelligentsia of Indonesia: A Genealogy of Its Emergence in the 20th Century.” Baca entri selengkapnya »


“BADAGANG JO MANGGALEH”

Juni 18, 2007


H Mas’oed Abidin  *)

“Badagang” bagi orang Minang sudah dikenal sejak lama. Malah dianggap “identik dengan sebutan yang melekat kepada “Orang Minang” itu. Karena bagi orang Minang, kiranya “Badagang” adalah suatu kebaikan, suatu idaman dan bukan suatu celaan. Di Minangkabau kata-kata “dagang” menyimpan banyak makna. Terkandung fasafah hidup yang utuh dan hidup. Dagang di Minangkabau, tidak hanya berarti “bussiness” (bisnis) tok. Kata ini bisa mengandung makna “marantau”, dengan tujuan yang pasti “mencari”. Bisa dalam arti sempit, sekedar mencari bekal untuk hidup sementara, bisa berarti mencari “kehidupan” dalam arti yang luas. Jadi jelas tidak hanya terbatas kebiasaan menyangkut (menggaet) materi semata. Bussines is only bussiness, kurang melekat di Minangkabau. Baca entri selengkapnya »


Paus dan Al-Qur’an

Juni 14, 2007

   
Oleh : Adian Husaini *)

icon_quran_pope.jpgKristen dan Paus menolak paham relativisme iman, aneh, jika kaum Muslim malah ikut-ikutan mengadopsi nilai-nilai relativisme dalam Barat.

Pada 17 Januari lalu, Surat Kabar New York Sun, menurunkan tulisan Daniel Pipes, berjudul The Pope and the Koran (Paus dan Al-Quran). Pipes, yang dikenal sebagai ilmuwan garis keras dalam memandang Islam, mengungkap pernyataan Paus Benediktus XVI tentang Al-Quran , dalam sebuah seminar tentang pemikiran Fazlur Rahman, pada September 2005 lalu.

Paus, seperti dikutip Pipes, dari Pastor Joseph D. Fessio, menyatakan, bahwa dalam pandangan tradisional Islam, Tuhan telah menurunkan kata-kata-Nya kepada Muhammad, yang merupakan kata-kata abadi. Al-Quran sama sekali bukan kata-kata Muhammad. Karena itu bersifat abadi, sehingga tidak ada peluang untuk menyesuaikannya dengan kondisi dan situasi atau menafsirkannya kembali. (There’s no possibility ofadapting it or interpreting it). Baca entri selengkapnya »


Pondasi : SISTEM CAKAR AYAM Lahir di Ancol

Juni 13, 2007

pondasi-catg.jpgPeranan pondasi turut menentukan usia dan ke stabilan suatu konstruksi bangunannya. Dalam dekade terakhir ini sistem pondasi telah berkembang dengan bermacam variasi. Tapi hanya sedikit yang menampil kan sistem pondasi untuk mengatasi masalah membangun konstruksi di atas tanah lembek.

Sistem pondasi yang konvensional, cenderung hanya di sesuaikan dengan besarnya beban yang harus didukung, tapi kurang mempertimbangkan kondisi tanah lembek. Akibatnya, bangunan itu mengalami penyusutan usia atau ketidakstabilan, seperti penurunan, condong, bahkan roboh. Hal itu tentu merugikan pemilik dan kontraktor bersangkutan.

Perlakuan yang seimbang antara beban dan kondisi tanah lembek perlu dipecahkan. Problema ini pernah dihadapi oleh Prof Dr Ir Sedijatmo tahun 1961, ketika sebagai pejabat PLN harus mendirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta.

Dengan susah payah, 2 menara berhasil didirikan dengan sistem pondasi konvensional, sedangkan sisa yang 5 lagi masih terbengkelai. Menara ini untuk menyalurkan listrik dan pusat tenaga listrik di Tanjung Priok ke Gelanggang Olah Raga Senayan dimana akan diselenggarakan pesta olah raga Asian Games 1962.

Karena waktunya sangat mendesak, sedangkan sistem pondasi konvensional sangat sukar diterapkan di rawa-rawa tersebut, maka dicarilah sistem baru untuk mengatasi masalah itu. Lahirlah ide Ir Sedijatmo untuk mendirikan menara di atas pondasi yang terdiri dari plat beton yang didukung oleh pipa-pipa beton di bawahnya. Pipa dan plat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram tanah lembek secara meyakinkan. Baca entri selengkapnya »


Peran atap dalam arsitektur : SEBAGAI SIMBOL MARTABAT BANGUNAN

Juni 11, 2007

masjid tua minangkabauAtap, suatu elemen bangunan yang sangat berperan dalam menentukan ciri dan bentuk bangunan. Bicara mengenai atap pada masa sekarang, apalagi untuk bangunan barigunan tinggi, tentunya gambaran yang ada ialah atap datar dengan bentuk arsitektur modern ataupun post-modern.

Padahal, bila ditinjau asal mulanya, arsitektur tradisional kita hanya mengenal atap miring sebagai pelindung dan pada dasarnya atap diperlukan untuk melindungi kita dari cuaca. Dengan demikian, bentuk atap pun juga tergantung dari cuaca/iklim. Dan memang bentuk miring atap ditujukan antara lain untuk menyalurkan curah hujan agar cepat turun. Dengan membandingkan dengan bentuk-bentuk atap di daerah Mediterania, yaitu daerah dengan iklim sub-tropis, dimana hampir tidak ada curah hujan. Justru itu, bentuk atapnyapun cukup dibuat datar saja, asal bisa membentangi jarak antara dinding dindingnya. Pada perkembangan selanjutnya, muncul bentuk-bentuk lengkungan karena jarak bentang yang semakin jauh. Bahkan bentuk lengkung ini juga dipakai, walaupun jarak bentang tidak terlalu jauh. Baca entri selengkapnya »